Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Wednesday, March 3, 2021

Makna dalam Passion dan Kesuksesan #Day3

Siapa sih yang tidak ingin sukses?

Aku, kamu, kita semua ingin sukses. Menariknya adalah kita memiliki gambaran kesuksesan yang berbeda dan juga cara berbeda untuk mencapainya. Titik temuanya adalah kita sama-sama ingin sukses, dalam berbagai bentuk dan rupa saat dibayangkan, karena kesuksesan itu secara tidak sadar kita menyamakannya dengan kebahagiaan. Aku sukses sama dengan aku bahagia. Lagi-lagi, ujung-ujungnya adalah untuk jadi bahagia. Itulah yang dicari-cari semua orang. Makanya ada film yang judulnya The Pursuit of Happiness. Aku tidak bisa paparkan ringkasan filmnya di sini karena sudah sangat lupa. Aku menonton film itu lebih dari tujuh tahun yang lalu. 

Baiklah, berbicara soal kesuksesan, aku sempat menyimpar 2 bagian video yang aku tonton di Youtube tepatnya tanggal 29 September 2019. Aku lupa dari mana aku menemukan video ini saat itu, tapi aku memang suka menonton video dari TED. Kenapa kedua bagian ini aku simpan? Karena mencakup inti penjelasan yang disampaikan pembicara dan aku setuju dengan gagasannya. Saat itu juga aku berencana untuk membuat tulisan tentang idenya ini untuk aku hubungkan dengan bagaimana aku memahaminya. Alhasil, baru sekarang aku bisa menuliskannya. Akupun perlu cari lagi di Google dulu nih supaya bisa mengingatkan kembali isinya secara utuh. Kamu bisa tonton di sini.

Gambar pertama mencakup 8 ciri yang dimiliki orang-orang yang sudah mencapai kesuksesan di karir mereka. Ini merupakan hasil penelitian dan interview yang Richard St John lakukan. Kedelapan ciri itu adalah: mencintai apa yang kamu lakukan (love what you do), bekerja dengan sangat keras (work really hard), fokus pada satu hal, bukan semua hal (focus on one thing, not everything), terus dorong diri sendiri (keep pushing yourself), muncul dengan ide-ide bagus (come up with good ideas), terus tingkatkan diri dalam hal yang dilakukan (keep improving yourself on what you do), layani orang lain dengan hal yang bermakna karena kesuksesan bukan hanya soal diri kita sendiri (serve others something that values, success isn't just about me me me), pantang mundur karena tidak ada kesuksesan dalam semalam (persist, no overnight success). Selebihnya, para orang sukses mengembangkan kemampuan mereka dalam bidang-bidang tertentu seperti technical skills, analytical skills, people skills, creative skills, management skills, dan computer skills


Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa tahu kalau suatu hal itu adalah passion kita. Nah, di bagian ini aku teringat dengan buku yang sebelumnya pernah aku baca, Man's Search for Meaning oleh Viktor E Frankl. Seperti yang kita kenal dan ketahui bahwa sebuah passion adalah hal yang kita cintai dan kita sukai untuk dilakukan. Di bagian ini aku mencoba mengaitkan bahwa, kita bisa mencintai suatu hal tertentu karena ada sebuah makna tersendiri di dalamnya untuk diri kita. Maka dari itu, mungkin ada beberapa orang yang melakukan sebuah pekerjaan yang sama dengan passion yang sama tapi memaknainya dengan cara yang berbeda. Makna ini sangatlah personal karena terkait erat dengan perasaan yang melekat. Ketika kita sudah menemukan sebuah makna dalam suatu hal, kita akan mencintai dan mencurahkan segala daya dan upaya didalamnya, dan akan terus merasa bahagia meskipun ada banyak rintangan dan kesulitan yang menghadang. 

Pertanyannya, bagaimana sih kalian memaknai apa yang kalian lakukan saat ini? Share di kolom komentar, ya. 

Tuesday, March 2, 2021

Kelas Bahasa Indonesia (BIPA) untuk Penutur Bahasa Melayu #Day2

Hari ini adalah hari pertama aku mengajar Kelas Bahasa Indonesia untuk dua orang Malaysia yang bekerja sebagai staf penjualan di salah satu perusahaan di Malaysia. Lho, kenapa penutur Bahasa Melayu perlu belajar Bahasa Indonesia? Bukankah sama saja? Aku sering sekali menemukan orang yang mengira bahwa Bahasa Indonesia sama dengan Bahasa Melayu. Ya, mungkin ada beberapa yang sama. Tapi, tidak dipungkiri ada beberapa hal juga yang berbeda. Jadi, lebih tepatnya, kedua bahasa tersebut 'mirip', bukan 'sama'. Salah satu perbedaannya adalah dari beberapa kosa kata yang sama-sama dimiliki kedua bahasa tersebut, tetapi maknanya berbeda. Contoh: kereta (Bahasa Indonesia) berarti 'train', tetapi kereta (Bahasa Melayu) berarti 'car'. Sesederhana itu, tapi dampaknya besar. 

Sebelum aku memulai kelas Bahasa Indonesia ini, aku meminta pihak perusahaan untuk mengadakan sebuah rapat supaya aku bisa mengumpulkan beberapa informasi tentang tujuan, kebutuhan dan harapan dari kelas yang akan diadakan. Pihak perusahaan menyambut baik dan kami pun berdiskusi secara online yang dihadiri oleh manajer bagian penjualan, kedua staf penjualan atau calon murid, dan perwakilan dari HRD (Human Resource Department). Pada intinya, tujuan dari adanya kelas ini adalah untuk membantu kedua staf tersebut mengenal  dan memahami perbedaan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu supaya mereka dapat berkomunikasi dengan para pelanggan dengan baik dan tepat. Ada beberapa catatan yang aku buat selama rapat ini, diantaranya bagaimana menggunakan ungkapan tertentu di situasi tertentu lewat telepon atau email, bagaimana menggunakan sapaan Bapak atau Ibu yang tepat, bagaimana sistem penulisan alamat di Indonesia, dan masih ada lagi beberapa catatan kecil lainnya.

Berikut adalah rangkaian kegiatan dalam kelas pertama yang aku berikan hari ini

Perkenalan: Di sesi ini aku minta mereka untuk membuat sebuah kata dari setiap huruf dalam nama panggilan mereka. Kata yang dibuat harus berkaitan dengan pekerjaan atau lingkungan kerja. Misal: SITI - Sosial Internasional Teknologi Izin. Setelah mereka selesai dengan kata-kata yang di dapat, mereka menjelaskan kenapa kata tersebut berhubungan dengan pekerjaan atau tempat mereka bekerja.

Tentang pekerjaan: Selanjutnya, aku menanyakan "Apa saja tugasmu sebagai staf penjualan?" Mereka menjawab di antaranya adalah bernegosiasi dengan pelanggan dan melayani pelanggan (customer service). Aku minta masing-masing menjelaskan dengan lebih rinci tugas-tugas tersebut. Setelah itu, pertanyaan selanjutnya adalah tentang seberapa sering mereka melakukan beberapa tugas lainnya di bagian penjualan. Ternyata, sejauh ini mereka belum pernah menerima keluhan dari pelanggan karena mereka masih cukup baru, dan mereka pun belum pernah pergi ke pameran dagang, pastinya karna masa pandemi saat ini. 

Tentang perusahaan: Setelah berbicara tentang pekerjaan mereka, aku juga ingin tahu tentang perusahaan dimana mereka bekerja "Apa yang kamu ketahui tentang perusahaanmu?". Tapi, karena sepertinya ini akan memakan waktu yang cukup lama, jadi aku minta mereka untuk mempersiapkannya di rumah dan dipresentasikan di pertemuan selanjutnya. 

Beberapa istilah dalan penjualan: Di pertemuan kali ini aku masih menggali lebih dalam seberapa banyak pengetahuan, pemahaman dan kemampuan mereka menggunakan kosa kata Bahasa Indonesia di bidang pekerjaan yang mereka lakukan. Oleh karena itu, aku masih lanjutkan dengan menyajikan beberapa istilah di bagian penjualan untuk mereka diskusikan dan jelaskan seperti: volume penjualan, target penjualan, promosi penjualan, pajak penjualan dan lain-lain. 

Pekerjaan Rumah (PR) tentang pameran dagang: Di bagian akhir kelas pertama ini, aku memberikan kedua murid tugas untuk menjawab pertanyaan terkait pameran dagang (trade fair), diantaranya: pernah atau tidak mengunjungi sebuah pameran dagang, apa pendapat mereka tentang pameran dagang dalam menjalankan sebuah bisnis, dan yang paling penting untuk dibahas di kelas selanjutnya adalah, bagaimana mereka bisa menjalin kontak baru di sebuah pameran dagang.

Ini baru kelas pertama, tapi sudah ada banyak sekali hal yang kami, aku dan kedua muridku, pelajari, terutama sederetan kata yang selama ini mereka masih ragu untuk menggunakannya. Oya, salah satu hal lain yang aku temukan dari pertemuan ini adalah ada banyak sekali kosa kata atau istilah bahasa Inggris yang sudah dipakai secara umum di Malaysia, tetapi tidak di Indonesia. Jadi, ini menjadi tantangan tersendiri untuk kedua muridku, dan juga untukku memastikan bahwa terjemahan yang aku berikan adalah yang paling tepat digunakan di bidang terkait. 

Ini baru awal, masih ada kelas-kelas berikutnya lagi. 



Saturday, February 27, 2021

Pursuing an international career: Why not?

How did I start?

