Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Saturday, April 3, 2021

Tentang Mbah Uti-ku #Day30

Catatan ini sudah aku tuliskan sejak 21 Nov 2017 dan baru saat ini aku bisa merapikannya. 

Mbah Uti ku meninggal beberapa tahun lebih dari 15 tahun yang lalu. Mbah Uti itu sapaan untuk Mbah Putri di Bahasa Jawa, Bahasa Indonesianya Nenek. Bahkan aku baru tau nama aslinya Mbah Uti itu ketika aku mulai beranjak dewasa di tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas). Aku baru saja baca buku tentang menulis dan di bagian akhir buku ada lampiran beberapa hasil tulisan para pemenang lomba menulis ibu-ibu lanjut usia. Salah satu ceritanya bercerita tentang nenek, dan tiba-tiba aku teringat Mbah Utiku.

Mbah Utiku itu perkasa
Jarak antara rumahku ke rumah Mbah Uti itu tidak deket, kurang lebih 3 - 4 km. Biasanya Mbah Uti kalau sedang kangen sama cucu-cucunya, Mbah Uti akan langsung datang ke rumah tanpa pikir panjang. Pada waktu itu masih jarang sekali ada angkot atau pransportasi umum di sana, bahkan bisa jadi dalam sehari itu cuma lewat cuma sekali bolak balik. Makanya, sering sekali Mbah Uti jalan kaki. Seingatku dulu Mbah Uti punya sepeda unta cewek (hehe aku tidak tahu apa nama jenis sepeda ini dalam Bahasa Indonesia). Sepeda unta itu model sepeda zaman dulu yang bagian depannya tidak ada penghalangnya, makanya aku sebut sepeda wedok (cewek) karena biasanya dipakai perempuan. Sayangnya aku tidak bisa bercerita banyak soal sepeda itu karena seingatku jarang sekali Mbah Uti datang ke rumah pakai sepeda. Meskipun Mbah Uti selalu datang dengan jalan kaki, Mbah Uti tidak pernah datang dengan tangan kosong. Pasti ada saja yang dibawa. dan, bawanya tentengannya itu tidak cuma satu atau dua plastik kecil, tapi satu keranjang besar yang digendong belakang pakai selendang. Mbah Uti memang perempuan perkasa. 
----------
Salah satu orang yang sudah membentukku jadi pribadi saat ini adalah Mbah Uti. Salah satunya adalah karena keperkasaannya yang aku ceritakan di atas. Berikut adalah hal-hal lain tentang Mbah Uti. 

Jadilah perempuan anggun
Pernah suatu ketika aku sedang makan dengan duduk di lantai. Aku masih kecil saat itu. Aku makan dengan membuka kaki lebar alias ngangkang dan  meletakkan piring di tengah tengah kaki. Waktu itu ada Mbah Uti yang duduk di sebelah ku sedang menginang. Mbah Utiku menarik salah satu kakiku dan mendekatkannya ke kaki yang lain. Katanya "Perempuan itu duduknya yang rapet." Sejak saat itu juga aku tidak lagi duduk dengan kaki terbuka lebar. Setidaknya bersila. Dan, aku perhatikan Mbah Uti memang selalu meluruskan dan merapatkan kakinya dengan menopangkan satu kaki di atas lainnya setiap kali duduk di lantai. 

Kamu ingin sesuatu, berusahalah
Setiap kami para cucunya libur sekolah, kami diajak Mbah Uti untuk ikut ke ladang memanen hasil kebun seperti kacang hijau, jagung, padi dan lain-lain. Nah, Mbah Uti selalu bertanya apa yang kami ingin beli. Tapi, itu harus keperluan sekolah. Ada kalanya aku ingin sepatu, buku, tas, atau seragam baru. Setelah menanyakan satu per satu tentang apa yang ingin kami beli, kami semua diajak Mbah Uti pergi ke kebun beramai-ramai. Bahkan, ada kalanya kami di ajak ke pasar untuk menjual hasil panen dan langsung beli apa yang kami inginkan. Aku masih ingat sekali waktu itu aku, Mas Munir, Mas Imam, dan Dila diajak ke kebun untuk memanen kencur. Kami membagi tugas, ada yang menggali dan ada yang membersihkan tanah dari kencurnya. Yang paling melekat di ingatanku adalah waktu itu mas Imam dan Mas Munir bergantian untuk membawa sekarung kencur hasil panen kami ke pasar. Dan, jaraknya sangatlah jauh yang kami tempuh dengan jalan kaki. Luar biasa kan? Tapi rasa lelahnya terbayarkan ketika kami dibelikan barang-barang yang kami inginkan. Sangat senang rasanya. 

