Showing posts with label Dream. Show all posts
Showing posts with label Dream. Show all posts

Sunday, March 14, 2021

Beasiswa atau biaya sendiri? #Day14

Beberapa waktu yang lalu aku sempat terpikir untuk lanjut kuliah S3 di Malaysia sambil bekerja. Aku berusaha untuk mencari beberapa kesempatan beasiswa yang ada di sini. Tapi, setelah aku pikir-pikir, kalau aku ambil program beasiswa, aku tidak bisa sambil bekerja di perusahaanku saat ini. Aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan perusahaanku. Akhirnya, alternatif lainnya adalah untuk kuliah part-time. Aku mencari dan mengumpulkan informasi dari beberapa universitas di sini yang menawarkan program S3 part-time di bidang pendidikan atau bahasa. Sayangnya, mereka tidak membuka program S3 part-time untuk mahasiswa internasional, hanya untuk lokal. 

Momen ini mengingatkan aku dengan beberapa tahun yang lalu ketika aku ingin sekali bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah ke luar negeri seperti LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), Chevening, Fullbright, Australia Awards dana beberapa lainnya yang aku sudah lupa. Sayangnya tidak ada yang lolos. Setelah satu tahun bekerja dan sambil berjuang mendaftarkan diri ke program beasiswa di beberapa universitas dan tidak lolos, aku memutuskan untuk lanjut kuliah S2 dengan biaya sendiri di UIN Jakarta. Waktu itu aku sambil mengajar part-time di English First (EF) Pondok Indah dan di Sampoerna Academy dengan penghasilan yang lebih dari cukup untuk membayar biaya kuliahku dan sebagian aku sisihkan untuk tabungan. Akhirnya, aku berhasil lulus di tahun ketiga. Not bad!

Hal ini juga mengingatkan aku di detik-detik setelah aku lulus SMA. Beberapa guruku mengkhawatirkanku dan beberapa kali menanyakan kemana aku akan melanjutkan kuliah. Mereka sangat berharap aku bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggiiversitas karena mereka sangat tahu kemampuanku dari beberapa prestasi yang aku capai di dalam dan di luar kelas selama di sekolah. Aku ingat saat itu aku coba mendaftarkan diri ke program beasiswa Universitas Bakrie dan mengikuti tesnya. Aku diterima dengan sejumlah potongan biaya pendidikan, tidak sepenuhnya dibebaskan. Saat itu juga aku merasa bahwa aku tidak akan mampu. Selain Universitas Bakrie, aku hanya mencoba ke Sampoerna School Education (SSE) yang sekarang jadi universitas almamaterku yang selalu aku banggakan. Saat itu juga ada salah seorang guru yang menawarkanku untuk ikut beasiswa Bidik Misi ke IAIN Raden Intan Lampung, tetapi aku tidak menanggapinya karena aku hanya ingin kuliah ke Jakarta. Aku tidak ingin di Lampung lagi. Oya, waktu itu aku sempat mempersiapkan pendaftaran untuk beasiswa ke Universitas Al-Azhar juga tetapi tidak aku selesaikan karena aku merasa tidak mantap sepenuhnya dengan beberapa program yang ditawarkan seperti Bahasa Arab, Tafsir dan beberapa ilmu Islam lainnya. 

Seperti itulah perjuangan untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan keterbatasan biaya. Terkadang aku menjadi salah satu orang yang beruntung dan mendapatkan pengurangan ataupun pembebasan biaya pendidikan di sekolah, dan ada kalanya aku kurang beruntung dan tidak mendapatkannya di tingkat universitas. Tapi, caraku sekarang dalam melihat situasi saat ini sudah berbeda, menunda-nunda waktu untuk melanjutkan pendidikan karena terus mengejar beasiswa bukanlah satu-satunya pilihan. Pertanyaannya adalah, bukankah kita bisa kuliah dengan biaya sendiri?

Kuliah dengan biaya sendiri mendorong kita untuk semakin bekerja keras untuk bisa membayar biaya pendidikan dan pada saat yang sama belajar dengan sungguh-sungguh agar tidak menyia-nyiakan uang yang sudah dibayarkan dengan memaksimalkan kesempatan dan fasilitas di tempat perkuliahan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Intinya dengan kata lain tidak mau rugi. 

Kuliah dengan biaya sendiri bukan berarti kita lebih rendah atau tidak sebagus mereka yang mendapatkan beasiswa. Mereka yang berhasil mendapatkan beasiswa merupakan beberapa orang cerdas dan pintar yang beruntung diantara banyak orang cerdas dan pintar lainnya di luar sana. Bagus atau tidaknya seseorang itu bukan tergantung pada siapa atau bagaimana biaya kuliah dibayar, tapi tergantung pada keingingan dalam diri yang kuat untuk menjadi pribadi pembelajar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Kuliah dengan biaya sendiri bisa sesuka hati melakukan apapun yang diinginkan setelah lulus. Aku terpikir hal ini ketika tahu ada beberapa teman yang kuliah dengan beasiswa yang di berikan pemerintah, tetapi akhirnya memilih untuk melanjutkan karir di bidang atau di tempat yang bisa memberikan banyak keuntungan untuk dirinya sendiri. Meski demikian, pastinya ada banyak juga yang mengabdikan diri ke masyarakat dengan segala keterbatasannya. Anyway, intinya adalah dengan kuliah berbiaya sendiri kita bisa dengan leluasa mengepakkan sayap sesuai keinginan di manapun dan di bidang apapun. 

