Sebelum saya mulai ke inti pelajaran pada hari ini, saya awali dengan pembukaan dulu ya.
Seperti biasa, Ma'had Daarul Muwahhid Jakarta Barat mengkaji kitab khusus selama bulan Ramadhan yang langsung disampaikan oleh Pengasuh Ma'had, yaitu Ustadz ShoffarMawardi. Kajian ini berlangsung setiap pagi setelah menunaikan sholat Shubuh berjamaah. Pada Ramadhan kali ini, kami mengkaji Kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali. Nah, sekarang kita masuk ke pelajaran yang telah dikaji pagi hari tadi. (*semoga Allah memberikan keistiqomahan untuk bisa menuliskan rangkuman kajian Kitab Ayyuhal Walad ini selama Ramadhan. Aammiin)
Judul kitab ini bermakna 'Wahai para putra-putri'. Akan tetapi sesungguhnya makna 'walad' yang tercantum didalamnya sangatlah luas meliputi para santri, murid bahkan mahasiswa. Kitab ini berisi tentang nasehat-nasehat bagi para penuntut atau pencari ilmu supaya mereka mengetahui, mengamalkan dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Pembahasan kitab ini diawali dengan basmalah, memberikan pujian kepada Allah dan menyanjungkan sholawat kepada Rasulullah saw. Imam Al-Ghazali memuji Allah atas janji-Nya bahwa kesudahan atau akhir yang terpuji adalah untuk orang-orang yang bertaqwa. Terkait pujian, sesungguhnya pujian terbagi menjadi empat, yaitu: pujian Allah untuk Allah, pujian Allah untuk makhlu, pujian makhluk untuk Allah, dan pujian makhluk untuk makhluk. Meski demikian, inti dari beberapa pujian tersebut bermuara pada Allah swt.
Imam Al-Ghazali menyampaikan sekilas sejarah ditulisnya kitab ini. Pada dahulu kala terdapat seorang penuntut ilmu yang senantiasa melayani Syaikh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Ia selalu sibuk untuk membaca dan menghasilkan ilmu dari beliau sampai-sampai ia mengumpulkan ilmu-ilmu secara terperinci sehingga sempurnalah keutamaan-keutamaan yang ada pada dirinya. Suatu hari ia berpikir dan terlintas dalam benaknya bahwasanya ia telah membaca berbagai ilmu dan menghabiskan usianya untuk mempelajari dan mengumpulkannya dan ia pun berpikir bahwa sekarang adalah waktunya ia tahu apakah ilmu yang ia miliki bermanfaat untuk kehidupan dunia akhirat dan akan membuatnya bahagia di alam kubur kelak. Sebagaimana do'a dalam sabda Rasulullah saw. 'Ya Allah, aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Kemudian disampaikanlah perihal ini kepada Imam Al-Ghazali dengan meminta fatwa, bertanya mengenai masalah-masalah, serta meminta nasehat dan do'a. Seorang murid penuntut ilmu tersebut bermaksud supaya Imam Al-Ghazali menuliskan nasehat-nasehat yang dapat senantiasa dibawa sepanjang masa dan dapat diamalkan selama hidupnya. Maka Imam Al-hazali menuliskan jawaban-jawabannya dalam kitab ini. Allah lah Yang Maha Mengetahui.
Setelah latar belakang singkat penulisan kitab ini, Imam Al-Ghazali langsung memulai menyampaikan nasehat pada bagian selanjutnya.
Ketahuilah para putra putri dan pecinta Allah bahwa Allah memanjangkan usiamu dengan ketaatan kepada-Nya yang dengannya kamu sekalian berada di jalan para kekasih Allah. Dituliskannya kitab ini untuk tersiarnya nasehat. Jika nasehat tersebut sampai kepadamu maka apakah hal yang dapat kamu ambil dari nasehatku itu? Dan jika nasehat ini belum sampai kepadamu, maka apakah yang telah kamu hasilkan selama ini?