About the end of 2018, I started thinking about working abroad, especially in Malaysia. There was no specific reason or motivation why. It was simply because I was in a relationship with someone who was at the time working there and I thought it would be a good idea if I were also there so that we could be together. He was the one who told me that he found many Indonesians working in Malaysia, so it would be possible as well for me to work there. Since then I started to look for a job in Malaysia for Indonesian speakers. Why 'Indonesian speakers' became a keyword? It was because I am a native speaker of the Indonesian language and this skill is what others from other countries don't have despite my educational background and working experience that I had. As far as I remember, I applied to many job vacancies available on Google starting from those on the public job portals such as Jobstreets and Linkedin to those on the outsourcing company portals such as Manpower (he was hired by this company anyway) and Kelly and many others.
 
The offer to work in Malaysia came a few times, maybe around three times, but the other two did not go well maybe because my educational background and/or working experience was irrelevant. As far as I remember, they needed someone who has an educational background in business. Finally, the third time I got an offer and an interview by phone was arranged. Guess what? I had the interview on a bus from the airport to my rent room in Jakarta. I was on my way back to Jakarta from my hometown in Lampung. Unexpectedly, my flight delayed for about one or two hours. Well anyway, it went well. I got the offer the next day by email and I said yes right away. Was I excited? yes, but I was not too excited because my boyfriend vanished in January with no reason until at that time. Nevertheless, I was sure I would be okay in Malaysia without him. I changed my purpose and motivation for going, not because of him, but because I wanted to get more experience in life and if possible to continue my Ph.D. there. For your information, after a week of my arrival, I was thinking about inviting my ex for a cup of coffee. Unfortunately, it turned out he got married already. With who? With an Indonesian girl from Wakatobi. The worse part was that they got married on April 21st, my birthday when I was flying to Malaysia. Anyway, the ticket I had was supposed to be a two-way ticket for a short vacation in Malaysia to be with him celebrating my birthday, but no one knew what would happen next, right? I came here to Malaysia for work and just let the other ticket go because it was not refundable. It was a cheap flight ticket for a vacation promo that kind of thing. 

What's my background?

At that time, I had graduated from my Master's program a few months earlier, exactly in August 2018, and I started teaching in a university (where I studied for a bachelor's degree) as an English instructor starting in October. At the same time, I was still teaching part-time at English First Pondok Indah, Jakarta. So, it was a big decision for me to make at that time leaving the English teaching career that I had had in Jakarta in the last 8 and almost 9 years (since 2010, the second year of my bachelor's as an English private teacher). Especially at that time, I was an English instructor in a university a.k.a lecturer. I really love my students. We were like friends sharing stories and learning together. I also loved my colleagues who always had stories about many things such as other colleagues, teaching materials, and even about our students. Haha. We had a name for students, like good-looking ones, annoying ones, naughty ones, cool ones. Sadly, I was just there for one semester. I still remember that one day my supervisor, Ms. Widdy, asked me if I was sure about my decision and what I would actually do here in Malaysia. Honestly, I had no clear idea at that time and I just said whatever written there in my job descriptions. How it would look like? No idea at all. But, life must go on. I was ready to take another challenge leaving my comfort zone in Jakarta and to have another fight in Malaysia. Just like what I did before, leaving Lampung and fighting in Jakarta. Just like when I left my village to the capital city Bandar Lampung to fight for my high school. One fight after another I take. What for? I am not even sure what it is for? but what I am sure of is that a lot to learn in every single step I take.

Many things have happened since I graduated from Sampoerna School of Education, now well known by Sampoerna University with more faculties, not only education. I started teaching at Rumah Bahasa only for a few months then decided to leave due to its unprofessional HR management. Then found an opportunity on the internet, again not sure where it was from, I applied to English First and got hired. I still remember that the HR person Ms. Pram thought I was a model because of my previous school names, MIN Model (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) and MAN Model (Madrasah Aliyah Negeri). In fact, this word 'Model' was to represent that the school was a role model for other schools in the region. It's funny, isn't it? after one year of teaching there I started getting bored and no challenge in my routine so I decided to continue my Master's degree part-time at UIN Jakarta (Universitas Islam Negeri). Well, the distance was not far from my rent room, to EF and to UIN, with my motorbike. During my master's, I tried to take this opportunity as much as I could, especially to do things that I couldn't do during my bachelor's. One of them is to present some papers of the assignments at some international conferences and to request the university to financially support me. Well, not bad, I went to Malang, Singapore, and Thailand supported by UIN. Other than that, I actively contributed to the student council conducting some projects such as TOEFL and TOAFL preparation classes for master students there considering they needed to pass the minimum score to graduate. Also, recognizing me in attending some international conferences, some lecturers in my faculty sought my assistance to be a part of the committee in international conferences conducted by UIN. It was great that I could get the experience not only as a participant or a presenter but also as a committee member. Because of my close interaction and relation with the lecturers there, I was awarded as the best master's student in 2016 in the faculty. Oh, last, I got involved in some research projects with Ms. Ratna and Ms. Desi. A lot of things I did, right? 

Any challenges I got through?

Well, the very first challenge was to find a place to stay. Luckily, I knew a friend from an English community that I joined a long time ago www.speaking24.com. He was studying for his Ph.D. in Malaysia. Surprisingly, there was a vacant room at his unit. The old tenant just moved out a month before, so I took the room. The problem was that I was not familiar yet with the surrounding, especially the distance from this place to my office and any transportation available. It turned out, its location was quite far. It got even worse because my work schedule is uncommon. I work in shifts, morning, middle, and night, and the schedule changes every three months. I am sure it would be much easier at that time for me if I knew someone from Indonesia (especially female) staying in Malaysia who could help me. Yes, at that time I had a friend but I didn't want to trouble him too much. What I thought in the first place was that so as long as I found a place to stay, then that's fine. After three months of staying there, my transportation expense was quite much so I decided to leave the place. You know what? I didn't know and I wasn't familiar with the tenant agreement at that time which some say the minimum period of stay is 6 months. The thing was that he didn't tell me clearly about the terms and conditions. Finally, I gave him one month's notice, left the place, and moved to a room at an apartment near to my office. See? It's complicated.

Another challenge was the currency. I needed a calculator most of the time when I wanted to buy something to at least compare and contrast the buy value between here and Indonesia so I could decide if it was cheap or expensive to buy something. Seriously, it was not easy. Each currency has its own value attached to the general values applied in its country or region at least. A higher price here in Malaysia does not always mean it is more expensive than it is in Jakarta. It may have a higher price but the value is just the same in the general value applied to the people and community here. Anyway, I am not good at talking about money and I may confuse you here. But, the thing is it is difficult to decide if something cheap or expensive. Even until now. That's why I don't think too much anymore about it now. I get tired of it. I will get what I need. That's all. haha. I don't care if there might be some friends who have been here long before me making some jokes on how stupid I am to buy certain stuff at a certain price which they may consider to be too expensive. I don't care. It's fucking difficult. Oh, by the way, now the currency from RM 1 is Rp 3,500, or in other words, 1 x 3. But, in my mind what's written is not like that, simply I put 3 zeroes at the back. Let's say I buy a snack costs RM 2, what I have in mind is like Rp 2000, which is totally possible to make me broke because in fact it actually costs Rp 7.000. Can you see what I mean?

Here comes to me dealing with the people here Malaysians or those who look like Malay. Most people think that Bahasa Indonesia and Bahasa Melayu are the same. I'd personally rather say that they are similar, not the same. If they are the same, they are totally and exactly and absolutely and definitely the same. Well yes, some are the same, but some others are different. This difference sometimes makes me confused whether I better speak Bahasa Indonesia or Malay or even in some situations English. A few times I tried speaking in Malay, but the person I talked to could easily notice it and right away think that I am Indonesian from my accent. There was nothing wrong with it of course. But, by then they would refer to me as a low-educated person who works as a housemaid and does not know English. How do I know? From the questions that they asked me. It's terrible, isn't it? At the other time, I spoke in English, especially with Chinese because even some of them sometimes do not know Malay. The thing is that there was a time when I spoke English and the person I talked to started asking where I was from. As soon as he knew that I was from Indonesia,  he started preaching about language saying that it was disrespectful to speak in English, not in Malay or Bahasa Indonesia in Malay land. So, what should I do then? Tell me.
 
The next challenge is when I had to deal with the diversity around me, especially at the workplace. LGBTQ is something common among colleagues and superordinates. It was my first time dealing with people who openly declare themselves to have a certain gender identity or sexual orientation. I am okay with that. We are all humans living together in this world, so let's be human. The thing is that there might be at some point where I am confused about what stand should take in how much support I would give them. Sometimes there is some kind of contradiction between what I believe to be a human and what I believe to be a Muslim. But anyway, despite all diversities at the workplace, we get along and work together really well for the best performance. Let the personal preferences be personal, and together be professional. 

How do I survive?

This job is a job that I have never done before, but I believe that I can always rely on my educational background and working experience. In the first few months, I tried very hard to get to know how things work exactly at the workplace. Any mistakes I made? A lot. Many times. But, each mistake I made let me learn things one by one. I observed and learned until I got the main idea of what it wants from me at doing the job, especially in terms of quality and quantity. What kind of quality I should have and how much quantity I should do. Trials and errors I have been through. Did I ever feel like giving up? Of course. Many times. It would be much easier for me to get back to school teaching lovely and fun students, right? But here I am not a teacher. I am a totally new student in a new work environment. If I can be a good student here, I will definitely be a good teacher here as well.

