Sunday, October 29, 2017

Si Abu-abu (The Grey)

Once more into the fray...
Into the last good fight I'll ever know.
Live and die on this day...
Live and die on this day...

Rangkaian kata diatas beberapa kali terulang selama film The Grey. The Grey ini film yang tayang 2011 lalu, tapi aku baru bisa berkesempatan nonton kira-kira dua minggu yang lalu. Setelah menikmati ketegangan-ketegangan di film ini, aku berniat untuk menuliskan sesuatu setelahnya. Sayangnya, saat itu baru judul saja yang bisa kutuliskan di blog ini dan kutipan puisi diatas yang aku catat di HP. Karena tulisan ini merupakan sebuah refleksi, jadi aku langsung menuliskan refleksi pribadiku saja tanpa mencantumkan ringkasan ceritanya. Lagipula, lebih baik nonton langsung daripada baca ringkasanku yang jauh dari cukup untuk menggambarkan ceritanya.

Bertahan atau bergerak
Ketika seseorang dihadapkan dengan sebuah situasi, terutama situasi buruk, ada dua pilihan disana. Bertahan atau bergerak. Manakah yang lebih baik? Manakah yang akan membuat situasi lebih baik? Tidak ada tahu. Tidak ada seorang pun yang tahu. Keduanya berpotensi untuk mendatangkan akibat lebih buruk atau lebih baik. Tetapi Ottway memilih untuk bergerak melakukan sesuatu dengan mengamati dan menganalisa keadaan sekitar. Pastinya dengan harapan bahwa keputusan yang diambil akan bisa menyelamatkan dia dan teman-temannya untuk tetap bertahan hidup dan dapat kembali ke rumah masing-masing. Keputusan demi keputusan diambil dengan mengantisipasi keadaan terburuk yang mungkin akan terjadi jika bertahan dan memanfaatkan segala peralatan dan sumber daya yang ada. Dan pada saat yang sama, mereka menumbuhkan harapan dan berusaha meyakini bahwa apa yang mereka lakukan akan berbuah keadaan yang lebih baik. Sayangnya keadaan berkata lain, satu persatu kawan-kawannya tetap saja terenggut nyawanya. Yang mengecewakan lagi adalah, Ottway bukan melangkah menjauhi sarang serigala seperti yang diharapkan tetapi malah justru menuju tepat ke lokasi sarang tersebut. Apalah daya, nyawanya pun terancam (meskipun di akhir film tidak terlihat jelas apakah dia akan selamat atau tidak menghadapi ketua kelompok serigala yang ganas).

Akupun kemudian terpikir,
Andai saja mereka tetap di lokasi awal (ketika kecelakaan pesawat terjadi)?
Andai saja mereka melangkah menuju arah sebaliknya?
Apakah semuanya akan lebih baik?
Apakah mereka semua bias selamat?
Belum tentu. Bisa jadi hasilnya pun akan sama. Disinilah yang aku lihat secara pribadi bahwa hidup ini bukan persoalan hasil akhirnya, tetapi bagaimana perjalanan menuju proses itulah yang jauh lebih bermakna dan berharga. Jikalau toh Ottway dan teman-temannya ditakdirkan untuk selamat, maka cerita menghadapi berbagai tantangan demi tantangan ataupun upaya bertahannya pasti akan  menjadi sebuah kisah yang menakjubkan bagi para pendengarnya. Tetapi lagi-lagi, tidak ada yang bisa tahu apakah perjalanan perjuangan mereka akan sampai pada tahap itu. Selain itu, sekeras apapun mereka untuk bertahan hidup atau sebesar apapun keputusasaan mereka dalam menghadapi kematian tidak akan ada yang tahu jikalau memang pada akhirnya mereka semua mati.

Ya begitulah hidup, pilihan. Selama masih hidup, selama itu juga kita memilih. Untuk bertahan atau bergerak. Untuk berjuang atau berputusasa. Meskipun hal ini tidaklah mudah bagi semua orang. Tetapi, menorehkankisah untuk diri sendiri akan jadi penghibur diri ketika entah berhasil mencapai yang diinginkan ataupun mungkin gagal. Semua proses yang telah dilalui akan menjadi serangkaian peristiwa indah untuk dikenang. Karena pada dasarnya, begitulah kehidupan, tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Oleh karena itu, aku belajar untuk tidak menganggap bahwa hidup terlalu serius dan merasa bahwa kehidupan saat ini, di hari ini adalah segalanya. Masih ada hari esok. Apa yang dibenci sekarang bisa jadi dicintai nantinya. Apa yang dipuja sekarang bisa jadi dicaci-maki kemudian. Jadi santae wae lah.