Wahai para putra putri, diantara nasehat Rasulullah saw. adalah:
Tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba yaitu sibuknya hamba daam hal yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya seseorang yang kelihangan satu jam dalam usianya bukan untuk ibadah, maka sungguh ia akan menyesal berkepanjangan. Dan barang siapa yang telah melampaui usia 40 tahun dan tidak dapat mengalahkan keburukan dari kebaikan maka hendaklah bersiap menuju neraka.
Ustadz Shoffar memberikan pemaparan lebih jelas bahwasanya ketika seseorang berpaling dan jauh dari Allah, bukanlah ia yang berpaling, tetapi Allah lah yang berpaling darinya. Seperti yang diceritakan bahwa ada seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di salah satu negara Timur Tengah (saya lupa namanya). Ia sama sekali belum pernah berziarah ke makam Rasulullah dan mengatakan bahwa tidak ada anjuran untuk mengunjungi makam Rasulullah. Maka Kyai Abdullah Syafei pun menyatakan bahwa bukanlah mahasiswa tersebut yang tidak mau mengunjungi, tetapi Rasulullah lah yang tidak mau dikunjungi oleh mahasiswa itu.
Selain itu, banyak orang yang diberikan hidayah untuk melakukan kebaikan dan ibadah, akan tetapi hanya sedikit yang mendapatkan taufik dari Allah sehingga dapat melaksanakannya, contohnya ketika rasa malas datang. Oleh sebab itu, hendaklah kita berusaha untuk menjemput taufik tersebut meskipun terasa berat. Marilah kita berdoa supaya kebaikan yang kita lakukan dapat mengalahkan keburukan, dan ketaatan kita dapat mengalahkan kemaksiatan yang kita perbuat. Al-fatihah.
Sunday, June 5, 2016
Sunday, May 15, 2016
Catatan Kaki KKN 4, 5 & 6
Rabu, 23 April 2014
Hari ini seperti
biasa kami mengawali hari dengan memasak. Memasak tempe oncom dan sambal terong
yang ternyata si Eko dan Kris tidak doyan. Yah itu mah derita mereka. Selanjutnya kami
menuju ke perpustakaan untuk melanjutkan merapikan karpet sampai dhuhur dan
pulang untuk beristirahat sejenak kemudian makan siang. Karpet pun sudah
rapi dipasang. Oya, siang ini 3 teman lainnya akan datang sehabis dhuhur.
Setelah 3 teman yang lain dari Jakarta sampai di base camp, beberapa waktu kemudian kami berlima ke perpustakaan terlebih dahulu untuk
memulai membersihkan buku. Mereka menyusul kemudian. Kami berada disana sampai waktu ashar
dan sewaktu di perjalanan pulang aku bertemu dengan Teh Vina sedang mengendarai
motor. Teh Vina bilang akan menyusul ke perpustakaan dan sekaligus menawarkan untuk belajar Matematika Basis 10 bersama Kakek Hakimi.
Di sore harinya
teman-teman berpesta ria makan pempek Palembang. Aku tidak bisa makan cuka,
makanya tidak ikut bergabung. Karena bingung hendak makan apa, jadi aku tidur lebih dulu.
Oya, teman-teman laki-laki pergi untuk mengangkut meja yang ada di SD dan kemudian dibawa ke perpustakaan.
Kamis, 24 April 2014
Hari ini kami semua
sudah berkumpul. Kami mengawali hari dengan rapat untuk
persiapan hari ini dan mencurahkan segala unek-unek (beban) yang ada dalam diri kami masing-masing. Setelah sesi ini, semuanya netral kembali dan tidak ada lagi
rasa 'ngambek' (terutama aku pribadi).
Aku baru ingat kalau
di belakang rumah ada gotong royong para bapak-bapak untuk membersihkan saluran
air di sawah. Kegiatan ini biasa disebut 'karitan' (kalau tidak salah). Informasi ini
disampaikan Mang Empu kemarin ketika bertemu denganku dan teman-teman. Kemudian empat
teman laki-laki pergi ke sawah dengan persenjataan masing-masing, diantaranya cangkul dan sabit. Salah satu dari bapak-bapak di sana bahwa mereka harus memakai autan supaya tidak gatal. Aku ikut pergi ke
sawah, tapi hanya sekedar mendokumentasikan aktifitas mereka.
