Kemarin aku coba berkunjung ke Perpustakaan Daerah Jakarta Selatan, tepatnya di belakang gedung Sekolah Labschool. Semula aku ingin membaca beberapa buku pendidikan. Setelah membaca satu buku tentang Behavior Recovery, aku tertarik membaca kisah Ramayana. Secara acak aku buka lembaran buku ini dan terhentilah aku di bagian ketika Rama akan meninggalkan Ayodya untuk memenuhi Sumpah ayahnya, Raja Dasarata. Aku sama sekali tidak paham dengan latar belakang kisah ini sebelumnya. Akan tetapi kisah tersebut bisa membuatku meneteskan air mata di tengah-tengah ruang perpustakaan. Mungkin karena aku terlalu larut dalam cerita tersebut.
Dalam tulisan ini aku ingin merefleksikan gejolak perasaan yang aku alami ketika menjajaki kata per kata dan kalimat demi kalimat kisah tersebut.
Rama
Betapa berbesar hatinya Rama yang harus pergi ke hutan dan menghabiskan usianya selama 14 tahun disana. Padahal dia sama sekali tidak memiliki campur tangan apapun dengan apa yang dilakukan ayahnya, Raja Dasarata. Dia sama sekali tidak peduli apa yang nanti akan dihadapinya selama hidup di hutan. Padahal dia adalah calon Raja selanjutnya. Rama sangat patuh kepada kedua orangtuanya. Rama benar-benar menjunjung tinggi kedua orangtuanya. Tutur katanya yang penuh cinta kasih dan kelembutan menhiasi kepergiannya meskipun itu malah menambah kesedihan kedua orang tuanya. Kepatuhan Rama kepada kedua orangtunya menyentuh hatiku. Aku sama sekali tidak memiliki bukti apapun yang menunjukkan akan baktiku kepada Bapak dan Ibu. Rama mengingatkanku untuk menempatkan orangtua di singgasana yang sangat tinggi.
Selain sebagai seorang anak, Rama ialah suami Sinta. Dia mengalami dilema perasaan yang sangat. Pada satu sisi dia ingin memenuhi sumpah yang telah dilontarkan oleh ayahnya, akan tetapi berat rasanya untuk meninggalkan istrinya tercinta. Hatinya gelisah dan bergejolak.Sampai akhirnya dia mengungkapkan niat kepergiannya kepada Sinta. Sinta pun memutuskan untuk ikut bersama Rama ke hutan.
Raja Dasarata dan Ratu Kaylela (Ayah dan Ibu Rama)
Keduanya sangat mencintai Rama. Bahkan Raja Dasarata menyesali karena telah melibatkan Rama kedalam sumpahnya. Sama sekali tak terbayangkan olehnya bagaimana Rama dapat menjalani kehidupan di dalam hutan selama empat belas tahun. Mereka merasakan duka yang sangat dalam ketika harus menyaksikan putranya semakin jauh meninggalkan Kerajaan Ayodya.
*Baru saja menemukan ini di draft dan sepertinya apa yang ada dipikiranku pada saat itu sudah tidak ada lagi sekarang, jadi saying sekali tidak bias aku teruskan
Tuesday, August 30, 2016
Catatan Pertama di Kelas
Tulisan berikut ini berdasarkan catatan ringkasku di kelas. Seperti biasanya, sesi pertama tahun ajaran baru pasti diawali dengan sesi perkenalan kan. Mungkin catatan ini tidak terasa begitu special sekarang, tapi aku yakin suatu saat nanti catatan ini akan membantuku untuk mengingat lagi memori pada saat pertemuan pertama di kelas ini. Oiya, ini adalah tentang anak-anakku di kelas 10 SMA.
Amar suka sekali dengan warna biru dan dia menjelaskan sebisa mungkin dan dengan penjelasan yang cukup lebar bahwa dia memiliki attention deficit. Semoga aku selalu ingat hal ini dan membantu dia untuk tetap mengikuti pelajaran dengan baik.