Selalu ada dia (cinta)
Selama perjalanan, Ottway selalu teringat dan terbayang-bayang istrinya. Dari film itu aku kurang paham apakah istrinya masih hidup dan menantinya di rumah, atau sudah mati sebelumnya. Hal yang selalu tercucap dari istrinya adalah "Don't be afraid". setiap kali Ottway berusaha mencari jalan keluar dari berbagai kesuiltan yang ada, bayangan yang muncul  adalah istrinya. Buatku, bagian film ini cukup menarik ketika para laki-laki yang terjebak bergantian bercerita tentang keluarganya dan orang-orang yang dicintainya. Masing-masing punya sebuah cinta penggugah semangat dan kekuatan untuk bertahan hidup. Menjadi alasan buat mereka untuk tetap hidup. Menyedihkan ketika salah satu penumpang menghadapi sakaratul maut dengan penuh kesakitan dan pendarahan. Semua orang disana meminta Ottway untuk melakukan sesuatu, tetapi Ottway tahu bahwa dia sudah tidak bisa tertolong lagi. Ottway pun berusaha untuk menenangkan temannya dan memberitahunya bahwa waktunya sudah dekat. Dia pun mengatakan kepada temannya untuk menyapa kematiannya dengan menganggapnya sebagai orang yang paling dicintainya yang datang memberikan pelukan. Maka sambutlah pelukan hangat itu. Rasa cinta ini biasanya merujuk kepada kekasih. Tetapi bisa juga yang lainnya seperti orang-tua, anak, ataupun saudara. bagi siapapun yang tidak punya siapapun untuk dicintai, jangan lupa, masih ada Allah, meskipun aku sendiri pun masih sangat sulit untuk yang satu ini. Aku setuju sekali dengan bagaimana Ottway mengibaratkan kematian. Aku merefleksikan bagian ini dengan bagaimana seorang Muslim seharusnya menghadapi sebuah kematian. Kematian pun akan lebih mudah dan menenangkan ketika Allah lah yang menjadi satu-satunya cinta dan kerinduan. Jadilah kematian itu sebuah sambutan yang akan mengantarkan seseorang kepada cinta yang sebenarnya, Allah.

Kedua pelajaran diatas tidak hanya ada di The Grey, tetapi juga di berbagai film lainnya. Apalah arti menonton film kalau tidak ada pelajaran yang bisa diambil. Dan inilah The Grey, si abu-abu.



Tuesday, September 12, 2017

If I'm a parent, I will.....