Other than my work, there are surely things out of my control coming from the management side. Some decisions are made changing from time to time, sometimes with a notice in advance and some other times in short notice. Well, what more to expect? No matter I go, in which institution or company I work for, the change would always be there. It was one of many things I remember from what Sir Anddy said (my supervisor in LRC SU). Any changes are the dynamics and what I always believe is that change happens for a reason, or maybe some reasons. Sometimes I know it, sometimes I don't, even though there must be some kind of feeling within me wondering why certain things happen. Well, we can't force ourselves to know everything, right? So, what I can do is to always see the big picture of something and its bright side in dealing with any dynamics. Some say that it may be me who may lose, but who cares? I don't care. Well, I may care, but that's none of my control and none of my business. The story would be different if I still have a chance or a way to fight for it. Anyway, as long as I live, I am happy and grateful for what I have and keep doing a good job. 

To work abroad does not mean to earn only money but also a lot more than that. After three months working here, I started thinking about teaching. I missed teaching so much. It took me to Myprivatetutor Malaysia on the internet where I could register myself as a teacher of English and Bahasa Indonesia, and connect me to students. Until now I have got students from Italy, Korea, German, and even Malaysia. It's interesting, isn't it? Other than teaching I still got involved in a research conducted by Ms. Ratna and Ms. Desi on Indonesian migrant workers in Malaysia and Singapore. I tried to find some Indonesian migrant workers organizations in both countries. Here, I started to be in touch with Edukasi Unntuk bangsa (EUB) and International Domestic Workers Federation (IDWF). Before the pandemic came, I voluntarily taught English conversation with Ibu Sri to Indonesian migrant workers. Sadly, no more classes until now because of the pandemic, and the school SIKL (Sekolah Indonesia Kuala Lumpur) is closed. In IDWF, I have been actively involved in some events as an interpreter for Bahasa Indonesia and/or English. These opportunities have made me in close contact with Indonesian migrant workers family here. It is great. Some of them are elder than me who treat me just like their daughter and little sister, and some of them are younger than me whom I consider like my little brothers and sisters. Additionally, I joined some voluntary teaching programs conducted by my company Accenture in collaboration with  Teach for Malaysia and SOLS 24/7, which allows me to broaden my network here as well as share knowledge and impact. These all are self-rewarding. 

So, for those of you thinking about going to work abroad, why not?

-----------

Last January I was invited by my old university, Sampoerna University, to share my experience of working abroad with the students there. I was with my other two friends, Agnes and Sahlan, who are also working in another country, Agnes is in Malaysia and Sahlan is in Thailand. It was an honor and a pleasure for me. May they and you all find this information useful. Here are the PPt slides. 


Tuesday, February 16, 2021

How struggling are Domestic Workers (DWs) in Indonesia?

In 2004, there was a woman named Sunarsih, a 14-year-old girl who worked as a domestic worker in Surabaya, Indonesia. She ate only a package of instant noodles a day, had no day off, slept on the upper floor where clothes were usually hung to get them dry. One day she was starving and took some rice from the kitchen. It was a bad day for her as her employer found it out. She got beaten and her neck was tied at the staircase until finally, she died on Feb 12th. The worst thing is that her family didn't even know about it. How could anyone know? she could not even talk to her family. She was blocked from the outside world by her employer. What an inhumane person her employer was! Her death was uncovered on Feb 15th and since then this day became the National Domestic Worker's Day to commemorate her death. 

And guess what? What happened to Sunarsih didn't stop there. There are still many other DWs in Indonesia, including those who work abroad, experiencing abuses and exploitations by their employers. Some of them may be fortunate to be employed by a generous and kind employer. But, shall we rely on 'fortune' here? I don't think so. What is still happening out there to DWs is that they work for long hours. It is like they must be ready 24 hours at anytime their employer needs them to do anything. They start their work as soon as they wake up and only stop when they get to bed late at night. What a pity situation they are having! Worse than that, they have no weekly rest or let's say day-offs. Then, we can tell that they work 24/7. And, what about the salary? no specific rule which regulates how much their minimum salary is so that the employer can pay them as much as they want to give as long as the DWs say yes. Anyway, who would say 'no', most of them come from poor families with a low level of education, what more to expect than some money to support their family. These are not all, there still have been many cases and stories in which DWs face a number of abuses mentally, physically (just like what happened to Sunarsih), sexually, and economically (what I mentioned about salary). From all of these, we can see that, DWs do not get their rights as workers, are not even recognized and treated as workers. Is this what we call slavery in this modern era? 

I am amazed for knowing that there are many activists working together with some NGOs to fight for the rights of DWs. What they want is simply that they do not want other DWs to become another 'Sunarsih'. There are around 4 million DWs in Indonesia (the biggest DWs provider in Asia) and more than 80% of them are women, even in some cases some children under 18 are also employed. One of the big efforts that they have done is by formulating and drafting the Bill of DWs' Protection to be proposed to the Parliament to be enacted. In addition, there have been a lot of campaigns held to support the ratification of ILO (International Labour Organization) Convention - 189. What about now? Is there any progress? Sadly not at all. Even though the Bill was ready in 2004, the changing of government period every five years have a big impact on its' process to be passed. Can you believe it? It has been 17 years. In addition, it seems there have been some conflicts of interest in the Parliament to enact this law. One of the concerns in this issue is that, since it is mentioned in the Bill that the government must provide social security for the DWs, it means the government must spend pay for its expenses which results in an increasing national budget. Anyway, to fill this gap, Indonesia's Ministry of Labour launched Ministerial Regulations to at least provide some protections for DWs and to minimize any abuses, violations, and exploitations by the employers. It starts by providing the definition of DW along with the requirements and job descriptions. But still, it is not strong enough. Also, the implementation of these regulations is still not well done by respective stakeholders. In other words, it is questioning.

I am very proud of the Phillippines which has done a great job in protecting their citizens who work as DWs in their country as well as those who work abroad with laws namely Batas Kasambahay. In addition, the Philippines ratified ILO C-189 which covers the labor standards of decent work for DWs in 2012. The existence of this law has been beneficial not only for DWs as workers but also for employers.

Now, the question is how much longer must DWs wait? Hopefully, we hear good news in March from the National Legislation Program (Prolegnas) in the Parliament. 

---------

Two days ago, Monday, February 15th, 2021, I was invited to be an interpreter (from Bahasa Indonesia to English) at an online event Webinar on Cross-border Exchange: Paving the Way to Decent Work for Domestic Workers in Indonesia and Phillippines. This event was held by the International Domestic Workers Federation (IDWF) in collaboration with JALA-PRT (National Network for DWs' Advocacy) and UNITED (a National Union of DWs in the Phillippines) to commemorate the National Domestic Worker's Day in Indonesia. The speakers of the event representing NGOs and government from Indonesia such as Tunas Mulia DW Union, Indonesian Women Congress (KOWANI), Golkar Party, Nasdem Party, Maju Perempuan Indonesia, and from the Phillippines such as Congressman of the Philippines, DOLE (Department of Labour and Employment) of the Phillippines, and ILO Geneva. 

Monday, February 8, 2021

Ngaji (Keadilan Gender Islam)

Di bulan Ramadhan kemarin aku ikut Ngaji KGI (Kajian Gender Islam) yang disampaikan oleh Ibu Nur Rofiah. Aku tertarik untuk belajar tentang gender ini di awal Ramadhan dan minta rekomendasi Zakia, teman masa SMA yang aku perhatikan bergerak aktif di bidang hak perempuan. Pas sekali Ngaji KGI membuka pendaftaran untuk ngaji terbatas lewat Skype selama 4 hari berturut-turut. Ini Seri 1 katanya, ternyata ada seri 2 dan 3. Di sini aku ingin cerita sedikit rangkuman dan refleksi ku di masing masing sesi. Karena waktu itu masa ramadhan dan aku juga hadir ngaji sambil kerja, jadi catatan ku mungkin tidak terlalu lengkap dan mungkin ada beberapa hal yang terlewat. Ditambah lagi kebetulan koneksi internet di rumah terkadang ngadat.

Ngaji KGI Seri 1
Di awal sesi ini Ibu Nur memaparkan secara detil dan satu per satu hal mendasar dalam memahami konsep keadilan gender yang nanti akan dibahas lebih lanjut. Memang secara fisik atau biologis perempuan dan laki laki berbeda sejak dari sononya dibuat sama Tuhan dan memang harus diakui dan diterima begitu adanya. Ternyata perbedaan ini yang akhirnya menjadi penyebab dalam kehidupan sosial dalam bagaimana memperlakukan keduanya. Sayangnya, perlakuan yang banyak terjadi adalah ketidakadilan yang diberikan ke perempuan. Padahal tidak ada sangkut pautnya antara peran dalam hubungan sosial itu dengan perbedaan fisik pada perempuan. Beberapa isu ketidakadilan dalam sejarah pun disampaikan oleh beliau sejak zaman kerajaan romawi, beberapa yang terjadi di Eropa, Inggris, India dan bahkan hingga saat ini pun masih terjadi banyak perdagangan perempuan tanpa kita ketahui atau sadari. 

Pada salah satu bagian, disebutkan bahwa ketidakadilan ini terjadi karena adanya sitem patriarki yang dianut oleh masyarakat dimana perempuan diposisikan sebagai objek bagi garis keras atau perempuan sebagai subjek sekunder bagi garis lunak. Dan dalam hal ini, kesetaraan yang dimaksud adalah dengan menempatkan keduanya (laki-laki dan perempuan) sebagai sesama subjek kehidupan.

Dalam sistem patriarki, berbagai ketidakadilan terhadap perempuan yang muncul diantaranya berupa pandangan bahwa perempuan sebagai sumber fitnah (stigmatisasi), adanya nikah paksa (marjinalisasi), perempuan sebagai objek seksual (subordinasi), kekerasan baik di dalam maupun luar rumah, dan berbeban ganda dengan bertanggung jawab atas urusan domestik sekaligus publik. Di sini, ada kecenderungan menjadikan pihak yang lebih kuat dalam sebuah relasi sebagai standar bagi pihak yang lemah. Misal mayoritas ke minoritas, dewasa ke anak-anak, orang muda ke orang sepuh, non difabel ke difabel.

