Sunday, August 11, 2019

Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) - Bagian 2

Setelah pertemuan pertama menggunakan satu set flashcard yang sudah aku bagikan di post yang lalu, aku melanjutkan mengajar dengan materi yang aku buat berdasarkan hasil pengamatan dan analisaku sebelumnya. Aku memutuskan untuk mengajar dengan menggunakan sebuah percakapan dalam situasi tertentu di lingkungan bisnis, diikuti dengan pengenalan beberapa kosakata baru yang digunakan dalam percakapan, dan sebuah ungkapan yang bisa digunakan dalam situasi tertentu.

Seperti biasa, sebelum merancang sebuah materi, aku menjelajahi Google. Siapa tahu ada materi serupa yang bisa aku pakai. Sayangnya, setelah mencari-cari, hanya ada sedikit materi BIPA di internet yang memang khusus dibuat untuk tujuan bisnis. Bahkan, sebagian besar materi BIPA yang diterbitkan oleh Kemendikbud bertema umum dan menuruku akan kurang sesuai jika aku gunakan untuk bahan mengajar muridku pebisnis muda yang tampan itu. Disinilah aku berusaha untuk 'mengakali' bagaimana supaya bisa mendapatkan materi yang sesuai dengan apa yang aku butuhkan; di lingkungan bisnis (karena memang inilah tujuan dasarnya), tidak terlalu panjang (karena durasi hanya 1 jam), sederhana (karena si murid pasti sudah lelah dengan segala urusan di tempat kerja), bermakna dan kontekstual (supaya lebih mudah untuk diingat dan digunakan).

Contekan dari materi Bahasa Inggris
Tidak seperti Bahasa Indonesia, materi pembelajaran Bahasa Inggris di lingkungan bisnis sangatlah banyak dan bervariasi. Setelah menjelajah di internet, aku memutuskan untuk mengambil satu sumber yang ada, https://www.talkenglish.com/video/business-conversation-video.aspx. Di website tersebut ada beberapa pilihan situasi percakapan, tetapi aku hanya memilih yang kiranya sesuai dengan kebutuhan. Kemudian, aku terjemahkan percakapan ke dalam Bahasa Indonesia dengan beberapa penyesuaian seperti pilihan kata, penggunaan ungkapan, dan tentunya nama karakter, supaya lebih terasa ke-Indonesia-annya.

Menentukan kosa kata baru
Setelah aku buat transkrip video percakapan dalam Bahasa Indonesia, aku ambil beberapa kosa kata baru dalam percakapan tersebut untuk aku ajarkan ke si murid. Aku tebalkan kata-kata tersebut dalam teks percakapan dan aku cantumkan daftar kosa kata tersebut di bawah teks percakapan disertai arti dalam Bahasa Inggris.

Menerapkan beberapa ungkapan 
Dari teks percakapan yang ada, aku kemudian menentukan ungkapan apa yang bisa aku jadikan fokus pembelajaran dalam menggunakan Bahasa Indonesia di lingkungan bisnis. Adakalanya ungkapan yang aku gunakan memang ada dalam teks percakapan, tetapi ada kalanya pun tidak ada. Meski demikian, aku berusaha untuk selalu memberikan penjelasan bagaimana ungkapan tersebut bisa ditemukan dalam berbagai situasi.

Berikut adalah beberapa materi yang sudah pernah aku gunakan. Teman-teman pun bisa coba menggunakannya.
Bertemu Rekan Kerja Baru dan Bertemu Klien Baru - Permintaan Izin
Merencanakan Rapat - Memberikan Saran
Persiapan untuk Perjalanan Bisnis - Menanyakan Pengalaman

Oya, materi diatas aku buat berdasarkan kebutuhan si murid, jadi tidak serta merta berurutan begitu. Bahkan, selama mengajar pun aku tidak berhenti mengamati, menganalisa dan mencatat hal-hal apa yang perlu aku ajarkan dipertemuan- pertemuan berikutnya.