Last Sunday I had a session with my two private students, they are a big bother (Grade 5) and a little sister (Grade 2). It was the second session and I found some interesting things here.
  • The girl had Rp 100.000 on her hand (one piece of money) rolled into a small roll. She told me that she got that money from her friend at school. Once I asked her why her friend gave the money to her, she said she didn't know. Her friend just gave it. Quietly she told me that none of her mom, dad or nanny knew about it. Only her big brother knew it. She kept holding the money while sometimes she put it in the pocket of a doll. I asked her "What are you gonna do with it?" "Just to have it" she said.
  • While we were studying, the big brother was standing on his knees while putting his arms on a folding table. Suddenly the table fell down and one of the tables' leg was broken. He looked panicking right after that happened then he said "Okay, let's pretend that there is nothing happens." He tried to fold the table and put that away from us. He was trying to keep it as a secret.
  • It was quite surprising for me when the kids, especially the big brother, talked about sexual stuff. I didn't really pay attention to what both were talking about but I got the part when the brother was telling about "Milk comes out of the body" and the sister tried to explain to me that her big brother was talking about the milk coming out of breast. Shockingly the boy tried making clear about what he had said before that it was not the one coming out of the breast but he referred his hands to his private part. I grab his attention to the lesson as soon as he was saying that.
From what happened above, I started thinking about myself what kind of parent I would be. I'm sure that those kids were behaving that way as how their parents had been educating and building the relationship with them. So, these are what I'm going to do if I'm a parent one day:
  • Asking my kids about how their school life including friends, teachers,  subjects and anything since I am not there and I can't always keep my eyes on them every time. Not just asking then ends, but following with expressive responds and digging more particular things that I might find interesting or important. Well, I am sure there would be many things to be discussed and to let my kids learn from their experience to be a better person. 
  • Not showing anger as the first respond once my kid is making a mistake or doing something not the way it is. Being angry as the first respond would likely cause my kids to be afraid of telling me anytime they are making mistakes. They don't want me to get angry, so better they keep it for themselves. And I don't want that happens. Also, it is possible for my kids to hide anything that they might consider to be something wrong and also they would be reluctant to try something new because they are afraid of failure afterwards.
  • Paying more attention to the use of internet by my kids. While playing with any gadget supported by an internet connection, the kids might access anything inappropriate for their age there with or without intention. Of course it's not going to be easy but I'll try y best to always have a talk with my kids about what to see and not to see and why. Blocking some websites and contents may also be helpful in this case.
Well, being a parent is a long-life learning journey. If I can start by now, why not?

Saturday, September 9, 2017

Judging Someone is Judging You

Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak terlibat lagi dalam program ini. Apakah ini berarti aku terlalu angkuh? Atau mungkin aku pecundang? Bisa jadi. Tapi, apapun penilaian pihak-pihak yang tahu akan hal ini, dalam hal ini aku bisa memilih dan inilah pilihanku.
-----
Hari ini adalah hari kedua aku menjadi pengajar sukarela (volunteer) di sebuah Sekolah Dasar Islam (SDI) daerah Tangerang Selatan. Aku diberikan amanah untuk mengajar dua kelas dalam sehari. Alhamdulillah, hari pertama yang lalu berjalan dengan lancar. Aku sangat berterimakasih kepada seorang temanku yang sudah berbagi informasi kesempatan untuk mengajar di sini. Menjadi bagian dari sebuah kegiatan sosial seperti ini merupakan sebuah langkah giving back to community yang selalu diajarkan dan ditanamkan kampus almamaterku.

Di kedua kalinya inilah aku bertemu dengan ketua koordinator program yang biasa disapa dengan Ms. X (nama samara) untuk pertama kali. Semuanya berjalan ala kadarnya dan sewajarnya pertemuan pertama,. Kami saling memberikan salam. Setelah Ms.. X menutup pintu mobilnya, aku menyebutkan namaku sambil mengulurkan tangan menjabat tangan Ms. X. Kami (aku, temanku dan Ms. X) pun mulai sibuk memeriksa kesiapan masing-masing kelas yang akan diajar.

Sampai ada saatnya aku terkejut dengan respon si Ms. X.

Ms. X: Fitri, Ms. Z is absent today. Could you please cover her class for today?
Me: Yes, sure. As long as I'm told what the class is and any topics I have to cover, so no problem.
Ms. X: Fitri, please don't  take it seriously. It is not something serious. So, don't be too serious. Relax. We are here as volunteers. Teaching here is not like you teach at where you are teaching. And I don't like it when you say "as long as I'm told", please don't say that to me.
Me: Oh, alright. I'm sorry. I apologize for what I have just said.

What the hell is she talking about??!! Aku kaget, bingung, dan merasa serba salah.

Peristiwa yang cukup singkat tapi tajam ini membuatku berpikir kembali, lagi dan lagi. Aku sama sekali tidak bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh si Ms. X ini. Responnya sama sekali jauh di luar bayanganku. Bahkan sepertinya keluar konteks pembicaraan. Disinilah aku menemukan adanya jurang pemisah antara aku dan Ms. X. Kok bisa? Ya aku juga tidak tahu. Berasa aja gitu.

*Mungkin kutipan di atas tidak 100% seperti apa yang terucap, tapi kurang lebih begitulah isinya.