Sejauh ini sudah ada beberapa tindakan yang berpihak ke perempuan seperti ada gerbong kereta khusus perempuan, cuti hamil dan/atau menstruasi. Terlepas dari upaya tersebut, perempuan dan masyarakat perlu sama-sama siap untuk mewujudkan keadilan yang hakiki dalam pengalaman kehidupan sosial. 

Ngaji KGI Seri - Relasi Gender dalam Bahasa Arab
Sangat menarik. Ibu Nur memulai pembahasan ini dengan menunjukkan Surah Al-Ikhlas dalam versi Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab. Dalam Bahasa Inggris hanya terlihat penggunaan He untuk merepresentasikan Allah didalam surat ini. Kata ganti He dalam Bahasa Inggris digunakan untuk menunjukkan laki-laki, meskipun tidak bisa pula kita katakan bahwa Allah itu laki-laki. Kemudian dalam Bahasa Indonesia, terjemahan yang ada tidak ada indikasi yang menunjukkan ke perbedaan gender laki-laki ataupun perempuan, yaitu Dia. Menariknya, dalam bahasa arab sendiri, terdapat 12 kata didalamnya yang bisa diidentifikasi untuk menunjukkan gender perempuan ataupun laki-laki. 

(Penjabaran di atas adalah rangkuman dari Sesi 1 dan sedikit dari Seri 2 saja. Sepertinya aku tidak membuat catatan di seri-seri berikutnya. Sayang sekali)

Bahasa Indonesia ramah gender
Setelah mengikuti serangkain seri Ngaji KGI ini, aku merasa beruntung karena udah terlahir di negara Indonesia terutama karena dari segi bahasanya pun gak membedakan antara laki-laki dan perempuan secara ekstrim. Karena iya juga sih, ketika bahasa yang digunakan aja udah mengandung pembedaan-pembedaan terhadap kelompok tertentu, ketidakadilan pasti akan rentan banget terjadi. Contoh, Bahasa Jawa Kromo Inggil itu versi Bahasa Jawa yang dipakai untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau orang yang punya status lebih tinggi dari segi jabatan. Nah, ini nih salah satu hal yang masih melekat kuat di aku dan orang-orang Indonesia, yaitu memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada kelompok tua ini dan mungkin banget penyalahgunaan kekuatan dan kekuasaan oleh mereka terjadi. Alhasil, kelompok yang lebih muda dan/atau yang punya posisi jabatan lebih rendah kemungkinan mendapatkan ketidakadilan. 

Keluargaku adil
Selain itu, aku juga merasa beruntung karena sudah terlahir di keluargaku. Bapak dan Mamak selalu memberikan dukungan penuh ke enam anaknya (dua laki-laki dan empat perempuan) untuk terus melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya, terutama dukungan buatku. Ada penilaian masyarakat terhadap perempuan yang tidak serta merta ditelan begitu saja oleh Bapak dan Mamak. Contoh yang pertama, masyarakat pada umumnya memandang bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena pada akhirnya mereka akan jadi ibu rumah tangga. Tapi, Bapak dan Mamak yakin bahwa derajat seseorang akan diangkat oleh Tuhan ketika dia beriman dan berilmu, entah itu laki-laki ataupun perempuan. Jadi, Bapak dan Mamak tidak pernah sungkan untuk memberikan izin ke aku untuk kuliah S1 dan S2, bahkan nanti S3. Semua itu untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Contoh yang kedua, aku sekarang sudah berusia 28 tahun dan belum menikan, bahkan adik perempuanku (26 tahun) sudah menikah dua tahun lalu. Bapak dan Mamak tidak pernah sama sekali bertanya soal kapan aku akan menikah, karena mereka paham dengan baik bahwa pernikahan bukanlah persoalan usia, tapi lebih pada kesiapan dan kemantapan diri. Tapi, hampir semua tetangga selalu menanyakan hal yang sama, "Kapan nikah?". Secara tidak langsung hal ini menunjukkan suatu persetujuan tak tertulis yang ada di masyarakat, yaitu perempuan harus sudah menikah di usia-usia tertentu. 

-----

Setiap kali aku mengikuti pertemuan Ngaji KGI, ada banyak sekali pelajaran dari refleksi diri dan observasi yang aku lakukan pada waktu itu. Sayangnya, aku tidak sempat menuliskannya secara langsung. Jadi, sekarang sudah banyak yang terlupa. Itulah mudahnya hilang ingatan, makanya perlu dituliskan secepat mungkin ketika muncul. Dasar manusia!

Sunday, August 11, 2019

Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) - Bagian 2

Setelah pertemuan pertama menggunakan satu set flashcard yang sudah aku bagikan di post yang lalu, aku melanjutkan mengajar dengan materi yang aku buat berdasarkan hasil pengamatan dan analisaku sebelumnya. Aku memutuskan untuk mengajar dengan menggunakan sebuah percakapan dalam situasi tertentu di lingkungan bisnis, diikuti dengan pengenalan beberapa kosakata baru yang digunakan dalam percakapan, dan sebuah ungkapan yang bisa digunakan dalam situasi tertentu.

Seperti biasa, sebelum merancang sebuah materi, aku menjelajahi Google. Siapa tahu ada materi serupa yang bisa aku pakai. Sayangnya, setelah mencari-cari, hanya ada sedikit materi BIPA di internet yang memang khusus dibuat untuk tujuan bisnis. Bahkan, sebagian besar materi BIPA yang diterbitkan oleh Kemendikbud bertema umum dan menuruku akan kurang sesuai jika aku gunakan untuk bahan mengajar muridku pebisnis muda yang tampan itu. Disinilah aku berusaha untuk 'mengakali' bagaimana supaya bisa mendapatkan materi yang sesuai dengan apa yang aku butuhkan; di lingkungan bisnis (karena memang inilah tujuan dasarnya), tidak terlalu panjang (karena durasi hanya 1 jam), sederhana (karena si murid pasti sudah lelah dengan segala urusan di tempat kerja), bermakna dan kontekstual (supaya lebih mudah untuk diingat dan digunakan).

Contekan dari materi Bahasa Inggris
Tidak seperti Bahasa Indonesia, materi pembelajaran Bahasa Inggris di lingkungan bisnis sangatlah banyak dan bervariasi. Setelah menjelajah di internet, aku memutuskan untuk mengambil satu sumber yang ada, https://www.talkenglish.com/video/business-conversation-video.aspx. Di website tersebut ada beberapa pilihan situasi percakapan, tetapi aku hanya memilih yang kiranya sesuai dengan kebutuhan. Kemudian, aku terjemahkan percakapan ke dalam Bahasa Indonesia dengan beberapa penyesuaian seperti pilihan kata, penggunaan ungkapan, dan tentunya nama karakter, supaya lebih terasa ke-Indonesia-annya.

Menentukan kosa kata baru
Setelah aku buat transkrip video percakapan dalam Bahasa Indonesia, aku ambil beberapa kosa kata baru dalam percakapan tersebut untuk aku ajarkan ke si murid. Aku tebalkan kata-kata tersebut dalam teks percakapan dan aku cantumkan daftar kosa kata tersebut di bawah teks percakapan disertai arti dalam Bahasa Inggris.

Menerapkan beberapa ungkapan 
Dari teks percakapan yang ada, aku kemudian menentukan ungkapan apa yang bisa aku jadikan fokus pembelajaran dalam menggunakan Bahasa Indonesia di lingkungan bisnis. Adakalanya ungkapan yang aku gunakan memang ada dalam teks percakapan, tetapi ada kalanya pun tidak ada. Meski demikian, aku berusaha untuk selalu memberikan penjelasan bagaimana ungkapan tersebut bisa ditemukan dalam berbagai situasi.

Berikut adalah beberapa materi yang sudah pernah aku gunakan. Teman-teman pun bisa coba menggunakannya.
Bertemu Rekan Kerja Baru dan Bertemu Klien Baru - Permintaan Izin
Merencanakan Rapat - Memberikan Saran
Persiapan untuk Perjalanan Bisnis - Menanyakan Pengalaman

Oya, materi diatas aku buat berdasarkan kebutuhan si murid, jadi tidak serta merta berurutan begitu. Bahkan, selama mengajar pun aku tidak berhenti mengamati, menganalisa dan mencatat hal-hal apa yang perlu aku ajarkan dipertemuan- pertemuan berikutnya.

Monday, July 22, 2019

Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) - Bagian 1

Sampai saat ini, aku sudah hampir sebulan bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia sebagai Content Analyst. Karena profesi ini sangatlah berbeda dengan profesiku sebelumnya, jadi ada banyak hal yang perlu aku pelajari lagi untuk menyesuaikan diri. Terlepas dari semua lika-liku yang aku hadapi selama proses beradaptasi, aku mulai merasa rindu mengajar, terutama anak-anak kecil yang lucu. Karena kerinduanku itulah, aku mulai terpikir untuk coba mengajar privat di sini. 

Dulu, ketika di Jakarta, aku mulai mencari murid untuk aku ajar dengan tergabung di beberapa Facebook Groups pencari guru privat. Nah, di sini aku awali dengan Googling 'english private tutor malaysia'. Dari temuan pencarianku, aku tertarik dengan website MyPrivateTutor Malaysia dan buat akun di sana. Setelah menjadi salah satu member tutor, akupun mulai dapat tawaran mengajar, salah satunya adalah seorang murid lelaki muda dan tampan yang berasal dari Italia yang ingin belajar Bahasa Indonesia karena dia seringkali berkunjung ke Indonesia untuk urusan bisnis. 