Tidak lucu kan kalau kita menunda-nunda atau bahkan sampai tidak melanjutkan pendidikan hanya karena tidak juga mendapatkan beasiswa.  Jadi, untuk kalian para pejuang beasiswa, kuliah dengan biaya sendiri masih selalu bisa menjadi alternatif pilihan. Kalau menurut kalian bagaimana?


Thursday, March 11, 2021

Apa ada cita-cita terlambat? #Day11

Di sekolah sering sekali ada pertanyaan "Apa cita-citamu?" sejak Taman Kanak-kanak (TK), sampai Sekolah Dasar (SD), sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP), sampai Sekolah Menengah Atas (SMA), dan bahkan sampai di tingkat universitas. Jujur, dari sejak kecil aku tidak pernah tahu aku ingin jadi apa. Aku selalu merasa bingung untuk menjawab pertanyaan ini. Ujung-ujungnya aku hanya meng-copy apa yang teman-temanku sebutkan di kelas. Ada yang ingin jadi dokter, pilot, guru. Alhasil, cita-citaku berubah-ubah terus. Ya, sederhana saja, karena memang aku tidak tahu ingin jadi apa nantinya. Sempat aku berpikir kenapa aku tidak punya cita-cita, mungkin karena Bapak dan Mamak memang tidak pernah menyebutkan atau mengarahkan profesi-profesi tertentu untuk jadi cita-citaku.

Sampai suatu ketika aku sempat ingin jadi motivator seperti Mario Teguh dan beberpa motivator lainnya yang bisa berbagi pelajaran-pelajaran hidup dan membangkitkan semangat para pendengar untuk menjadi pribadi lebih baik dan terus punya keinginan untuk belajar. Tapi, keinginan itu terhenti ketika ada salah satu teman, aku lupa siapa tepatnya, dia bilang kalau aku perlu punya sederetan prestasi atau kesuksesan terlebih dahulu sebelum menjadi seorang motivator untuk didengar. Kalau aku nya saja tidak berprestasi atau tidak sukses, kenapa orang lain harus mendengar dan mengikutiku? Ya, ada benarnya juga. Saat itu juga aku langsung mencoret kenginginanku untuk jadi motivator. Kenapa? Karena aku tidak ingin jadi orang yang punya ambisi besar untuk mencapai kesuksesan ataupun prestasi yang besar dan sebanyak-banyaknya hanya karena aku ingin jadi motivator yang didengar oleh banyak orang. Aku merasa hal ini kurang tepat. Tidak klik di hati. Sepertinya keinginan untuk jadi motivator ini muncul ketika aku ada di tingkat SMA.

Sampai di tingkat universitas, aku bertemu dengan beberapa dosen perempuan yang menyandang gelar Professor, yaitu Prof. Rosa dan Prof. Paulina. Menurutku, sangatlah keren dan hebat untuk kedua perempuan ini menyandang gelar tersebut. Contoh yang nyata langsung aku temukan di kehidupan ini. Aku ingin jadi seorang Professor juga seperti mereka. Contoh nyata ini membuktikan bahwa seorang perempuan pun bisa menjadi sosok kuat dan mandiri dengan intelektual tinggi. Oiya, terlebih lagi kedua Professor perempuan hebat ini mencerminkan pribadi yang sangatlah bijak dan meneduhkan ketika mengajar dan berinteraksi dengan kami semua mahasiswanya. Selain itu, aku pun pernah suatu ketika secara tidak sengaja mendengar kedua perempuan hebat ini bercakap-cakap dengan Bapak Rektor dan beberapa dosen lainnya. Dan aku langsung jatuh cinta ketika mereka memanggil kedua perempuan hebat ini dengan panggilan 'Prof'. Sangatlah keren. Bukan Mbak, Ibu, Ms., Mrs., atau Mam, tapi Prof. Aku langsung jatuh cinta, dan lagi-lagi aku ingin sebutkan kalai aku ingin jadi seorang Professor. Cita-citaku, ingin jadi professor (Ingat lagu ini?)

Saat ini aku sudah menyelesaikan pendidikan S2, dan pastinya aku perlu melanjutkan studiku ke tingkat S3 kalau aku memang benar-benar ingin meraih mimpiku untuk menjadi seorang Professor. Jujur, aku tidak tahu bagaimana caranya ataupun syarat-syarat nya apa saja. Beberapa waktu yang lalu aku sempat menerjemahkan satu artikel penelitian tentang evaluasi beberapa profesor di kampus UIN Jakarta, dan seingatku persyaratan mendasarnya adalah menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pelaksanaan pendidikan, penelitian dan pengabdian. Apakah aku serius dengan cita-citaku ini? Iya, pastinya aku serius, tapi tidak serius-serius banget. Biasa saja sambil melakukan apa yang bisa dilakukan. Tulisan ini adalah pengingatku kalau masih ada hal yang ingin aku capai supaya aku terus bergerak maju untuk belajar dan meningkatkan kemampuan diriku. Apalah arti hidup ini kalau sudah tidak ada lagi harapan dan semangat untuk terus belajar dan belajar.  


Agak panik tapi berusaha tenang - Wed, 12 Aug 2026

Pagi alarm bunyi jam 7. Tapi mager. Akhirnya bangkit jam 8 kurang. Sikat gigi, cuci muka dan mulai aktifitas. Agenda hari ini analisa data a...