-----

Ketika anak-anak sudah berdatangan dan menuju kelas masing-masing, maka dimulailah sesi belajar. Pertama aku mengajar di kelas intermediate anak-anak kelas 6. Kelas berikutnya adalah pre-basic anak-anak kelas 1. Sebisa mungkin aku mengemas materi pelajaran sedemikian rupa, lebih tepatnya santai dan menyenangkan, seperti yang selalu Ms. X bilang. Di kelas intermediate aku membuat dua pos: pos 1 "I like..." dan pos 2 "I don't like...". Di papan tulis, aku tuliskan beberapa nama buah-buahan dan menanyakan satu-per-satu "Do you like....?", maka si anak harus lari ke pos jawabannya masing-masing. Di kelas kedua, anak-anak mempraktikkan perkenalan "What is your name?" dan "My name is....". Untuk mendapatkan giliran, aku memberikan arahan kepada anak-anak untuk berbaris dalam satu barisan dengan dua orang di bagian depan saling berpegangan tangan dan diangkat keatas untuk dilewati barisan itu (permainan ini biasa dikenal dengan nama Ular Naga; kata anak-anak). Sambil bernyanyi Eeny Meeny Miny Moe, barisan melewati kedua anak yang berpegangan tangan dan ketika nyanyian berhenti maka satu anak dari barisan tertangkap. Di saat itulah si kedua anak menanyakan "What is your name?" dan yang tertangkap menjawab "My name is ...".

Selama di dalam kelas, aku mendapati Ms. X beberapa kali memasuki kelasku dan menyaksikan bagaimana proses belajarnya. Terutama di kelas kedua, Ms. X bahkan sempat berinteraksi juga dengan anak-anak di kelasku itu.

-----

Ms. X: Fitri, can I talk to you for a minute before you leave?
Me: Yes, sure.

Disinilah inti dari tulisan ini, yaitu sederetan nasihat yang diberikan oleh Ms. X. Aku akan coba untuk mengelompokkannya dan mengurutkannya.
  • Saya kaget pertama kali melihat kamu memasukkan tangan di saku blazer kamu. Mungkin kamu tidak bermaksud, tetapi itu menunjukkan bahwa kamu ingin memberi tahu semua orang bahwa kamu lebih daripada yang lain. It shows that you are arrogant. Hey people, I am better than you so stay away from.Body language yang seperti ini menciptakan jarak. Selain itu juga ketika kamu tadi berbicara dengan saya didepan pintu dengan posisi berdiri seperti ini dan kaki seperti ini (Ms. X mempraktikkannya dengan berdiri sedikit bersandar ke tembok dan menekuk santai salah satu kaki, entah yang kanan atau kiri, aku lupa; dan ya memang aku begitu), itu pun menunjukkan bahwa kamu itu lebih hebat dari yang lain. First impression itu kan penting yah. Dan itulah kesan pertama saya ketika bertemu kamu. Mungkin kamu tidak bermaksud tapi begitulah orang lain menilai.
  • I'm teaching ethical business, jadi saya tahu bagaimana cara bersikap dan berperilaku dengan etika yang baik, bagaimana menarik simpati dan perhatian orang lain kepada kita. Karena sebelum membuat orang lain tertarik kepada produk kita, kita harus membuat orang tertarik dulu dengan diri kita dengan nyaman berbicara sehingga orang itu pun penasaran dan ingin tahu tentang produk yang ditawarkan.
  • Saya tahu kamu dari A (nama temanku), jadi saya mebayangkan kamu itu punya sikap dan perilaku seperti dia yang begitu lembut dan baiknya. Kan kita kalau mau menilai seseorang bias dengan melihat temannya, lingkungannya. Makanya saya terkejut ketika bertemu kamu pertama kalinya dengan perilaku yang jauh berbeda dengan yang saya bayangkan.
During her speech, what I said was sorry and thank you. That's all. But of course I showed also appreciation for how much attention she has paid to me during that day.

Anyway, selain hal diatas itu, Ms. X juga panjang lebar menceritakan siapakah dirinya,  perjalanan karirnya, dan juga perjuangannya melaksanakan program ini. Dan, Ms. X juga mengungkapkan bagaimana orang-orang di sekitarnya (her workplace) menunjukkan respect and honour to her behaviour and attitude. Well, I'm not a kind of person who'd value myself as much how people value me. Oya, selama percakapan ini juga Ms. X berulang kali meminta maaf jika apa yang dia katakana kurang berkenan di hatiku.