Awal bulan Juni yang lalu, aku sudah mulai mengajar. Kami sepakat untuk belajar di cafe lantai dasar apartemen tempat dia tinggal. Menurut informasi dari si murid, sebelumnya dia sudah pernah belajar Bahasa Indonesia tetapi masih sangat dasar dan ingin mulai belajar lagi. Oleh karena itu, aku terpikir untuk memulai pertemuan pertama dengan membuat sekumpulan flashcards sederhana yang berisi beberapa kosa kata beserta gambar dengan menekankan pengucapan pada masing-masing huruf dari A sampai Z. Dengan flashcards ini, saat itu aku harap bisa menggali lebih jauh kemampuan Bahasa Indonesia si murid pada saat itu sehingga memudahkan aku untuk membuat rencana pembelajaran di pertemuan-pertemuan berikutnya. Aku tumpuk flascards jadi satu dan minta si murid untuk ambil satu persatu. Kemudian, aku minta dia untuk baca kata yang tertulis di kartu dan menebak arti kata tersebut berdasarkan gambar yang ada. Nah, setelah itu aku memberikan beberapa pertanyaan sederhana menggunakan kata yang tertera dan si murid terpaksa harus menjawab. Batas kemampuannya bisa aku ketahui dari seberapa paham dia dengan pertanyaan yang aku berikan dan bagaimana dia menjawab.

Teman-teman bisa akses flashcards yang sudah aku buat di sini. Oya, aku buat flashcards ini merujuk pada beberapa bahan ajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 





Saturday, May 4, 2019

Bekerja di Negeri Jiran, Malaysia

Di kantor tempat aku bekerja, sebuah tempat bimbingan belajar Bahasa Inggris di Jakarta, ada beberapa guru yang berasal dari negara lain seperti Australia, Inggris, Amerika, Kanada dan lain-lain. Beberapa dari mereka datang ke Indonesia untuk bekerja pertama kalinya di negara lain. Ternyata sebagian lainnya sudah pernah bekerja di beberapa negara lainnya sebelum datang ke Jakarta. Sempat aku terpikir, wah mereka datang jauh-jauh dari negara nya ke Indonesia, ke tempat aku bekerja, dengan meninggalkan segala apa yang sudah di miliki di sana. Sepertinya akan seru juga kalau aku bisa pergi ke negara lain untuk melakukan hal yang sama. Anggap saja seperti uji nyali, seberapa kuat aku akan menghadapinya. Alhasil, sekarang aku sudah dua minggu tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia. Pastinya, ada proses yang harus aku lalui sampai pada saat ini, dari masa mencari pekerjaan, penantian, proses seleksi, dan mengurus segala dokumen untuk mendapatkan visa.

Tahap pencarian
Setelah aku mulai mempunyai keinginan untuk bekerja di negara tetangga, aku mulai mencari berbagai peluang pekerjaan yang ada di internet. Berdasarkan saran seorang teman yang sudah bekerja disana, aku memulai dengan mengirimkan resume ku ke beberapa halaman recruitment agency seperti Manpower dan ada beberapa lagi lainnya, aku lupa. Waktu itu aku coba ketik di Google 'recruitment agency Malaysia'. Selain itu, aku juga membuat akun di beberapa website untuk para job seekers seperti Jobstreet dan banyak lainnya. Oya, di beberapa website recruitment agency, aku coba mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlianku dan cukup didukung dengan pengalaman kerjaku. Aku membuat akun dan memasukkan daftar riwayat hidup (CV) di website tersebut. Jadi, sewaktu-waktu ada lowongan yang kira-kira sesuai, akan ada staff yang menghubungi dan menawarkan posisi pekerjaan yang ada.

Tahap menunggu
Setelah aku memasukkan resume ke beberapa website, aku perlu menunggu sampai nanti aku akan dihubungi. Sembari menunggu ada tawaran yang datang, aku masih melakukan aktifitas seperti biasanya di pekerjaan dan kesibukan yang aku lakukan pada saat itu. Karena aku tidak pernah tahu kapan tawaran pekerjaan akan datang, jadi aku berusaha bersabar dan optimis sambil menjalani apa yang ada. Menunggu bisa jadi membosankan kalau hanya mencurahkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk hal yang ditunggu, tapi menunggu pun bisa jadi menyenangkan dan bahkan lebih bermanfaat kalau diisi dengan bangyak hal-hal yang tidak sia-sia.

Ketika ada lowongan kerja yang sesuai dengan klasifikasi yang aku punya, perusahaan menghubungiku melalui email dan telepon untuk menanyakan apakah aku tertarik dengan posisi yang ditawarkan. Di tahap ini, aku bisa memilih untuk memberikan jawaban apakah aku tertarik atau tidak. Suatu saat, pernah aku mendapatkan tawaran untuk bekerja berkaitan dengan akuntansi. Meskipun aku tidak punya pengalaman tertentu di bidang ini, aku merasa mungkin aku bisa mencoba. Jadi, aku jawab iya. Sayangnya proses tidak berlanjut karena mungkin pihak perusahaan mengkaji kembali kemampuanku di bidang ini. Dan lagi, aku kembali di tahap ini, menunggu.

Tahap rekrutmen
Setelah tawaran yang sesuai datang dan aku juga tertarik, proses selanjutnya adalah tahap rekrutmen. Perusahaan akan menanyakan melalui telepon tentang gaji yang diharapkan dan kapan bisa mulai bekerja. Aku juga diberikan kesempatan untuk bertanya terkait keuntungan apa saja yang diberikan selama aku bekerja. Setelah cocok, aku dijadwalkan untuk wawancara telepon terkait pekerjaan yang nanti akan aku kerjakan. Pihak rekrutmen akan mereview hasil wawancara dan memberikan keputusan apakah diterima atau tidak secepat mungkin. Waktu itu, aku diberikan kabar sehari setelah wawancara. Pihak HR (Human Resource) pun kemudian mengirimkan dokumen kontrak untuk aku pertimbangkan dalam waktu kurang lebih seminggu. Dokumen tersebut perlu dicetak, ditandatangani, diskan, dan dikirimkan kembali ke pihak perusahaan. Dalam hal ini, aku tidak perlu tergesa-gesa,. Aku harus baca dengan baik kontrak yang ada dan tanyakan ke pihak perusahaan jika ada hal-hal yang perlu diperjelas. Meski demikian, semakin cepat aku mengirimkan kembali kontrak, semakin cepat proses selanjutnya.

Tahap mengurus visa sebelum keberangkatan
Tahap selanjutnya, perusahaan akan mengalihkan perihal visa ke pihak ke tiga, atau biasa disebut agen. Tapi, agen ini bukan yang receh yah, mereka sangat profesional dan kredibel dalam menangani urusan visa. Aku menerima email mengenai beberapa dokumen yang diperlukan untuk mendapatkan visa kerja (Employment Pass). Agen memberikan jangka waktu tertentu untuk kelengkapan dokumen yang diperlukan, kurang lebih 2 minggu. Akan tetapi, lagi-lagi, aku upayakan semua dokumen yang diperlukan segera dipersiapkan supaya bisa segera diproses. Setelah semua dokumen lengkap, agen akan mendaftarkan nama ku ke MDEC (Malaysia Digital Economy Corporation). Kemudian MDEC akan mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa aku diizinkan masuk ke Malaysia untuk bekerja di perusahaan yang aku tuju. Setelah aku menerima surat itu, aku diminta untuk mendaftar Single Entry Visa (SEV) ke MDEC yang ada di jakarta. Meskipun orang Indonesia bisa masuk ke Malaysia dengan visa turis gratis selama 30 hari, aku tetap harus mendapatkan SEV sebagai syarat untuk mendaftar EP nantinya. Setelah SEV keluar, aku segera skan dan mengirimkan ke agen untuk kemudian diproses lebih lanjut.

Tahap mendapatkan visa kerja (EP)
Selanjutnya, aku memberikan konfirmasi ke pihak agen kapan akan terbang ke Malaysia dengan mengirimkan tiket pesawat. Aku diminta untuk sudah sampai di Malaysia seminggu sebelum tanggal mulai bekerja yang tertulis di kontrak. Setelah sampai, aku mengantarkan paspor ke kantor agen yang nantinya akan ditempel visa EP setelah proses selesai. Selama proses ini berlangsung, aku harus punya fotokopi atau foto paspor jika sewaktu-waktu diperlukan. Proses ini berlangsung kira-kira 3 hari. Aku mengambil paspor kembali ke kantor agen. Dan selesailah proses yang panjang ini.

Beitulah kurang lebih tahapan untuk memulai karir di Negeri Jiran Malaysia dari masa pencarian, menunggu, proses rekrutmen, persiapan visa sebelum berangkat dan visa EP setelah kedatangan, dan kemudian barulah mulai bekerja. Salam semangat dan sukses untuk kita semua.



Saturday, September 9, 2017

Judging Someone is Judging You

Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak terlibat lagi dalam program ini. Apakah ini berarti aku terlalu angkuh? Atau mungkin aku pecundang? Bisa jadi. Tapi, apapun penilaian pihak-pihak yang tahu akan hal ini, dalam hal ini aku bisa memilih dan inilah pilihanku.
-----
Hari ini adalah hari kedua aku menjadi pengajar sukarela (volunteer) di sebuah Sekolah Dasar Islam (SDI) daerah Tangerang Selatan. Aku diberikan amanah untuk mengajar dua kelas dalam sehari. Alhamdulillah, hari pertama yang lalu berjalan dengan lancar. Aku sangat berterimakasih kepada seorang temanku yang sudah berbagi informasi kesempatan untuk mengajar di sini. Menjadi bagian dari sebuah kegiatan sosial seperti ini merupakan sebuah langkah giving back to community yang selalu diajarkan dan ditanamkan kampus almamaterku.