Monday, July 22, 2019

Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) - Bagian 1

Sampai saat ini, aku sudah hampir sebulan bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia sebagai Content Analyst. Karena profesi ini sangatlah berbeda dengan profesiku sebelumnya, jadi ada banyak hal yang perlu aku pelajari lagi untuk menyesuaikan diri. Terlepas dari semua lika-liku yang aku hadapi selama proses beradaptasi, aku mulai merasa rindu mengajar, terutama anak-anak kecil yang lucu. Karena kerinduanku itulah, aku mulai terpikir untuk coba mengajar privat di sini. 

Dulu, ketika di Jakarta, aku mulai mencari murid untuk aku ajar dengan tergabung di beberapa Facebook Groups pencari guru privat. Nah, di sini aku awali dengan Googling 'english private tutor malaysia'. Dari temuan pencarianku, aku tertarik dengan website MyPrivateTutor Malaysia dan buat akun di sana. Setelah menjadi salah satu member tutor, akupun mulai dapat tawaran mengajar, salah satunya adalah seorang murid lelaki muda dan tampan yang berasal dari Italia yang ingin belajar Bahasa Indonesia karena dia seringkali berkunjung ke Indonesia untuk urusan bisnis. 

Awal bulan Juni yang lalu, aku sudah mulai mengajar. Kami sepakat untuk belajar di cafe lantai dasar apartemen tempat dia tinggal. Menurut informasi dari si murid, sebelumnya dia sudah pernah belajar Bahasa Indonesia tetapi masih sangat dasar dan ingin mulai belajar lagi. Oleh karena itu, aku terpikir untuk memulai pertemuan pertama dengan membuat sekumpulan flashcards sederhana yang berisi beberapa kosa kata beserta gambar dengan menekankan pengucapan pada masing-masing huruf dari A sampai Z. Dengan flashcards ini, saat itu aku harap bisa menggali lebih jauh kemampuan Bahasa Indonesia si murid pada saat itu sehingga memudahkan aku untuk membuat rencana pembelajaran di pertemuan-pertemuan berikutnya. Aku tumpuk flascards jadi satu dan minta si murid untuk ambil satu persatu. Kemudian, aku minta dia untuk baca kata yang tertulis di kartu dan menebak arti kata tersebut berdasarkan gambar yang ada. Nah, setelah itu aku memberikan beberapa pertanyaan sederhana menggunakan kata yang tertera dan si murid terpaksa harus menjawab. Batas kemampuannya bisa aku ketahui dari seberapa paham dia dengan pertanyaan yang aku berikan dan bagaimana dia menjawab.

Teman-teman bisa akses flashcards yang sudah aku buat di sini. Oya, aku buat flashcards ini merujuk pada beberapa bahan ajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 





Saturday, May 4, 2019

Bekerja di Negeri Jiran, Malaysia

Di kantor tempat aku bekerja, sebuah tempat bimbingan belajar Bahasa Inggris di Jakarta, ada beberapa guru yang berasal dari negara lain seperti Australia, Inggris, Amerika, Kanada dan lain-lain. Beberapa dari mereka datang ke Indonesia untuk bekerja pertama kalinya di negara lain. Ternyata sebagian lainnya sudah pernah bekerja di beberapa negara lainnya sebelum datang ke Jakarta. Sempat aku terpikir, wah mereka datang jauh-jauh dari negara nya ke Indonesia, ke tempat aku bekerja, dengan meninggalkan segala apa yang sudah di miliki di sana. Sepertinya akan seru juga kalau aku bisa pergi ke negara lain untuk melakukan hal yang sama. Anggap saja seperti uji nyali, seberapa kuat aku akan menghadapinya. Alhasil, sekarang aku sudah dua minggu tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia. Pastinya, ada proses yang harus aku lalui sampai pada saat ini, dari masa mencari pekerjaan, penantian, proses seleksi, dan mengurus segala dokumen untuk mendapatkan visa.