And, setelah mencermati kembali setiap nasehat yang diberikan, aku jadi terpikir.
  • Kesan pertama bisa jadi penting, tapi kesan pertama bukanlah segalanya. Apalagi kalau kesan pertama ini disimpulkan dari bagaimana Bahasa tubuh seseorang. Bukankah ada banyak faktor yang mempengaruhi seseorang dalam berbuat sesuatu, entah itu secara internal ataupun eksternal. Jangankan pengamatan sehari, hidup bersama teman berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun pun masih bisa jadi salah dalam memahami sikap seseorang. Lagipula aku meyakini bahwa kita tidak bisa membuat semua orang senang dan bahagia dengan keberadaan dan apa adanya kita, dan aku pun tidak mau memaksakannya. Yang bisa aku lakukan adalah memahami bagaimana diriku dan bagaimana orang lain itu, sehingga dengan segala perbedaan dan persamaan, kami bisa saling mengerti dan memahami untuk mencapai tujuan bersama. Dan menurutku, dengan Ms. X bersikap seperti ini menunjukkan bahwa dia ingin semua orang mempunyai tata karma atau tindak tanduk yang sama seperti apa yang dia yakini. Padahal, beda tempat, beda waktu, beda orang, tindak tanduk itu bisa diartikan dan diterima dengan berbeda-beda.
  • Setiap orang mempunyai gaya dan selera masing-masing dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Sebagai seorang guru, akupun punya gaya dan seleraku tersendiri yang bisa jadi berbeda dengan guru lain. Yang jelas, guru tidaklah dan bukanlah pegawai sales marketing yang berusaha mendekati customer supaya tertarik dengan produk yang ditawarkan. Secara pribadi aku menilai bahwa mereka itu bersikap so sweet ya karena memang seperti itu mereka seharusnya sambil menerapkan strategi-strategi pemasarannya dalam menarik minat pembeli. Lagipula, ini kan menarik simpati dan ketertarikan sesaat. Lain lagi sebagai seorang guru, butuh waktu yang lama sekali untuk bias menjalin hubungan dengan para murid. Nah sebagai manusia biasa, memang kenapa aku harus bersikap dan berperilaku supaya semua orang yang aku temui tertarik? Terus, kalau mereka tidak tertarik, kenapa? Haruskah aku ajak mereka berbicara empat mata supaya mereka tertarik? Hidupku sudah terlalu sibuk dan aku tidak mau lebih menyibukkan diri dengan salah satu tujuan hidup "disukai semua orang". If you like it, lets' rock and if you don't like it, just leave it. Simple.
  • Ms. X membandingkan aku dengan temanku. Aku sempat meng-iya-kan pernyataan nya bahwa kita bisa menilai  seseorang dari siapakah teman-temannya atapun dimanakah lingkungannya. Dan dalam hal ini, lingkunganku bersama temanku itu hanyalah satu diantara banyak lingkungan lainnya dimana aku berada, tumbuh, belajar dan berkembang. Duh, bukannya masih ada banyak faktor lainnya juga yah yang mempengaruhi kepribadian seseorang? (lagi-lagi secara internal maupun eksternal).
-----
Apalah artinya sebuah pengalaman tanpa adanya refleksi diri untuk perbaikan di masa mendatang. Beberapa hal yang aku pelajari adalah:
  • Sebaik dan semulia apapun motivasinya, jangan pernah serta merta memberikan komentar mengenai bagaimana seseorang bersikap atau berperilaku, apalagi pada pertemuan pertama. Bisa jadi, bahkan kemungkinan besar penilaian itu kurang tepat sehingga bisa menyinggung perasaan si penerima.
  • Ketika ada seseorang atau kelompok yang tidak sejalan atau ada ketidaksesuaian dan masih ada kesempatan untuk memilih (apakah bertahan atau pergi), pergilah, karena masih ada banyak orang dan tepat di luar sana yang menerima dengan senyum lebar dan pelukan hangat.
*Setiap manusia tidaklah terlepas dari kesalahan, begitupun aku.