Iraf suka music dan dia sempat mengatakan bahwa dia tidak memiliki ketertarikan pada agama. Terlebih lagi, dia tidak mempercayai konsep agama. Hmmm, untuk saat ini dia memang pada keadaan ini, tapi aku yakin akan datang saatnya Irfa memahami dengan baik sebagai seorang Muslim dan memiliki keyakinan yang kuat.
Ruben senang dengan olahraga dan yang menarik adalah dia sama sekali tidak pernah merasakan mi instan. Jarang sekali orang seperti ini.
*Alhasil, kertas catatannya hilang entah terselip dimana, jadi tulisan ini cukup sekian. Kalau nanti kertasnya sudah ketemu, maka bias dilanjutkan lagi
Amar suka sekali dengan warna biru dan dia menjelaskan sebisa mungkin dan dengan penjelasan yang cukup lebar bahwa dia memiliki attention deficit. Semoga aku selalu ingat hal ini dan membantu dia untuk tetap mengikuti pelajaran dengan baik.
Iraf suka music dan dia sempat mengatakan bahwa dia tidak memiliki ketertarikan pada agama. Terlebih lagi, dia tidak mempercayai konsep agama. Hmmm, untuk saat ini dia memang pada keadaan ini, tapi aku yakin akan datang saatnya Irfa memahami dengan baik sebagai seorang Muslim dan memiliki keyakinan yang kuat.
Ruben senang dengan olahraga dan yang menarik adalah dia sama sekali tidak pernah merasakan mi instan. Jarang sekali orang seperti ini.
*Alhasil, kertas catatannya hilang entah terselip dimana, jadi tulisan ini cukup sekian. Kalau nanti kertasnya sudah ketemu, maka bias dilanjutkan lagi
Sunday, July 17, 2016
Tebus (sogok) atau ke Pengadilan?
Tadi
siang aku ambil belok kiri sewaktu di perjalanan menuju Jakarta dari Karawang.
Eh ternyata itu jalur khusus untuk mobil menuju ke jalan tol. Langsung deh ambil
langkah mundur dorong motor dan lanjutkan perjalanan. Ternyata di depan
dihadang Pak Polisi. Diminta tuh STNK dan SIM dan diajak ke pos polisi. Di pos,
Pak Polisi bilang untuk hadir di pengadilan dan nunjukin lembaran merah dan
tercantum beberapa nominal denda pelanggaran. Katanya nanti aku akan kena denda
100.000 di pengadilan. Aku tanya deh kapan dan di pengadilan mana.
Pengadilannya di pengadilan Bekasi tanggal 29 Juli. Langsung aja aku berpikir kalau aku gak tahu
lokasinya dan aku punya jadwal ngajar di hari itu. Tapi pengen coba juga sih buat ikutan ke pengadilan biar
punya pengalaman. Lagian aku pernah baca bukunya Panji (Nasionalisme, kalau gak
salah itu judulnya), bahwa lebih baik kita ikutin aja aturan untuk hadir di
pengadilan kalau melakukan pelanggaran lalu lintas, ya daripada ngasih uang
secara langsung ke polisi yang sebenarnya serupa dengan sogok-menyogok.
Ternyata
si Pak Polisi langsung aja nawarin "Mau dikasihin atau ke
pengadilan? Gak tau juga kan pengadilannya dimana". Aku berasa deg-degan dan agak gemeter takut sampe suaranya
kedengeran kaya mau nangis, "Saya gak tau. Kalo dikasihin?". Langsung
aja deh tuh si Pak Polisi bilang "Ya kalo dikasihin ini ditebus (sambil
nunjukin STNK dan SIM ku). Sekarang ada gak uang segini? (sambil nunjuk nominal
100.000 di lembaran merah tadi itu)". "Gak ada Pak. Saya gak bawa
uang" Suaraku agak gemeter gitu sih, tapi ini bukan akting, beneran
dan natural. "Yaudah sekarang adanya berapa?" Katanya lagi. "Ya
tapi saya gak bawa uang, Pak". Sebenernya ada sih uang selembar 50.000 di
dompet, tapi kan buat beli bensin, jadi aku gak bohong kan kalau aku bilang gak
punya duit. Akhirnya, Pak Polisi ngasihin STNK dan SIM ke aku sambil bilang
"Yaudah ini buat peringatan."