Setelah mereka
selesai, mereka langsung mencangkul halaman depan rumah. Biar sekalian kotor
katanya. Dan diwaktu yang sama semua teman perempuan memasak di dapur
mempersiapkan makan siang. Setelah makan siang kami berangkat ke perpustakaan lagi
untuk membersihkan buku-buku lagi. Oya, kemarin setelah
magrib, kami para perempuan bersama Afilin berkunjung ke rumah Bik Rum dan Mang Empu untuk bersilaturrahmi. Pada saat yang sama, para lelaki mengangkut meja dari SD. Tetapi sebelumnya kami ke Kadus (kepala dusun) untuk menyerahkan fotokopi KTP.
Setelah istirahat
makan siang, kami menuju ke perpustakaan lagi untuk membersihkan buku. Buku yang
ada di perpustakaan sangatlah banyak. Maka dari itu membutuhkan waktu yang
sangat lama untuk menyelesaikannya. Kami membersihkan sampai waktu ashar
dan di malam harinya Teh Vina berkunjung untuk berdiskusi lagi.
Jumat, 25 April 2014
Pagi ini kami
mencoba sarapan nasi uduk. Aku membelinya dengan Teh Ana. Tempatnya cukup
jauh. Oh ya, kemarin sore Mas Ikin dan Afilin berangkat pulang ke Jakarta. Jadi sekarang tinggal ber-enam. Dan aku lalai
karena hanya beli 5 bungkus nasi uduk.
Setelah sarapan, aku
baru ingat kalau pagi ini ada pengajian ibu-ibu. Aku dan Rina langsung bersiap
dan berangkat berama Emak Um dan Bi Rum. Di tempat pengajian kami dipersilahkan
untuk memperkenalkan diri ke para ibu jamaah majelis ta'lim. Sepulangnya dari pengajian, Kris dan Eko pamit ke kantor pos untuk mengambil paket. Setelah waktu sholat Jumat, dhuhur dan makan siang usai, kami ke perpustakaan lagi. Dan pulangnya kami
mampir sejenak di rumah Teh Vina dan bertemu Teh Neni dan Abah.
Aku dan Rina sholat
magrib di masjid. Sepulang dari masjid, Abah datang kerumah dan mengajak untuk
berkunjung ke rumah Mang Udin untuk minta izin mengolah tanah pekarangannya.
Friday, May 13, 2016
Catatan Kaki KKN 3
Selasa, 22 April
2014
Baiklah, aku
memutuskan hal yang aku pelajari saja, tidak harus semua kegiatan di hari ini
akan kuceritakan.
Pagi-pagi
sekali terdengar suara berisik mesin di
depan ruumah. Karena aku mengantuk, jadi tetap melanjutkan tidur tanpa
memperdulikan suara gemuruh itu. Setelah dibangunkan oleh teman-teman untuk
sarapan, aku langsung bangun dan makan. Setelah itu kami langsung menuju ke
lantai dua masjid (tempat kami melaksanakan program perpustakaan). Dan ternyata suara berisik itu berasal dari mesin penggiling
padi di depan rumah. Mesin sudah berhenti bekerja ketika aku hampiri. Mas ikin
sudah berdiri disitu dari tadi sepertinya. Setelah menimbang beras hasil
penggilingan, Mang Empu (salah satu putra Mak Um dan juga tinggal satu rumah dengan Mak Um, tepat bersebelahan dengan base camp kami. Mang Empu tidak lain adalah kakak laki-laki Bu Iik) memberikan sejumlah uang ke si akang penggiling. Mas Ikin pun bertanya ke Mang Empu berapa jumlah pembayaran unntuk menggiling. Beliau menjawab, 5000
per kg. kami pun bercakap-cakap sedikit dengan si akang penggiling.