Mbah Uti adalah wanita panutan kedua setelah Mamak dalam hidupku. Aku bersyukur masih diberikan kesempatan untuk masih bisa bertema dan belajar dari Mbah Uti sebelum meninggal dunia. 

Sunday, March 28, 2021

Lingkaran pertemanan #Day20

Akhir-akhir ini ada drama yang terjadi di rumah. Sebenarnya sama sekali tidak penting dan buang-buang umur saja atau bahkan bisa menambah penyakit kalau dibahas dan diperpanjang. Semoga dengan aku menumpahkannya disini aku bisa sedikit meluapkan perasaan dan pastinya ada hal yang bisa aku pelajari untuk kedepannya nanti. 

Dari peristiwa yang terkahir terjadi, soal sangkut paut antara teman serumahku dan mantanku, membuatku berfleksi lagi dan merenungkan lagi hal-hal apa saja yang sudah aku lakukan atau ucapkan. Setelah beberapa saat merenung, aku jadi ingat bahwa dahulu sekali, entah kapan, aku pernah berjanji dengan diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah menjalin hubungan a.k.a pacaran dengan seseorang dari lingkaran pergaulanku contoh, tetangga, teman sekolah, teman kampus, atau teman kerja. BIG NO NO. Aku sempat berusaha mengingat-ingat juga kenapa aku sempat punya prinsip ini. Sepertinya zaman dahulu kala mungkin aku pernah memperhatikan hubungan percintaan entah itu dari TV atau mungkin dari orang sekitar juga bahwa mempunyai hubungan percintaan dengan orang yang berasal dari lingkaran pergaulan itu rumit. Akan ada banyak drama. Semuanya terkait satu sama lain. Akan ada banyak gosip. Informasi entah yang rahasia atau bukan, yang benar atau tidak benar akan mudah sekali tersebar dari mulut ke mulut yang pada akhirnya berimbas juga ke kualitas hubungan itu. Jadi, lagi-lagi, BIG NO NO. 

Dan, mungkin karena prinsip ini sudah mendarah daging di lubuk hati dan ingatan paling dalam jadi aku selalu menjalin hubungan dengan seseorang yang berasal dari lingkaran pergaulan lain diluar lingkaran pergaulanku. Kalaupun toh aku kenalkan dia ke lingkungan pergaulanku, hanya cukup sekedar tahu saja, tidak sampai bisa menjalin komunikasi atau bahkan akrab. Hal ini terus aku lakukan. Kenapa? Karena kalau suatu hari aku putus, aku tidak perlu pusing-pusing lagi dibayang-bayangi oleh kehadiranya di sekitarku. Atau, tidak akan ada lagi pembahasan tentang dia. Setelah putus ya sudah, selesai. Titik. Jadi tidak akan ada sisa drama yang terjadi ketika hubungan sudah berakhir. 

Nah, kesalahan yang aku lakukan tahun lalu adalah memperkenalkan teman serumahku ke saudara kembar pacarku, karena temanku sendiri yang meminta. Aku dan pacarku saat itu sepakat bahwa kami tidak akan mencampuri urusan hubungan mereka berdua dan kami pun tidak mau kalau mereka ikut campur urusan kami juga. Sampai akhirnya suatu hari aku dan pacarku putus. Ada beberapa drama yang terjadi setelah itu antara aku dan teman rumahku, tapi sudah tidak penting lagi untuk diceritakan di sini. Hubunganku jadi tidak baik dengan dia dan dua minggu yang lalu ternyata dia jadian. Bukan dengan saudara kembar mantan pacarku, tapi dengan mantan pacarku. Yang lucu buat aku adalah dia memintaku cari laki-laki untuk dijadikan pacar, jangan pacar dia. WHAT THE FUCK! 