*Ditulis seminggu yang lalu, 17 Juli 2016
*Ditulis seminggu yang lalu, 17 Juli 2016
Saturday, June 11, 2016
Wahai Putra-putriku (7 Ramadhan 1437)
Kajian Kitab Ayyuhal
Walad karangan Imam Al-Ghazali oleh KH. Shoffar Mawardi (Pengasuh Ma'had Daarul
Muwahhid)
Sebelum melanjutkan
kajian pada hari ini, Ustadz menyampaikan kembali ringkasan pembasahan pada
kajian sebelumnya.
Suatu ketika Abu
Hasan Al-Bashri diberikan segelas air minum. Ketika air minum tersebut berada
digenggamannya, tita-tiba Beliau jatuh pingsan. Setelah Beliau sadar,
ditanyakanlah padanya "Kenapa wahai Abu Sa'id?". Beliau pun menjawab
"Sesungguhnya aku teringat akan penghuni neraka tatkala menyeru kepada
ahli surga: Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami atau rezeki apa saja yang
telah dikaruniakan Allah kepadamu (selengkapnya QS Al-A'raf 50)."
Pernahkah peristiwa tersebut terjadi pada kita?
Begitulah kehidupan
di akhirat kelak. Padahal di kehidupan dunia saat ini, para calon ahli surga lah
yang senantiasa menyeru para calon ahli neraka untuk beribadah dan taat kepada Allah. Dan perlu kita
ketahui bahwa ahli neraka itu terdiri dari tiga golongan, yaitu: munafik, kafir
dan fasik. Orang Islam dapat tergolong kedalam 'orang munafik' jika tidak mau berhukum
kepada hukum Allah. Semoga kita menjadi bagian dari para penghuni surga.
Aammiin.
Setelah ringkasan
singkat di atas, berikut adalah kajian nasehat Imam Al-Ghazali selanjutnya.
Wahai putra-putriku,
jikalau kamu merasa cukup dengan pemahaman ilmu dan kumpulan buku-buku keilmuan
semata-mata dan tidak butuh akan pengamalannya, maka sesungguhnya seruan Allah
yang disampaikan oleh malaikat (pada sepertiga malam) adalah sia-sia tanpa faedah
(Adakah orang yang meminta? Adakah orang yang memohon ampun? Adakah orang yang
memohon taubat?).
Diriwayatkan bahwasanya sekumpulan sahabat Rasulullah saw.
menyebut-nyebut Abdullah bin Umar sebagai orang yang berilmu dan berakhlak mulia.
Rasulullah saw. pun bersabda "Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah bin Umar, kalau saja ia senantiasa sholat di malam hari".
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. bersabda kepada seorang
sahabat "Wahai Fulan, janganlah kamu memperbanyak tidur di malam hari
karena sesungguhnya tidur di malam hari itu meninggalkan pelakunya dalam keadaan fakir
pada hari kiamat".
Nasehat di atas
menunjukkan keutamaan sholat di malam hari yang senantiasa di laksanakan oleh
Rasulullah saw. Seorang ulama (saya lupa nama Beliau) menyatakan bahwa tidur
selama 4 jam bagi kita dimalam hari merupakan sebuah kenikmatan dan tidur selama 5 jam merupakan sebuah kemewahan, meskipun para dokter menyarankan untuk tidur setidaknya
selama 8 jam. Jika memang demikian, kapankah kita bisa menuntut ilmu Allah
untuk bekal kehidupan dunia dan akhirat?
Wahai putra-putriku,
sesungguhnya firman Allah "Dan pada sebagian malam,lakukanlah sholat
tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu… (QS Al-Isro' 79)" adalah
sebuah perintah, "Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada
Allah) (QS Az-Zariyat 18)" adalah sebuah kesyukuran, "Dan orang yang
memohon ampunan pada waktu sebelum fajar (QS Al-Imron 17)" adalah sebuah
peringatan.
*Sholat tahajjud
merupakan sholat sunah pada malam hari yang dilaksanakan setelah terbangun dari
tidur. Jika dilaksanakan tanpa tidur terlebih dahulu maka disebut dengan sholat
malam.