Monday, August 14, 2017

Literally Blind-dating

"Are you free today."
"So far yes. What's up?"
"Wanna join in? A blind-date."
"Seriously? Nice. I might gonna find my best match there."
----------
I left my room five minutes before the event started since the venue is not far from my place. I dressed up as beautifully as I could hoping I would find someone in the crowd (it reminds me of the La La Land sountrack). Then, there I was, in a cafĂ© with some people sitting having nice conversations. And me, I was such a dumb had no idea what to do. I saw my friend was sitting on one of the chairs but I was thinking that it would be inappropriate to bother her conversation, so I tried finding an empty chair for seat.

On my steps to a chair, a girl with short hair (as short as man hair-cut) greeted me and followed by an old man offering his hand. The girl said "He wanna shake your hand). Since I saw him wearing a black glasses (such a sunglasses) and offering his right hand not to me directly, I was assuming that he might be blind. I grabbed his hand for shaking hand and mentioned my name. I asked his name then.

I sat on a chair filling an attendance form and my friend came to me. Even before I had much talk with my friend, another attendee coming and filling in the form. And, they both, my friend and the just coming girl, had a talk. Such a long talk about some events in Jakarta recently to visit. Then, my friend and I went upstairs to perform Dhuhur prayer. After the prayer upstairs, I heard the people downstairs are having some briefing for the Blind Date event. We both went downstairs at the same time when all people are going to a room that pretty looked like a mini theatre. Well, they are going in pairs in which one typical participant with one blind participant.

And it was how the date...

The movie playing was entitled "I am Hope". I saw my two students there, London and Jenina (Out of topic anyway). Interestingly, the typical participants are named volunteers in this occasion. Why? Because they are going to describe the movie to the blind-dated partner during the play.
Do you think it is difficult? Could be
Do you think it is just easy? Maybe
But, big YES, it was challenging.
As the host mentioned that it might be a problem for the volunteers to describe if this was the first time to see the movie. I got this problem.

I was sitting at the back seat with my blind-dated partner next to me. It was a guy named Alif. I was doing very well in the first few minutes. I did perfectly. Even I got two thumbs up from Boy, the committee. As times went by, Alif might have got bored listening to my gentle, beautiful and expressive voice all the time. He put himself back and played with his phone.
What?
What is he doing?
What should I do?
Should I keep telling him?
Should I just enjoy the movie myself?
Damn
Instead of knowing nothing what to do, I poked Boy and asked what to do with that situation. I asked with no words but just with my hands moving here and there showing "What the hell should I do? He is playing with his phone."

Unexpectedly, Boy sat next to me close her eyes and said "Okay, I close my eyes and you describe the movie to me".
"Are you kidding? You can just see it yourself".
"Common, go ahead."
Well, I did as she requested until sometimes we found out that Alif still not stop playing with his phone. A few minutes later, Alif asked for help to go to toilet and Boy took him out. Once Boy was back, I asked "Do I really have to do this?"
"Yes. Until you're tired."
"Well. I'm tired already."
"Oh really. Okay."
And for the rest of the movie, I enjoyed it myself. What a wonderful life!

It was such an interesting experience, wasn't it? To have the real blind-date ever in my life. And anyway, as the movie was over, I didn't see Alif around. He might have run away to find the better blind-dated partner.



 

Thursday, August 10, 2017

Gara-gara Guru

Tok tok tok
“Assalamualaikum” Bapak suryo mengucap salam sambai berdiri tepat di sebelah pintu utama yang masih tertutup. Tapi, di depan rumah ada banyak anak anak yang sedang bermain sepeda dan diawasi oleh beberapa ibu-ibu. 

“Waalaikumsalam” Terdengar balasan salam dari dalam rumah. Suara seorang perempuan dibarengi langkah mendekati pintu.

“Oalah, Pak Suryo, mari silahkan masuk Pak, Bu”, Ibu Karni membuka pintu sambil mempersilahkan masuk dengan menggunakan jempol tangan kanannya menunjuk ke tempat duduk plastik sederhana di ruang tamu. Kursi plastik empat buah melingkari meja segiempat berwarna ungu itu biasa menerima tamu-tamu. Meja plastiknya pun diperindah dengan telapak meja berwarna merah muda berihiaskan sebuah bunga besar di bagian tengahnya, hasil sulaman Ibu Karni sendiri di sela-sela waktu luangnya.