Di kedua kalinya inilah aku bertemu dengan ketua koordinator program yang biasa disapa dengan Ms. X (nama samara) untuk pertama kali. Semuanya berjalan ala kadarnya dan sewajarnya pertemuan pertama,. Kami saling memberikan salam. Setelah Ms.. X menutup pintu mobilnya, aku menyebutkan namaku sambil mengulurkan tangan menjabat tangan Ms. X. Kami (aku, temanku dan Ms. X) pun mulai sibuk memeriksa kesiapan masing-masing kelas yang akan diajar.

Sampai ada saatnya aku terkejut dengan respon si Ms. X.

Ms. X: Fitri, Ms. Z is absent today. Could you please cover her class for today?
Me: Yes, sure. As long as I'm told what the class is and any topics I have to cover, so no problem.
Ms. X: Fitri, please don't  take it seriously. It is not something serious. So, don't be too serious. Relax. We are here as volunteers. Teaching here is not like you teach at where you are teaching. And I don't like it when you say "as long as I'm told", please don't say that to me.
Me: Oh, alright. I'm sorry. I apologize for what I have just said.

What the hell is she talking about??!! Aku kaget, bingung, dan merasa serba salah.

Peristiwa yang cukup singkat tapi tajam ini membuatku berpikir kembali, lagi dan lagi. Aku sama sekali tidak bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh si Ms. X ini. Responnya sama sekali jauh di luar bayanganku. Bahkan sepertinya keluar konteks pembicaraan. Disinilah aku menemukan adanya jurang pemisah antara aku dan Ms. X. Kok bisa? Ya aku juga tidak tahu. Berasa aja gitu.

*Mungkin kutipan di atas tidak 100% seperti apa yang terucap, tapi kurang lebih begitulah isinya.

-----

Ketika anak-anak sudah berdatangan dan menuju kelas masing-masing, maka dimulailah sesi belajar. Pertama aku mengajar di kelas intermediate anak-anak kelas 6. Kelas berikutnya adalah pre-basic anak-anak kelas 1. Sebisa mungkin aku mengemas materi pelajaran sedemikian rupa, lebih tepatnya santai dan menyenangkan, seperti yang selalu Ms. X bilang. Di kelas intermediate aku membuat dua pos: pos 1 "I like..." dan pos 2 "I don't like...". Di papan tulis, aku tuliskan beberapa nama buah-buahan dan menanyakan satu-per-satu "Do you like....?", maka si anak harus lari ke pos jawabannya masing-masing. Di kelas kedua, anak-anak mempraktikkan perkenalan "What is your name?" dan "My name is....". Untuk mendapatkan giliran, aku memberikan arahan kepada anak-anak untuk berbaris dalam satu barisan dengan dua orang di bagian depan saling berpegangan tangan dan diangkat keatas untuk dilewati barisan itu (permainan ini biasa dikenal dengan nama Ular Naga; kata anak-anak). Sambil bernyanyi Eeny Meeny Miny Moe, barisan melewati kedua anak yang berpegangan tangan dan ketika nyanyian berhenti maka satu anak dari barisan tertangkap. Di saat itulah si kedua anak menanyakan "What is your name?" dan yang tertangkap menjawab "My name is ...".

Selama di dalam kelas, aku mendapati Ms. X beberapa kali memasuki kelasku dan menyaksikan bagaimana proses belajarnya. Terutama di kelas kedua, Ms. X bahkan sempat berinteraksi juga dengan anak-anak di kelasku itu.

-----

Ms. X: Fitri, can I talk to you for a minute before you leave?
Me: Yes, sure.

Disinilah inti dari tulisan ini, yaitu sederetan nasihat yang diberikan oleh Ms. X. Aku akan coba untuk mengelompokkannya dan mengurutkannya.
  • Saya kaget pertama kali melihat kamu memasukkan tangan di saku blazer kamu. Mungkin kamu tidak bermaksud, tetapi itu menunjukkan bahwa kamu ingin memberi tahu semua orang bahwa kamu lebih daripada yang lain. It shows that you are arrogant. Hey people, I am better than you so stay away from.Body language yang seperti ini menciptakan jarak. Selain itu juga ketika kamu tadi berbicara dengan saya didepan pintu dengan posisi berdiri seperti ini dan kaki seperti ini (Ms. X mempraktikkannya dengan berdiri sedikit bersandar ke tembok dan menekuk santai salah satu kaki, entah yang kanan atau kiri, aku lupa; dan ya memang aku begitu), itu pun menunjukkan bahwa kamu itu lebih hebat dari yang lain. First impression itu kan penting yah. Dan itulah kesan pertama saya ketika bertemu kamu. Mungkin kamu tidak bermaksud tapi begitulah orang lain menilai.
  • I'm teaching ethical business, jadi saya tahu bagaimana cara bersikap dan berperilaku dengan etika yang baik, bagaimana menarik simpati dan perhatian orang lain kepada kita. Karena sebelum membuat orang lain tertarik kepada produk kita, kita harus membuat orang tertarik dulu dengan diri kita dengan nyaman berbicara sehingga orang itu pun penasaran dan ingin tahu tentang produk yang ditawarkan.
  • Saya tahu kamu dari A (nama temanku), jadi saya mebayangkan kamu itu punya sikap dan perilaku seperti dia yang begitu lembut dan baiknya. Kan kita kalau mau menilai seseorang bias dengan melihat temannya, lingkungannya. Makanya saya terkejut ketika bertemu kamu pertama kalinya dengan perilaku yang jauh berbeda dengan yang saya bayangkan.
During her speech, what I said was sorry and thank you. That's all. But of course I showed also appreciation for how much attention she has paid to me during that day.

Anyway, selain hal diatas itu, Ms. X juga panjang lebar menceritakan siapakah dirinya,  perjalanan karirnya, dan juga perjuangannya melaksanakan program ini. Dan, Ms. X juga mengungkapkan bagaimana orang-orang di sekitarnya (her workplace) menunjukkan respect and honour to her behaviour and attitude. Well, I'm not a kind of person who'd value myself as much how people value me. Oya, selama percakapan ini juga Ms. X berulang kali meminta maaf jika apa yang dia katakana kurang berkenan di hatiku.

And, setelah mencermati kembali setiap nasehat yang diberikan, aku jadi terpikir.
  • Kesan pertama bisa jadi penting, tapi kesan pertama bukanlah segalanya. Apalagi kalau kesan pertama ini disimpulkan dari bagaimana Bahasa tubuh seseorang. Bukankah ada banyak faktor yang mempengaruhi seseorang dalam berbuat sesuatu, entah itu secara internal ataupun eksternal. Jangankan pengamatan sehari, hidup bersama teman berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun pun masih bisa jadi salah dalam memahami sikap seseorang. Lagipula aku meyakini bahwa kita tidak bisa membuat semua orang senang dan bahagia dengan keberadaan dan apa adanya kita, dan aku pun tidak mau memaksakannya. Yang bisa aku lakukan adalah memahami bagaimana diriku dan bagaimana orang lain itu, sehingga dengan segala perbedaan dan persamaan, kami bisa saling mengerti dan memahami untuk mencapai tujuan bersama. Dan menurutku, dengan Ms. X bersikap seperti ini menunjukkan bahwa dia ingin semua orang mempunyai tata karma atau tindak tanduk yang sama seperti apa yang dia yakini. Padahal, beda tempat, beda waktu, beda orang, tindak tanduk itu bisa diartikan dan diterima dengan berbeda-beda.
  • Setiap orang mempunyai gaya dan selera masing-masing dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Sebagai seorang guru, akupun punya gaya dan seleraku tersendiri yang bisa jadi berbeda dengan guru lain. Yang jelas, guru tidaklah dan bukanlah pegawai sales marketing yang berusaha mendekati customer supaya tertarik dengan produk yang ditawarkan. Secara pribadi aku menilai bahwa mereka itu bersikap so sweet ya karena memang seperti itu mereka seharusnya sambil menerapkan strategi-strategi pemasarannya dalam menarik minat pembeli. Lagipula, ini kan menarik simpati dan ketertarikan sesaat. Lain lagi sebagai seorang guru, butuh waktu yang lama sekali untuk bias menjalin hubungan dengan para murid. Nah sebagai manusia biasa, memang kenapa aku harus bersikap dan berperilaku supaya semua orang yang aku temui tertarik? Terus, kalau mereka tidak tertarik, kenapa? Haruskah aku ajak mereka berbicara empat mata supaya mereka tertarik? Hidupku sudah terlalu sibuk dan aku tidak mau lebih menyibukkan diri dengan salah satu tujuan hidup "disukai semua orang". If you like it, lets' rock and if you don't like it, just leave it. Simple.
  • Ms. X membandingkan aku dengan temanku. Aku sempat meng-iya-kan pernyataan nya bahwa kita bisa menilai  seseorang dari siapakah teman-temannya atapun dimanakah lingkungannya. Dan dalam hal ini, lingkunganku bersama temanku itu hanyalah satu diantara banyak lingkungan lainnya dimana aku berada, tumbuh, belajar dan berkembang. Duh, bukannya masih ada banyak faktor lainnya juga yah yang mempengaruhi kepribadian seseorang? (lagi-lagi secara internal maupun eksternal).
-----
Apalah artinya sebuah pengalaman tanpa adanya refleksi diri untuk perbaikan di masa mendatang. Beberapa hal yang aku pelajari adalah:
  • Sebaik dan semulia apapun motivasinya, jangan pernah serta merta memberikan komentar mengenai bagaimana seseorang bersikap atau berperilaku, apalagi pada pertemuan pertama. Bisa jadi, bahkan kemungkinan besar penilaian itu kurang tepat sehingga bisa menyinggung perasaan si penerima.
  • Ketika ada seseorang atau kelompok yang tidak sejalan atau ada ketidaksesuaian dan masih ada kesempatan untuk memilih (apakah bertahan atau pergi), pergilah, karena masih ada banyak orang dan tepat di luar sana yang menerima dengan senyum lebar dan pelukan hangat.
*Setiap manusia tidaklah terlepas dari kesalahan, begitupun aku.