Mobil penggiling
keliling berjalan mengelilingi desa kalau-kalau ada yang mau menggiling.
'Dedak' atau bubuk kulit padinya dimiliki oleh si penggling, katanya untuk
pakan kuda. Dedak dari penggiling di pabrik katanya lebih halus diibandingkan
dengan hasil penggiling berjalan. Entah karena apa, kami tidak menanyakannnya. Tapi mungkin karena kualitas mesin itu sendiri. Setelah itu ada seorang nenek yang tampaknya baru saja dari sawah ingin
membeli kotoran penggiling tersebut untuk pakan bebek katanya. Ia membeli Rp 5.000 dan memberikan kantong ke si akang penggiling. Dan si nenek ngomel
terus menerus karena yang diberikan hanya sedikit. Masih terus saja mengomel
karena yang jumlah yang didapatkannya bisasanya Rp 5.000 untuk 2 kg. tapi ini
mungkin hanya 1 kg saja. Sambil membereskan mesin penggiling, kedua akang penggiling mengacuhkan si nenek. Dan mungkin karena mereka tidak tahan dengan omelan si
nenek, si akang mengembalikan uang Rp 5.000 dan meminta nenek untuk memberikannya Rp 3.000. Si nenek langsung mencari-cari di dompet berwarna hitam dengan risleting
putih. Tampaknya tidak terlalu ada banyak uang didalamnya. Nenek hanya
menemukan uang Rp 2.000 dan menukarkan uangnya pada saya. Karena saya tidak sedang
membawa uang, saya minta tolong kepada Eko dan Ikin yang juga ada didekat situ
untuk mengambilkan uang. Setelah uang sudah ditukar, nenek langsung memberikan Rp 3.000 ke akang penggiling dan menuju pulang. Si akang pun pergi menggunakan mobil
penggilingnya. Oya, setelah si nenek pergi, Mang Empu mengatakan si nenek setelah dari
sawah untuk mencari '……..' haduh, aku lupa istilahnya. Ini adalah padi yang
tumbuh lagi setelah tanaman padi yang sebenarnya sudah di panen. Biasanya
setelah di panen, batang padi yang ditinggalkan akan tumbuh lagi beberapa dan
juga menghasilkan buah. Hasilnya tidak sebagus padi utama kata Mang Empu.
Kami menuju
perpustakaan bersama Abah, ternyata kuncinya masih di SD (gedung perpustakaan sebelumnya yang menjadi sasaran kemarahan warga dan dibakar). Jadi, si Abah meminta
tolong ke beberapa orang yang ada di sekitar situ (bapak-bapak) untuk
mengambilkan kuncinya. Dari situ aku melihat betapa besarnya peran si Abah.
Setiap orang dengan senang hati membantu, kecuali beberapa pihak yang tidak
usah saya sebutkan.
Karena kunci tidak
juga ditemukan, maka pintu pun dicongkel dan kami bisa masuk. Kemudian kami
mulai membersihkannya sampai waktu dhuhur dan kemudian pulang untuk
bersih-bersih dan sholat dhuhur. Kemudian setelah makan siang kami kembali lagi
ke perpustakaan lantai dua untuk melanjutkan bersih-bersih. Dan karpet pun sudah terpasang dengan
rapi dan sisanya dilanjutkan esok hari.
Thursday, May 12, 2016
Catatan Kaki KKN 2
Senin, 21 April 2014
Pagi ini diawali
dengan memasak bersama teman-teman. Berdasarkan rekomendasi Bu Iik, kami
berbelanja di penjual sayur tetangga, tepatnya di rumah ketiga sebelah kanan
(kalo tidak salah, hehehe). Kami mulai berinteraksi dengan tetangga dengan berbelanja. Aku pergi belanja dengan Eko. Kami berbelanja
kangkung dan bahan sayur sop.