Pak Suryo tidak datang sendiri. Dia datang dengan Ibu Ida. Mereka berdua  menuju tempat duduk. Ibu Karni pun kemudian menyusul duduk. Karena terlebih dulu masuk, Pak Suryo duduk di bagian kiri meja dengan mmbelakangi jendela kaca yang tertutup gorden. Karena tidak ingin terkesan menyusahkan, Bu Ida memilih untuk duduk tepat di kursi membelakangi jendela kaca depan, dekat dengan pintu.

"Mungkin Ibu sudah mengetahui maksud kedatangan kami. Kami sangat menyayangkan karena Fandi belum juga kembali ke sekolah. Apakah Ibu sudah berbicara dengan Fandi?"

"Sudah, Pak. Saya sudah ngomong sama fandi buat berangkat sekolah lagi. Saya bilang aja, gak enak sampe guru kelasnya datang kerumah. Dia sih cuma diem aja pak. Kemaren itu si Fandi sempet berangkat. Tapi saya juga gak tau kenapa kok gak mau masuk lagi."

Pak Suryo dan Bu Ida menyimak cerita Bu Katni. Ketiganya pun diam sejenak. Pak Suryo menoleh ke arah Bu Ida dan saling pandang sejenak. Seketika Bu Ida berujar.

"Kalau boleh tahu Ibu, apa Fandi tidak cerita alasan kenapa dia tidak mau kembali lagi ke sekolah? Karena kami sangat berharap Fandi bisa kembali lagi ke sekolah".

"Saya juga pengennya begitu, Bu. Fandi gak cerita apa-apa, Bu. Cuma diem aja. Saya juga bingung."

Pak Suryo menunduk berusaha menguraikan rangkain peristiwa yang terjadi dan informasi yang sudah didapat. Dia bingung bagaimana harus menyelesaikan permasalahan ini. Napas yang dalam pun diambil dan dihembuskan perlahan.

"Baiklah, Bu. Mungkin memang ini sudah menjadi pilihan Fandi. Kami sudah berupaya sesuai kemampuan kami. Tapi bagaimanapun juga, kami masih mengharapkan Fandi kembali ke sekolah. Insya Allah, pintu sekolah selalu terbuka."
Pak Suryo dan Bu Ida mohon undur diri dan meninggalkan rumah yang setengah jadi  itu dengan lantainya yang masih kasar dan bertembokkan batu bata merah.
------------
Waktu sudah menunjukkan jam 10 malamm dan Fandi belum juga pulang. Masih ada beberapa lembar triplek yang perlu di pasang di langit-langit bangunan. Hari ini Fandi akan kerja lembur. Pekerjaanya memang tidak terlalu berat jika dibandingkan pekerja proyek lainnya dengan gaji yang tidak jauh berbeda.

Fandi menghabiskan kurang lebih satu jam mengendari sepeda motor tuanya itu yang sudah dianggap seperti kekasihnya karena selalu menemani kemanapun dia pergi. Sambil beristirahat di atas kasur, Fandi ngobrol dengan seorang wanita yang baru saja dikenalnya lewat aplikasi chatting online. Obrolannya sangatlah ringan seperti tinggal dimana, berkegiatan apa, tinggal dengan siapa. Pertanyaan-pertanyaan umum untuk anak muda yang sedang pdkt (pendekatan) mencari mangsa calon pacar. Meskipun baru saja saling mengenal, mereka berdua asik bercerita, saling tanya dan jawab. Terkadang diam, bercanda, tertawa, meledek. Obrolan berlanjut sampai malam semakin larut dan keduanya pun mulai mengantuk akut. Suara si gadis  sewaktu-waktu hilang  di telepon karena tertidur.
------------
"Nis, nanti aku minta izin buat pulang duluan yah. Soalnya aku gak enak badan nih. Badanku berasa meriang". Fandi melapor ke teman sebangkunya untuk pulang lebih awal. Sayangnya ibu guru tidak mengizinkan.

"Kenapa Fandi? Sakit? Makanya jangan keseringan mancing di empang." HAHAHHAHAHA. Gelagak tawa sontak dating dari semua anak di kelas.