Tahap pencarian
Setelah aku mulai mempunyai keinginan untuk bekerja di negara tetangga, aku mulai mencari berbagai peluang pekerjaan yang ada di internet. Berdasarkan saran seorang teman yang sudah bekerja disana, aku memulai dengan mengirimkan resume ku ke beberapa halaman recruitment agency seperti Manpower dan ada beberapa lagi lainnya, aku lupa. Waktu itu aku coba ketik di Google 'recruitment agency Malaysia'. Selain itu, aku juga membuat akun di beberapa website untuk para job seekers seperti Jobstreet dan banyak lainnya. Oya, di beberapa website recruitment agency, aku coba mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlianku dan cukup didukung dengan pengalaman kerjaku. Aku membuat akun dan memasukkan daftar riwayat hidup (CV) di website tersebut. Jadi, sewaktu-waktu ada lowongan yang kira-kira sesuai, akan ada staff yang menghubungi dan menawarkan posisi pekerjaan yang ada.

Tahap menunggu
Setelah aku memasukkan resume ke beberapa website, aku perlu menunggu sampai nanti aku akan dihubungi. Sembari menunggu ada tawaran yang datang, aku masih melakukan aktifitas seperti biasanya di pekerjaan dan kesibukan yang aku lakukan pada saat itu. Karena aku tidak pernah tahu kapan tawaran pekerjaan akan datang, jadi aku berusaha bersabar dan optimis sambil menjalani apa yang ada. Menunggu bisa jadi membosankan kalau hanya mencurahkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk hal yang ditunggu, tapi menunggu pun bisa jadi menyenangkan dan bahkan lebih bermanfaat kalau diisi dengan bangyak hal-hal yang tidak sia-sia.

Ketika ada lowongan kerja yang sesuai dengan klasifikasi yang aku punya, perusahaan menghubungiku melalui email dan telepon untuk menanyakan apakah aku tertarik dengan posisi yang ditawarkan. Di tahap ini, aku bisa memilih untuk memberikan jawaban apakah aku tertarik atau tidak. Suatu saat, pernah aku mendapatkan tawaran untuk bekerja berkaitan dengan akuntansi. Meskipun aku tidak punya pengalaman tertentu di bidang ini, aku merasa mungkin aku bisa mencoba. Jadi, aku jawab iya. Sayangnya proses tidak berlanjut karena mungkin pihak perusahaan mengkaji kembali kemampuanku di bidang ini. Dan lagi, aku kembali di tahap ini, menunggu.

Tahap rekrutmen
Setelah tawaran yang sesuai datang dan aku juga tertarik, proses selanjutnya adalah tahap rekrutmen. Perusahaan akan menanyakan melalui telepon tentang gaji yang diharapkan dan kapan bisa mulai bekerja. Aku juga diberikan kesempatan untuk bertanya terkait keuntungan apa saja yang diberikan selama aku bekerja. Setelah cocok, aku dijadwalkan untuk wawancara telepon terkait pekerjaan yang nanti akan aku kerjakan. Pihak rekrutmen akan mereview hasil wawancara dan memberikan keputusan apakah diterima atau tidak secepat mungkin. Waktu itu, aku diberikan kabar sehari setelah wawancara. Pihak HR (Human Resource) pun kemudian mengirimkan dokumen kontrak untuk aku pertimbangkan dalam waktu kurang lebih seminggu. Dokumen tersebut perlu dicetak, ditandatangani, diskan, dan dikirimkan kembali ke pihak perusahaan. Dalam hal ini, aku tidak perlu tergesa-gesa,. Aku harus baca dengan baik kontrak yang ada dan tanyakan ke pihak perusahaan jika ada hal-hal yang perlu diperjelas. Meski demikian, semakin cepat aku mengirimkan kembali kontrak, semakin cepat proses selanjutnya.

Tahap mengurus visa sebelum keberangkatan
Tahap selanjutnya, perusahaan akan mengalihkan perihal visa ke pihak ke tiga, atau biasa disebut agen. Tapi, agen ini bukan yang receh yah, mereka sangat profesional dan kredibel dalam menangani urusan visa. Aku menerima email mengenai beberapa dokumen yang diperlukan untuk mendapatkan visa kerja (Employment Pass). Agen memberikan jangka waktu tertentu untuk kelengkapan dokumen yang diperlukan, kurang lebih 2 minggu. Akan tetapi, lagi-lagi, aku upayakan semua dokumen yang diperlukan segera dipersiapkan supaya bisa segera diproses. Setelah semua dokumen lengkap, agen akan mendaftarkan nama ku ke MDEC (Malaysia Digital Economy Corporation). Kemudian MDEC akan mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa aku diizinkan masuk ke Malaysia untuk bekerja di perusahaan yang aku tuju. Setelah aku menerima surat itu, aku diminta untuk mendaftar Single Entry Visa (SEV) ke MDEC yang ada di jakarta. Meskipun orang Indonesia bisa masuk ke Malaysia dengan visa turis gratis selama 30 hari, aku tetap harus mendapatkan SEV sebagai syarat untuk mendaftar EP nantinya. Setelah SEV keluar, aku segera skan dan mengirimkan ke agen untuk kemudian diproses lebih lanjut.