Setelah menikmati
sarapan, Teh Vina datang ke rumah (base camp) dan kita semua langsung menuju ke kantor
kecamatan. Sesampainya disana kami berlima menunggu di luar dan Teh Vina masuk
terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian Teteh memanggil kami untuk
mengikutinya menuju ruang Pak Camat.
Pak Camat tersebut
baru saja menjabat sebagai Camat, Teh Vina
belum mengenalnya dan bahkan ini adalah pertemuan pertama kali. Semalam,
Teh Vina memikrkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ketika bertemu
dengan si Pak Camat. Dan akhirnya tadi pagi buru-buru membuat surat pengantar
atas nama Yayasan Sadamekar untuk teman-teman KKN.
Selama berbincang
dengan pak camat, Teh Vina menjelaskan secara umum apa itu Yayasan Sadamekar
yang kemudian menjelaskan tentang program KKN yang diadakan oleh pihak kampus (Sampoerna School of Education) di wilayahny, Desa Sukapura. Kesimpulan pertemuan tersebut adalah diharapkan Teh Vina menginfomasikan perihal ini juga ke beberapa pihak, salah satunya adalah
kementerian pendidikan karawang. Dan pak camat juga menanyakan kenapa hanya di Desa Sukapura saja, tidak di desa lainnya.
Sepulangnya dari
Kantor Kecamatan aku dan teman-teman langsung menuju rumah, tetapi Teh Vina langsung
berangkat menuju Jakarta. Kami pun berpisah. Ternyata di rumah sudah ada anak-anak
yang menunggu. Kami langsung menyapa dan bercakap-cakap dengan mereka. Kami saling berkenalan dengan beberapa anak-anak tidak hadir kemarin dan dilanjutkan dengan
membaca buku yang kami bawa dari Jakarta. Beberapa waktu kemudian kami
mengakhiri pertemuan dengan anak-anak, meskipun mereka masih saja berada di rumah, bermain dengan anak-anak lainnya.
Kami memasak untuk
makan siang bersama. Rencananya setelah makan siang kami diajak Bang Oris untuk melakukan pengomposan di kumbung jamur. Sayannya ketika kami kesana, ternyata pengomposan sudah selesai. Betapa memalukannya kami. Selebihnya kami beristirahat di rumah.
Dan di malam hari Teh Vina menghampiri kami di base camp.
*Bang Oris adalah teman Teh Vina yang juga ikut serta mengembangkan kumbung jamur di Desa Sukapura.
Wednesday, May 11, 2016
Catatan Kaki KKN
Catatan ini di tulis
di pagi hari, Senin 21 April 2014, karena memang semalam cukup lelah sekali, butuh
recharge energi untuk menghadapi hari ini. Di bawah ini aku ceritakan cerita
kecil perjalanan ke Karawang, lokasi KKN (Kuliah Kerja Nyata), dimana aku akan belajar banyak hal
dari masyarakat dan akan mencoba membantu mereka.
Aku berangkat
bersama dua orang teman, Farikhin dan Afilin. Aku perempuan satu-satunya yang
berangkat hari ini, karena masih ada Eko dan Kris yang berangkat menggunakan motor.
Aku kecewa, dan sangat kecewa ke beberapa teman, tepatnya Rina, Ela dan Elia
yang tidak bisa menepati janji dan berkomitmen
untuk berangkat hari ini juga. Persoalan perasaan kecewa ku tidak perlu
aku ungkapkan disini. Tapi yang jelas semuanya itu akan aku sampaikan ketika
kami semua sudah berkumpul. Jadi tak ada lagi omongan di belakang dan supaya
semoga mereka bisa mengambil pelajaran dari pengalaman ini.
Alhamdulillah
perjalanan berjalan lancar, kami duduk di bis berkursi 3, kumpul jadi satu.