"Noh dengerin. Makanya jangan keseringan main di empang." Celetuk salah satu anak.

"Lagian, sering-sering mancing, pernah dapet aja kagak." Sahut anak lainnya.

HAHAHHAHAHA. Sorak tawa pun berulang lagi.

"Gak papa, Nis. Aku masih kuat kok nahan sampe nanti pulang sekolah". Fandi berbisik ke teman sebangkunya yang dimintai tolong untuk meminta izin ke Ibu Guru.
--------------
Semakin Fandi mengenal si gadis, semakin dia merasa minder karena gadis yang saat ini sedang dekat dengannya itu jauh lebih berpendidikan tinggi dibandingkan dirinya yang bahkan tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama) pun tidak tuntas. Fandi menyesalkan apa yang terjadi padanya. Tetapi apalah daya, manusia terlalu lemah bahkan tak berdaya dengan apa yang sudah  berlalu. Inilah yang Fandi saat ini.
-------------
"Iya. Waktu itu Ibu Retno bikin aku malu udah di kelas. Makanya aku gak mau sekolah". Fandi mengiyakan apa yang Ibu nya katakana dan memberikan jawaban singkat setelah sebelumnya ada seorang tamu datang ke rumah.

Ibu Retno yang tinggal tidak jauh dari rumah Fandi tiba-tiba datang berkunjung. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk di salah satu kursi ruang tamu, belum sama sekali ada kata terucap tetapi hanya kepala yang menunduk dan tangan yang beradu saling meremas satu sama lain. Pemandangan ini membuat Ibu Katni tak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan karena khawatir tidak sopan mendahului.

Seketika suara tangis pecah dari Ibu Retno sambil berkata "Saya mohon maaf Bu".
"Lha mohon maaf buat apa tho, Bu?"
"Semua ini gara-gara saya."
"Apanya yang gara-gara Ibu?"
"Fandi tidak mau sekolah itu karena saya."
"Duh, saya kok jadi bingung. Saya gak ngerti maksud Bu Retno ini."

Ketika Fandi sakit dan meminta izin untuk pulang, Ibu Retno bukannya memberikan perhatian dan mengizinkan Fandi pulang tetapi malah meledeknya. Ibu Retno meledek hobi memancing di empang jadi penyebab Fandi sakit. Beberapa hari sebelumnya tidak sengaja Ibu Retnoo melewati empang di dekat perumahanya dan melihat Fandi ada disana. Ledekan Ibu Retno pun langsung jadi bahan tertawaan semua anak-anak di kelas.

Fandi merasa malu. Fandi merasa marah. "Kenapa hobiku dibawa-bawa ke sekolah?" Fandi tidak suka dengan sikap Ibu Retno. Sudah lama Fandi menyembunyikan hobinya memancing dari teman-temannya di sekolah kerena tidak mau jadi bahan tertawaan. Fandi membenci Bu Retno, dan tidak ingin melihatnya lagi dengan meninggalkan sekolah. Tetapi, bergulirnya waktu telah menggerus dan meleburkan rasa kesal dan benci kepada Ibu Retno yang hampir setiap hari dia lihat di sekitar rumah.


-----------
Si gadis pun mulai sedikit demi sedikit menjauhi Fandi dengan mengurangi komunikasi lewat pesan ataupun telepon, setelah dia tahu bahwa Fandi memiliki kekurangan perbekalan pendidikan untuk menghadapi masa depan. Inilah pilihan si gadis.

Lalu bagaimana dengan Fandi? Saat ini, Fandi masih harus terus melanjutkan perjalanan kehidupannya dengan pendidikan setinggi tangga bangku SMP. Hidupnya kini adalah hasil keputusannya yang lalu, termasuk menjauhnya si gadis yang didambakan. Semoga Fandi masih menyimpan harapan di masa depan dengan keputusan-keputusannya di kehidupan saat ini.



Hiruk pikuk seminggu (Mon-Sun, 19-25 Oct 2026)

Senin, 19 Oct Aku udah banyak lupa hari ini ngapain aja. Seperti biasa tiap hari Senin submit timesheet, update kalender dan deanery meeting...