Tahap mendapatkan visa kerja (EP)
Selanjutnya, aku memberikan konfirmasi ke pihak agen kapan akan terbang ke Malaysia dengan mengirimkan tiket pesawat. Aku diminta untuk sudah sampai di Malaysia seminggu sebelum tanggal mulai bekerja yang tertulis di kontrak. Setelah sampai, aku mengantarkan paspor ke kantor agen yang nantinya akan ditempel visa EP setelah proses selesai. Selama proses ini berlangsung, aku harus punya fotokopi atau foto paspor jika sewaktu-waktu diperlukan. Proses ini berlangsung kira-kira 3 hari. Aku mengambil paspor kembali ke kantor agen. Dan selesailah proses yang panjang ini.

Beitulah kurang lebih tahapan untuk memulai karir di Negeri Jiran Malaysia dari masa pencarian, menunggu, proses rekrutmen, persiapan visa sebelum berangkat dan visa EP setelah kedatangan, dan kemudian barulah mulai bekerja. Salam semangat dan sukses untuk kita semua.



Monday, January 1, 2018

Coco and What I believe as a Muslim

I watched Coco a few weeks ago. It was an amazing movie. At first, I thought it was for kids, but no way, it is good for adults too. A lot of lessons I can learn and reflect to myself. Especially it has so many relations to my belief as a Muslim. Well, before I am sharing to how it is related to my belief, I captured some interesting points.

Most kids think that they know the best for them. In fact, sometimes family, especially their parent, knows better.

Family is where people who always love us in any conditions.

No one is perfect without any mistakes in life, either intentionally or unintentionally. And sometimes there might be a person or even people got hurt by what we did. Thus, to ask forgiveness as soon as there is a chance would be a righteous decision. 

To make dreams come true, every one does need to sacrifice in many ways. But remember, never ever leave or forget family. 

One's feeling to another's feeling is highly possible to be connected. It is just like how Coco and her dad, Hector, always miss each other. The stronger Coco's feeling to her dad, the more Hector feels urged to go home and see her.

A hardly broken hearted experience has two choices to the person, to raise up and be stronger or to frustrate and be weaker. And Mama Imelda chose to take the first choice.

Believe it or not, everybody's disgrace in life will be revealed either before or after death.
 Especially that is related to other's virtue. And it just takes some time to happen. That's why don't worry if there was the time you were betrayed by someone for his or her popularity or wellness. 

And what I believe as a Muslim is that:

When someone passes away, s/he might be not in this world anymore, but still alive in another dimension of life. 

Once, soon after my grand father from my mother died, my mother asked my dad if my grand father would see my grand father who had already passed away long time before. And he said yes. 


In Islam, we send prayers for those people who have already passed away, especially family member. The prayer that we send is usually followed by Surah Al-Fatihah. Hopefully those prayers sent to them would make them in peace. Just like in Coco, Miguel's family and the people put their dead family members at home to show their love.

In one Hadits (if I'm not mistaken), it is mentioned that the soul of dead people visit their family regularly, especially at Thursday night. They are going to be sad and cry if their living beloved people don't remember them or pray for them. It's just like The Day of the Death in Coco. 


Anyway, at first, I though Coco would be the name of a boy in the movie. But I was wrong, Coco is the boy's great grand mother. The end of the movie was so touching that I cried a lot. It was when Miguel played the guitar and sang Remember Me song to make Coco remember her dad.

It might be late, but not too late, to recommend that you all see this movie. I'm sure you won't regret.