Sesampainya di Lamaran (suatu daerah yang dicirikan dengan flyover dan perempatan besar), mampir di tukang gorengan yang beberapa waktu lalu juga
mengobati rasa lapar kami. Beberapa waktu kemudian si angkot biru jurusan Pasar Rawamerta muncul dan kami menaikinya. Sambil asik makan gorengan, kami, mungkin
saya sendiri, menyimak percakapan seorang ibu dan anak gadisnya yang juga
seorang santri di salah satu pesantren di Rawamerta. Kata si Ibu, Rawamerta memang sudah terkenal
dengan pesantrennya. Aku baru tahu hal tersebut pada saat itu. Dan
setelah melalui separuh jalanan, ternyata ada sebuah bangunan pesantren baru
yang di bangun tepat di sebelah kanan badan jalan dengan di kelilingi
persawahan. Aku juga ikut mengamati. Kebanyakan atau bahkan memang semua santri
yang terlihat mondar-mandir di sana berjenggot panjang untuk laki-laki dan
bercadar untuk yang perempuan. Sambil
lalu, sampai juga di Pasar Rawamerta, tujuan akhir si angkot biru. Setelah
duduk sebentar di depan warung, kami mampir ke warteg untuk makan siang,
sekaligus berkenalan dengan si teteh warteg. Aku dan Ikin
lumayan lama menunggu si Filin yang katanya mau ke ATM, jadi kami melanjutkan perjalanan lebih dahulu ke rumah yang kami tuju untuk base camp.
Sesampainya di
rumah yang kami tuju, kami dibantu seorang bapak untuk menemui tuan rumah. Setelah itu bertemulah kami dengan seorang Ibu. Beliau memperkenalkan diri dengan nama Yanik. Padahal sebelumnya diinfokan bahwa kami
akan tinggal di rumah Ibu Iik. Si Ikin menanyakan ke Bu Yanik tentang Bu Iik, eh ternyata Ibu Iik adalah beliau. Tawa pertama pun pecah di saat itu juga. Sambil menunggu Filin, kami
menikmati puding dan air putih yang disajikan Bu Iik. Seorang nenek tua
menghampiri. Beliau adalah Ibunya Bu Iik, lebih senang dipanggil Mak Um.
Berbincang-bincang ringan tentang kami dan tentang
Karawang ini. pertanyaanku yang pertama kali muncul adalah, 'disini lagi musim
apaan Bu, Mak?'. Mereka pun memaparkan cerita pendek bahwa saat ini Karawang
sedang paceklik, yang artinya sedang tidak ada yang di panen. Beberapa hari yang
lalu warga memanen padi, sayangnya yang biasanya dalam 1 hektar bisa menghasilkan sampai dengan 5
ton, sekarang hanya bisa menghasilkan 1 ton. Itu ukuran bersih setelah di
'bawon' (membayar upah pekerja dengan gabah hasil panen). Dan paling banyak hanya bisa sampai dengan 4 ton saja. Sayang sekali.
Selain padi, tidak ada hasil bumi lainnya yang dikembangkan. Bu Iik sedikit
bercerita tentang percobaan sederhananya berkebun di halaman depan rumah yang
nanti akan aku ceritakan lebih lengkapnya.
Tak lama setelah
berbincang, si Filin akhirnya sampai juga. Beberapa menit kemudian
disusul oleh Kris dan Eko. Semua tas di letakkan di halaman belakang Bu Iik yang
menurutku cukup luas, adem dan nyaman untuk kelesotan (tiduran, terutama di siang hari). Sambil beristirahat,
ngobrol dengan Emak dan Bu Iik, Dek Nurul juga, Teh Vina pun datang. Tidak
tanggung-tanggung langsung saja di briefing dan seperti biasa 'dikerjain' dan
'dibikin gila'. *hahaha. Dan lagi, muncul sosok baru, namanya Teh Ana. Teh Ana tinggal
bersama Emak. Rumah Emak bersebelahan dengan rumah Bu Iik. Teh Ana tidak lain adalah adik bontotnya Bu Ii.
Ketika asik briefing sambil bercanda tawa, ada anak-anak mengintip dari
balik tembok. Teh Vina pun memanggil dan meminta mereka untuk memperkenalkan
diri, kami juga memperkenalkan diri ke mereka. Dilanjutkan dengan anak-anak
latihan tari Jaipong.