Begitulah malasnya kalau pacaran dengan seseorang yang ada keterkaitan dengan lingkaran pergaulan. Hidupku sudah sangat sibuk dengan berbagai kegiatan dan pekerjaan yang aku lakukan. Drama seperti ini sangatlah tidak  penting dan jadi selilit kecil di gigi aja yang mengganggu dan mengesalkan. Oya, aku baru ingat. Dulu sewaktu SD (Sekolah Dasar) aku suka anak laki-laki tetangga rumah. Kami tidak satu sekolah tapi kami mengaji di tempat yang sama. Inisialny E. Anaknya tampan, pendiam, sederhana dan sewaktu di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) bacaan Al-Qur'annya sangatlah bagus. Aku sempat mengirimkan surat ke dia tapi aku lupa apa yang aku tulis waktu itu. Dan, pada saat yang sama di sekolah, aku punya teman dekat. Kami berdua selalu bersaing untuk mendapatkan antara juara 1 atau 2 di kelas. Tapi kami berteman dekat. Waktu itu aku sempat terpikir "Bagaimana ya kalau suatu hari nanti mereka (teman dekatku ini dan si E) pacaran? Dia kan cantik." Alhasil, ternyata benar. Sewaktu di SMP (Sekolah Menengah Pertama) mereka pergi ke sekolah yang sama di Sukoharjo, desa sebelah, dan mereka pacaran. Sejak saat itu juga aku merasa kesal dengan temanku itu dan hubungan kami mulai renggang. Eh, aku jadi kepikiran, sepertinya nanti kalau aku pulang kampung, aku perlu ceritakan tentang ini ke teman dekatku itu. Dia sudah menikah dan punya dua anak sekarang. Dan, juga aku ingin bertanya soal suatu masalah di sekolah sewaktu kami kelas 6 karena kami saling ngambek sampai di mediasi Pak Azis. Apa ya masalahnya?

Anyway, intinya, lagi-lagi, BIG NO NO punya pacar dari lingkaran pergaulanan yang sama ataupun menghubungkan pacar ke lingkaranku. Dan, BIG YES YES buat jalin hubungan sama orang yang lingkarannya beda, sebeda-bedanya, dan jauh, sejauh-jauhnya. 


Sunday, March 21, 2021

Berkunjung ke dokter hewan #Day18

Dua hari yang lalu kucing Dian, namanya Kuro, sempat muntah-muntah dan tidak mau makan. Belajar dari pengalamanku sebelumnya merawat anak-anak di rumah, Ciki, Coki dan Moki, aku sarankan Dian untuk bawa Kuro ke dokter hewan saja. Kemarin dia langsung bawa Kuro ke dokter dan katanya Kuro cacingan. Dian bilang kalau ini pengalaman pertamanya ke dokter hewan dan dia suka berkunjung ke sana.

Aku jadi ingat beberapa waktu lalu ketika aku berkunjung ke dokter hewan pertama kalinya untuk menjenguk Ciki yang waktu itu dirawat di sana selama beberapa hari. Waktu itu aku tidak terlalu memperhatikan sekitar karena aku sangat khawatir dengan kondisi Ciki yang belum juga sembuh dan sepertinya semakin hari semakin parah. Sampai pada akhirnya Ciki meninggal dunia. Sayangnya aku tidak bisa ikut ke sana lagi untuk mengurusi penguburan Ciki karena di hari itu juga aku perlu menghadiri acara sebagai interpreter yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku masih ingat sekali waktu itu aku tidak bisa fokus sama sekali. Ketika menyimak apa yang di sampaikan pembicara, aku tiba-tiba buyar diam dan malah tidak menerjemahkan. Tapi, aku terus berusaha sebaik mungkin dan sewaktu-waktu mataku berkaca-kaca. 

Beberapa bulan kemudian, aku perlu temani Ria ke dokter hewan untuk memeriksakan Coki dan Moki. Aku lupa untuk keperluan apa. Tapi, waktu itu kami perlu menunggu di ruang tunggu beberapa saat untuk dipanggil menunggu giliran setelah registrasi. Nah, saat itu aku mulai suka berkunjung ke dokter hewan karena sewaktu aku menunggu, aku lihat banyak sekali pengunjung yang datang kesana untuk memeriksakan binatang peliharaaanya. Aku sempat terpikir, "Bisa ya mereka ini sampai bawa binatang-binatang dengan berbagai bentuk dan rupa ini ke dokter yang  mungkin terkadang menghabiskan biaya dari yang kecil ke yang besar. Ke binatang peliharaan saja mereka bisa sesayang ini, apalagi sesama manusia." Itu yang aku pikirkan. Aku menilai bahwa orang-orang itu pastilah penyayang dan berhati lembut. Aku melihat cinta dan kasih sayang di sana. Oya, aku juga melihat bahwa cinta dan kasih sayang ini tidak memandang rupa kok, karena hewan-hewan yang dibawa kesana mempunyai berbagai macam rupa dan ukuran, berbagai jenis kucing, anjing, kelinci dan lain-lain. Kayaknya malah kita deh manusia yang pilih-pilih kalau mau mencintai dan menyayangi ke sesama manusia khususnya.

Kamu sudah pernah ke dokter hewan? Bagaimana pengalaman kalian? 

Agak panik tapi berusaha tenang - Wed, 12 Aug 2026

Pagi alarm bunyi jam 7. Tapi mager. Akhirnya bangkit jam 8 kurang. Sikat gigi, cuci muka dan mulai aktifitas. Agenda hari ini analisa data a...