Monday, August 14, 2017

Literally Blind-dating

"Are you free today."
"So far yes. What's up?"
"Wanna join in? A blind-date."
"Seriously? Nice. I might gonna find my best match there."
----------
I left my room five minutes before the event started since the venue is not far from my place. I dressed up as beautifully as I could hoping I would find someone in the crowd (it reminds me of the La La Land sountrack). Then, there I was, in a café with some people sitting having nice conversations. And me, I was such a dumb had no idea what to do. I saw my friend was sitting on one of the chairs but I was thinking that it would be inappropriate to bother her conversation, so I tried finding an empty chair for seat.

On my steps to a chair, a girl with short hair (as short as man hair-cut) greeted me and followed by an old man offering his hand. The girl said "He wanna shake your hand). Since I saw him wearing a black glasses (such a sunglasses) and offering his right hand not to me directly, I was assuming that he might be blind. I grabbed his hand for shaking hand and mentioned my name. I asked his name then.

I sat on a chair filling an attendance form and my friend came to me. Even before I had much talk with my friend, another attendee coming and filling in the form. And, they both, my friend and the just coming girl, had a talk. Such a long talk about some events in Jakarta recently to visit. Then, my friend and I went upstairs to perform Dhuhur prayer. After the prayer upstairs, I heard the people downstairs are having some briefing for the Blind Date event. We both went downstairs at the same time when all people are going to a room that pretty looked like a mini theatre. Well, they are going in pairs in which one typical participant with one blind participant.

And it was how the date...

The movie playing was entitled "I am Hope". I saw my two students there, London and Jenina (Out of topic anyway). Interestingly, the typical participants are named volunteers in this occasion. Why? Because they are going to describe the movie to the blind-dated partner during the play.
Do you think it is difficult? Could be
Do you think it is just easy? Maybe
But, big YES, it was challenging.
As the host mentioned that it might be a problem for the volunteers to describe if this was the first time to see the movie. I got this problem.

I was sitting at the back seat with my blind-dated partner next to me. It was a guy named Alif. I was doing very well in the first few minutes. I did perfectly. Even I got two thumbs up from Boy, the committee. As times went by, Alif might have got bored listening to my gentle, beautiful and expressive voice all the time. He put himself back and played with his phone.
What?
What is he doing?
What should I do?
Should I keep telling him?
Should I just enjoy the movie myself?
Damn
Instead of knowing nothing what to do, I poked Boy and asked what to do with that situation. I asked with no words but just with my hands moving here and there showing "What the hell should I do? He is playing with his phone."

Unexpectedly, Boy sat next to me close her eyes and said "Okay, I close my eyes and you describe the movie to me".
"Are you kidding? You can just see it yourself".
"Common, go ahead."
Well, I did as she requested until sometimes we found out that Alif still not stop playing with his phone. A few minutes later, Alif asked for help to go to toilet and Boy took him out. Once Boy was back, I asked "Do I really have to do this?"
"Yes. Until you're tired."
"Well. I'm tired already."
"Oh really. Okay."
And for the rest of the movie, I enjoyed it myself. What a wonderful life!

It was such an interesting experience, wasn't it? To have the real blind-date ever in my life. And anyway, as the movie was over, I didn't see Alif around. He might have run away to find the better blind-dated partner.



 

Thursday, August 10, 2017

Gara-gara Guru

Tok tok tok
“Assalamualaikum” Bapak suryo mengucap salam sambai berdiri tepat di sebelah pintu utama yang masih tertutup. Tapi, di depan rumah ada banyak anak anak yang sedang bermain sepeda dan diawasi oleh beberapa ibu-ibu. 

“Waalaikumsalam” Terdengar balasan salam dari dalam rumah. Suara seorang perempuan dibarengi langkah mendekati pintu.

“Oalah, Pak Suryo, mari silahkan masuk Pak, Bu”, Ibu Karni membuka pintu sambil mempersilahkan masuk dengan menggunakan jempol tangan kanannya menunjuk ke tempat duduk plastik sederhana di ruang tamu. Kursi plastik empat buah melingkari meja segiempat berwarna ungu itu biasa menerima tamu-tamu. Meja plastiknya pun diperindah dengan telapak meja berwarna merah muda berihiaskan sebuah bunga besar di bagian tengahnya, hasil sulaman Ibu Karni sendiri di sela-sela waktu luangnya.

Pak Suryo tidak datang sendiri. Dia datang dengan Ibu Ida. Mereka berdua  menuju tempat duduk. Ibu Karni pun kemudian menyusul duduk. Karena terlebih dulu masuk, Pak Suryo duduk di bagian kiri meja dengan mmbelakangi jendela kaca yang tertutup gorden. Karena tidak ingin terkesan menyusahkan, Bu Ida memilih untuk duduk tepat di kursi membelakangi jendela kaca depan, dekat dengan pintu.

"Mungkin Ibu sudah mengetahui maksud kedatangan kami. Kami sangat menyayangkan karena Fandi belum juga kembali ke sekolah. Apakah Ibu sudah berbicara dengan Fandi?"

"Sudah, Pak. Saya sudah ngomong sama fandi buat berangkat sekolah lagi. Saya bilang aja, gak enak sampe guru kelasnya datang kerumah. Dia sih cuma diem aja pak. Kemaren itu si Fandi sempet berangkat. Tapi saya juga gak tau kenapa kok gak mau masuk lagi."

Pak Suryo dan Bu Ida menyimak cerita Bu Katni. Ketiganya pun diam sejenak. Pak Suryo menoleh ke arah Bu Ida dan saling pandang sejenak. Seketika Bu Ida berujar.

"Kalau boleh tahu Ibu, apa Fandi tidak cerita alasan kenapa dia tidak mau kembali lagi ke sekolah? Karena kami sangat berharap Fandi bisa kembali lagi ke sekolah".

"Saya juga pengennya begitu, Bu. Fandi gak cerita apa-apa, Bu. Cuma diem aja. Saya juga bingung."

Pak Suryo menunduk berusaha menguraikan rangkain peristiwa yang terjadi dan informasi yang sudah didapat. Dia bingung bagaimana harus menyelesaikan permasalahan ini. Napas yang dalam pun diambil dan dihembuskan perlahan.

"Baiklah, Bu. Mungkin memang ini sudah menjadi pilihan Fandi. Kami sudah berupaya sesuai kemampuan kami. Tapi bagaimanapun juga, kami masih mengharapkan Fandi kembali ke sekolah. Insya Allah, pintu sekolah selalu terbuka."
Pak Suryo dan Bu Ida mohon undur diri dan meninggalkan rumah yang setengah jadi  itu dengan lantainya yang masih kasar dan bertembokkan batu bata merah.
------------
Waktu sudah menunjukkan jam 10 malamm dan Fandi belum juga pulang. Masih ada beberapa lembar triplek yang perlu di pasang di langit-langit bangunan. Hari ini Fandi akan kerja lembur. Pekerjaanya memang tidak terlalu berat jika dibandingkan pekerja proyek lainnya dengan gaji yang tidak jauh berbeda.

Fandi menghabiskan kurang lebih satu jam mengendari sepeda motor tuanya itu yang sudah dianggap seperti kekasihnya karena selalu menemani kemanapun dia pergi. Sambil beristirahat di atas kasur, Fandi ngobrol dengan seorang wanita yang baru saja dikenalnya lewat aplikasi chatting online. Obrolannya sangatlah ringan seperti tinggal dimana, berkegiatan apa, tinggal dengan siapa. Pertanyaan-pertanyaan umum untuk anak muda yang sedang pdkt (pendekatan) mencari mangsa calon pacar. Meskipun baru saja saling mengenal, mereka berdua asik bercerita, saling tanya dan jawab. Terkadang diam, bercanda, tertawa, meledek. Obrolan berlanjut sampai malam semakin larut dan keduanya pun mulai mengantuk akut. Suara si gadis  sewaktu-waktu hilang  di telepon karena tertidur.
------------
"Nis, nanti aku minta izin buat pulang duluan yah. Soalnya aku gak enak badan nih. Badanku berasa meriang". Fandi melapor ke teman sebangkunya untuk pulang lebih awal. Sayangnya ibu guru tidak mengizinkan.

"Kenapa Fandi? Sakit? Makanya jangan keseringan mancing di empang." HAHAHHAHAHA. Gelagak tawa sontak dating dari semua anak di kelas.

"Noh dengerin. Makanya jangan keseringan main di empang." Celetuk salah satu anak.

"Lagian, sering-sering mancing, pernah dapet aja kagak." Sahut anak lainnya.

HAHAHHAHAHA. Sorak tawa pun berulang lagi.