Semakin sore, semua teman laki-laki sholat ashar dan pergi mengendarai motor untuk berbelanja. Pada saat itupun, setelah
anak-anak latihan tari sebanyak 2 kali, Teh Vina meminta mereka untuk pulang karena sudah
sore dan meminta mereka untuk datang di keesokan harinya, hari Senin (yang tidak lain adalah hari ini).
Kebetulan anak SD libur karena para guru mengikuti rapat sekolah. Kemudian aku mandi dan sholat ashar. Sewaktu mendekati magrib, Teh Vina berangkat pulang meninggalkan rumah Bu Iik.
Setelah sholat
magrib dan makan bersama. Oya, kami masak nasi dan Bu Iik menyediakan sayur
asem loh. Alhamdulillah. Setelah selesai makan, kami bersiap menuju ke rumah
Teh Vina untuk selanjutnya bersilaturahmi ke beberapa tokoh masyarakat. Dan
ternyata Teh Vina sudah menunggu duduk manis di teras depan rumah, sambil
'berpuisi' katanya.
Kunjungan pertama
menuju ke Pak Wakades (Wakil Kepala Desa), Pak Haji Elam. Disana kami berkenalan dan menyerahkan
fotokopi KTP sebagai warga pendatang yang baik. Alhamdulillah penerimaannya
sangatllah baik dan hangat. Selanjutnya kami menuju ke rumah Pak Kades (Kepala Desa). Sayangnya beliau tidak ada ditempat dan kami diminta untuk menunggu selama 1 jam. Sambil menunggu kami ke rumah
wetan (rumah lain milik keluarga Teh Vina) , disana ada Ayah dari Teh Viina. Aku lebih senang memanggilnya Abah. Sambil
bersilaturrahmi, Abah bercerita panjang lebar tentang kondisi Desa Sukapura saat ini dan juga tentang apa yang menimpa beliau selaku mantan Ketua BPD (Badan Permusyawaratan Desa). Pastinya banyak hal yang bisa kami
pelajari dari beliau.
Tepat jam 8.30 kami kembali menuju rumah Pak Kades setelah kurang lebih 1 jam. Dan kami bertemu
dengan beliau. Singkat cerita, kesimpulan pertemuan tersebut menghasilkan
kesimpulan bahwa besok kami harus datang ke kantor kecamatan untuk menyampaikan
perihal KKN ini. Setelah itu kami langsung mohon undur diri. Sebelum menuju ke base camp,
kami mampir ke rumah Teh Vina untuk membicarakan hal yang akan kami laksanakan
keesokan harinya, yaitu kunjungan ke kantor kecamatan. Kemudian, kami pulang menuju base camp. Di sini kami berdiskusi mengenai beberapa hal yang telah disampaikan oleh Teh Vina sebelumnya. Diantaranya tentang rincian program dan jadwal piket harian.
Sebagai PIC (Person in Charge) kegiatan berkebun di pekarangan, aku mencari berbagai informasi tentang
beberapa tanaman yang tidak terlalu lama masa panennya. Dan kami pun
beristirahat.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PGR conference - Thu, 13 Aug 2026
Pagi alarm bunyi jam 7. Berat banget mau bangun. Tapi akhirnya ya bangun juga setelah lewat 8 menitan seingatku. Sikat gigi, cuci muka, dan...
-
Kajian Kitab Ayyuhal Walad karangan Imam Al-Ghazali oleh KH. Shoffar Mawardi (Pengasuh Ma'had Daarul Muwahhid) Sebelum melanjutkan ...
-
Lagi-lagi gak terlalu ingat ngapain aja, tapi intinya di rumah aja sih istirahat dan nonton Disney. Si Kieran masakin kari sayuran dan salmo...
-
Aku udah banyak lupa soal hari ini. Yang jelas, Kieran masih di sini dan kerja dari kamarku. Internetnya di rumah mati. Aku belajar di perpu...