Monday, November 27, 2017

Thor: Ragnarok (A Reflection)

Last week I saw Thor alone at cinema. It was completely funny, starting from the first to the last part of the movie. The cinema was full of laughter; only a few people there though. I loved it. Before watching, I heard a friend of mine said that the movie was full of comedy with a few actions. Well, indeed. Anyway, during watching the movie, this movie reminded me of my father, the one who has passed away leaving me and family just like how Odin left in the movie.

A father is always an important person for his children
Remember when Thor and Loki were trying to find where their father was? They both wanted to bring him back home to Asgard. That is how a father is for their children. No matter how the children have grown up, they do still need a father in their life. Just like me. What for? of course for many things, to be a friend for discussion, to consult with, to get some advices, to hear stories, to be a mood booster, to repair anything broken, to make things, to get some strength and many others. Too many roles that a father does to mention. This is why Thor always got more energy and power to get up, seeing the figure of his father within himself, every time he was down And you see, even though Thor and Loki got their own strength and power, they still needed their father's companion; to be with them at home.

A father isn't immortal, sooner or later he is gone
I still can imagine when Odin was gone. He disappeared into dust (not sure if it was dust or ash). Thor and Loki were terribly sad. They both wanted him to stay. It was how I felt knowing my father was gone. It was even worst because I couldn't see him in his last minutes and seconds. It was just too hard to let him go. Once I was home, many people there around my father's dead body. I really wanted him to get back to life. I wanted him to stay and live forever with me. I did want him to be  alive forever with me. It is how it is, isn't it? we always want our parents to live forever and ever, and never think about every single moment without their presence,  not until the death is coming to take them away. On the day my father was gone, people told me to sincerely let him go but who cares? They didn't know how I felt. I didn't listen to them at all. I didn't care. I didn't want him to go. Well however, as time goes by I have been trying to understand that his time is over, his job is done, it is time for him to take a rest. A lot of beautiful stories about his death has made me happy for him. Also, he always visits me in my dream though. I will see you again, Bapak.

A father is leaving at the right time
In one part of the movie, Thor was feeling powerless, moreover after his dad had left, to defeat the enemy. It was like he could not do anything without his dad, Odin the protector of Nine Realms, especialy with the threat of his big sister,  Hela. He got even more powerless once his hammer was destroyed into pieces by his sister. He thought he couldn't do anything without his hammer. At this moment, Thor was upset with all of his weaknesses and powerlessness to defeat Hela whose such a super power. In this difficult situation, Odin ensured Thor that he was stronger; even though he thought that Hela was impossible to be defeated by him. Odin even had no doubt that Thor could beat her. And this is what happens to me, maybe to you too. This life is getting rough and tough, but a father cannot stand by my side to pass this through all the time. I am now feeling that I have lost a half of me since my father was gone. Too many 'what if...?' coming through my mind for many times. However, I am trying to assure myself that  I can do it without my father's presence. He has successfully prepared the best of me to face the future without him. He might be physically not here, but he is.

A father knows his children so well
My father knows me very well, just like how Odin knows Thor. I still remember when Thor was telling his father about his weaknesses without his hammer, Odin said that he was not a god of hammer but the god of thunder whose the power within his own. It was when Thor was feeling down with himself and his dad who told him that he was stronger. There are things that my father even has already known before I told him. For example, when I am feeling jealous with most of my friends who one by one has got married. He calms me down even before I told him about it. It is him who makes me strong like this. He knew my potentials and made some important decisions such as what school I should take in the past. I always listened to him, followed what he wanted from me and did my best on it. He put me into a lot of challenges and difficult situations. But here I am, Siti Fitriah, a person that you all know.

Anyway, are all fathers like all of those mentioned above? Definitely not. I would be too naïve to generalize all of those characteristics of a father above to all fathers on Earth. But yes, I have one like this.



Rapel selama akhir pekan - Thu- Sun, 8-11 Oct 2026

Thu, 08 Oct Pagi entah aku ngapain aja. Lupa. Terus jam 10 mulai siap-siap buat ke kampus. Jam 11 aku bimbingan dan Sayuri juga confirmation...