"Gak papa, Nis. Aku masih kuat kok nahan sampe nanti pulang sekolah". Fandi berbisik ke teman sebangkunya yang dimintai tolong untuk meminta izin ke Ibu Guru.
--------------
Semakin Fandi mengenal si gadis, semakin dia merasa minder karena gadis yang saat ini sedang dekat dengannya itu jauh lebih berpendidikan tinggi dibandingkan dirinya yang bahkan tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama) pun tidak tuntas. Fandi menyesalkan apa yang terjadi padanya. Tetapi apalah daya, manusia terlalu lemah bahkan tak berdaya dengan apa yang sudah  berlalu. Inilah yang Fandi saat ini.
-------------
"Iya. Waktu itu Ibu Retno bikin aku malu udah di kelas. Makanya aku gak mau sekolah". Fandi mengiyakan apa yang Ibu nya katakana dan memberikan jawaban singkat setelah sebelumnya ada seorang tamu datang ke rumah.

Ibu Retno yang tinggal tidak jauh dari rumah Fandi tiba-tiba datang berkunjung. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk di salah satu kursi ruang tamu, belum sama sekali ada kata terucap tetapi hanya kepala yang menunduk dan tangan yang beradu saling meremas satu sama lain. Pemandangan ini membuat Ibu Katni tak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan karena khawatir tidak sopan mendahului.

Seketika suara tangis pecah dari Ibu Retno sambil berkata "Saya mohon maaf Bu".
"Lha mohon maaf buat apa tho, Bu?"
"Semua ini gara-gara saya."
"Apanya yang gara-gara Ibu?"
"Fandi tidak mau sekolah itu karena saya."
"Duh, saya kok jadi bingung. Saya gak ngerti maksud Bu Retno ini."

Ketika Fandi sakit dan meminta izin untuk pulang, Ibu Retno bukannya memberikan perhatian dan mengizinkan Fandi pulang tetapi malah meledeknya. Ibu Retno meledek hobi memancing di empang jadi penyebab Fandi sakit. Beberapa hari sebelumnya tidak sengaja Ibu Retnoo melewati empang di dekat perumahanya dan melihat Fandi ada disana. Ledekan Ibu Retno pun langsung jadi bahan tertawaan semua anak-anak di kelas.

Fandi merasa malu. Fandi merasa marah. "Kenapa hobiku dibawa-bawa ke sekolah?" Fandi tidak suka dengan sikap Ibu Retno. Sudah lama Fandi menyembunyikan hobinya memancing dari teman-temannya di sekolah kerena tidak mau jadi bahan tertawaan. Fandi membenci Bu Retno, dan tidak ingin melihatnya lagi dengan meninggalkan sekolah. Tetapi, bergulirnya waktu telah menggerus dan meleburkan rasa kesal dan benci kepada Ibu Retno yang hampir setiap hari dia lihat di sekitar rumah.


-----------
Si gadis pun mulai sedikit demi sedikit menjauhi Fandi dengan mengurangi komunikasi lewat pesan ataupun telepon, setelah dia tahu bahwa Fandi memiliki kekurangan perbekalan pendidikan untuk menghadapi masa depan. Inilah pilihan si gadis.

Lalu bagaimana dengan Fandi? Saat ini, Fandi masih harus terus melanjutkan perjalanan kehidupannya dengan pendidikan setinggi tangga bangku SMP. Hidupnya kini adalah hasil keputusannya yang lalu, termasuk menjauhnya si gadis yang didambakan. Semoga Fandi masih menyimpan harapan di masa depan dengan keputusan-keputusannya di kehidupan saat ini.



Monday, July 31, 2017

Universitas Menyediakan, Kita Manfaatkan

Di usiaku saat ini, aku mulai menyadari betapa bedanya ketika menyandang status sebagai mahasiswa dan sebagai seorang karyawan atau pekerja. Aku merasakan sebuah kebanggan tersendiri ketika masih bisa memperkenalkan diri sebagai seorang mahasiswa di sebuah universitas. Di sisi lain, status sebagai mahasiswa juga memberikan sedikit dampak "memudakan" usiaku, hehe. Seringkali, aku menempatkan statusku sebagai pekerja di nomor dua. Padahal kenyataannya, kuliyahku lah yang seringkali ada di nomor dua kan. Tapi bagaimanapun juga, biarlah semua lika-liku perjuangan menjadi mahasiswi sekaligus pekerja ini nantinya akan menjadi sebuah cerita untuk anak cucu ku di masa mendatang sebagai salah satu penyemangat mereka.

Salah satu hal yang bisa aku pelajari selama menjadi adalah bahwa terdapat beberapa fasilitas yang ternyata ada tetapi tidak atau belum tentu diketahui seluruh mahasiswa. Wajar saja, karena sejauh ini aku belum pernah menemukan sosialisasi khusus terkait hal ini. Fasilitas yang aku maksud disini adalah dana dalam jumlah tertentu yang dianggarkan bagi setiap mahasiswa untuk mengembangkan diri. Aku lupa nominalnya yang pasti (waktu itu bagian keuangan pernah menyebutkan), tapi bisa jadi setiap institusi punya kebijakan dengan nominal yang berbeda-beda. Ada banyak sekali cara bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri (secara akademik ataupun non-akademik) seperti, mengikuti perlombaan, menghadiri seminar atau konferensi dan lain sebagainya, baik dalam lingkup regional, nasional, maupun internasional. Dan ini adalah tugas dinas.

Ternyata, bukan para dosen saja kan yang berkesempatan menjalankan tugas dinas? para mahasiswa juga punya kesempatan yang sama. Dan, pastinya di sela-sela perjalanan tugas dinas ini bias dimanfaatkan untuk menjelajahi daerah sekitar yang belum pernah dikunjungi.

Alhamdulillah,hingga saat ini aku berkesempatan untuk mengikuti dua kegiatan dengan dukungan yang besar dari pihak kampus. Ini semua juga tidak terlepas dari dukungan Kaprodi (Kepala Program Studi) yang bersedia memmberikan bimbingan dan arahan. Pertama, aku mengikuti konferensi internasional di salah satu universitas negeri di Malang pada tahun lalu. Kedua, segala puji bagi Allah swt., dua bulan lalu aku pun ke Singapur, perjalanan luar negeri pertamaku, untuk mengikuti kegiatan yang kurang lebih sama. Dari kedua pengalaman ini dan beberapa pengalaman yang lain, aku belajar bahwa untuk mempresentasikan paper atau makalah dalam konferensi internasional, aku tidaklah harus sempurna. Yang aku perlukan adalah keberanian untuk tampil di depan orang-orang hebat dengan menyampaikan gagasan-gagasan dan kemudian membuka hati dan pikiran selebar-lebarnya dan selus-luasnya untuk menerima kritik dan saran. Justru inilah pelajaran tersbesar yang perlu diambil dan kemudian dijadikan bekal untuk melakukan kajian, meneliti dan menulis di kemudian hari.

Seperti konferensi pada umumnya, panitia akan mengundang para akademisi, mahasiswa dan praktisi untuk mengirimkan abstrak dari makalah yang telah dibuat, baik dalam bentuk kajian pustaka maupun penelitian lapangan. (Contoh abstrak yang aku kirimkan). Setelah melalui tahap review oleh panitia, panitia akan mengirimkan email apakah makalah tersebut diterima dan dapat dipresentasikan dalam konferensi tersebut. (Contoh LoA - Letter of Acceptance). Nah, dengan berbekal makalah dan surat undangan ini lah, pengajuan dana bisa dilakukan. Beberapa dokumen yang perlu dilampirkan adalah sebagai berikut:
  1. Surat permohonan dana (ditandatangani oleh Kaprodi - Kepala Program Studi) ditujukan ke Wadek (Wakil Dekan) Bagian Akademik
  2. Rincian dana sederhana (hal yang diperlukan beserta nominal dana)
  3. Undangan (LoA)
  4. Salinan makalah
  5. Salinan rangkaian kegiatan
Semua dokumen diatas aku serahkan ke bagian umum administrasi dan nantinya akan diproses. Setelah semua upaya ini dilakukan, tugasku selanjutnya adalah banyak-banyak berdo'a semoga Allah meridhoi dan melancarkan segala hajat. Aku kembali lagi ke kanto bagian umum ini setiap hari untuk mengupdate informasi proses pengajuan dana ini. Ketika surat sudah sampai ke Wadek yang dituju, semua dokumen akan sampai di bagian keuangan dan tibalah saatnya untuk membicarakan jumlah biaya yang akan ditanggung seperti biaya transportasi, registrasi, maupun akomodasi. Dalam sebuah kegiatan, tidak semua biaya akan ditanggung, tergantung kebijakan bagian keuangan. Tapi, ini sudah lebih dari cukup untukku, alhamdulillah. Pada saat yang sama, departemen lain pun akan mulai mempersiapkan SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) yang perlu di bawa dalam kegiatan dan ditandatangani oleh panitia pelaksana kegiatan.

Sekembalinya dari kegiatan, aku diminta untuk mengumpulkan beberapa dokumen berikut:
  1. SPPD bertandatangan panitia pelaksana kegiatan
  2. Boarding pass asli keberangkatan dan kepulangan
  3. Foto kegiatan
Ketika semua dokumen itu sudah diserahkan, maka selesai lah tugas dinas yang diemban. Selesainya tugas ini bukanlah berarti akhir dari segalanya. pengalaman dan pengetahuan selama mengikuti kegiatan akan terus dibawa seumur hidup untuk terus dikaji dan disebarluaskan. Untuk itu, adik-adik dan teman-temanku, para mahasiswa, yuk kita manfaatkan kesempatan bagus ini untuk mengembangkan diri. Sekian dan semoga bermanfaat. Salam senyum dan semangat.


Istirahat aja di rumah (Sun, 17 May, Day 137)

Gak berasa aku bangun jam 11 an. Capek banget rasanya. Dan males banget mau bikin sarapan. Jadinya makan pisang dan roti aja. Si Kieran pun ...