Rasulullah saw.
Bersabda: terdapat tiga suara yang disukai oleh Allah, yaitu: suara ayam jantan,
suara orang yang membaca Al-Qur'an dan suara orang yang memohon ampun. Dalam
riwayat lain menambahkan suara orang yang berdo'a.
Menurut sebuah
keterangan, ayam jantan dapat melihat turunnya malikat pada sepertiga malam
untuk menyampaikan seruan yang tercantum pada ringkasan di atas. Pada saat itu berkokoklah ayam jantan. Oleh
sebab itu, beberapa Kyai sepuh memelihara ayam jantan sebagai alarm hidup untuk memberikan peringatan.
Terkait suara orang
yang berdo'a, maka janganlah berputus asa ketika do'a kita yang terus-menerus
belum juga dikabulkan oleh Allah karena sesungguhnya Allah senang mendengarkan
permintaan-permintaan dalam do'a tersebut. Oleh karena itu, kita hendaknya tidaklah berbangga ketika setiap kali berdo'a langsung terkabul. Siapa tahu do'a tersebut lekas terkabul karena memang Allah tidak senang mendengarkan permintaan-permintaan kita. Meski demikian, kita
hendaknya senantiasa berbaik sangka kepada Allah.
Sufyan Ats-Tsauri
berkata "Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi menciptakan angin yang
berhembus di waktu sebelum fajar membawa
dzikir dan permintaan ampun kepada Sang Maha Kuasa". Beliau berkata pula "Pada
permulaan malam, berserulah malaikat dari bawah 'Arsy "Ingat, berdirilah
para ahli ibadah". Maka berdirilah mereka dan menunaikan sholat sesuai
dengan kehendak Allah. Kemudian berserulah malikat pada pertengahan malam
"Ingat, berdirilah para orang yang taat". Maka berdirilah mereka dan
menunaikan sholat hingga waktu sebelum fajar. Ketika waktu sebelum fajar,
malaikat berseru "Ingat, berdirilah para orang yang memohon ampun".
Maka berdirilah mereka dan memohon ampun. Maka tatkala terbit fajar, berserulah
malaikat "Ingat, berdirilah orang yang lalai". Maka berdirilah mereka
dari alas tidur seperti orang mati yang dihidupkan dari kuburan mereka. Setelah itu tidak ada seruan lagi, karena seruan apa lagikah yang pantas untuk diberikan?
Wahai putra-putriku,
diriwayatkan oleh Luman Al-Hakim kepada putranya bahwa: "Janganlah sampai
ayam jantan itu lebih cerdas dari kamu! Ayam jantan itu berseru di waktu
sebelum fajar sedangkan kamu masih tertidur".
Sunday, June 5, 2016
1 Ramadhan 1437 H
Sebelum saya mulai ke inti pelajaran pada hari ini, saya awali dengan pembukaan dulu ya.
Seperti biasa, Ma'had Daarul Muwahhid Jakarta Barat mengkaji kitab khusus selama bulan Ramadhan yang langsung disampaikan oleh Pengasuh Ma'had, yaitu Ustadz ShoffarMawardi. Kajian ini berlangsung setiap pagi setelah menunaikan sholat Shubuh berjamaah. Pada Ramadhan kali ini, kami mengkaji Kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali. Nah, sekarang kita masuk ke pelajaran yang telah dikaji pagi hari tadi. (*semoga Allah memberikan keistiqomahan untuk bisa menuliskan rangkuman kajian Kitab Ayyuhal Walad ini selama Ramadhan. Aammiin)
Judul kitab ini bermakna 'Wahai para putra-putri'. Akan tetapi sesungguhnya makna 'walad' yang tercantum didalamnya sangatlah luas meliputi para santri, murid bahkan mahasiswa. Kitab ini berisi tentang nasehat-nasehat bagi para penuntut atau pencari ilmu supaya mereka mengetahui, mengamalkan dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Pembahasan kitab ini diawali dengan basmalah, memberikan pujian kepada Allah dan menyanjungkan sholawat kepada Rasulullah saw. Imam Al-Ghazali memuji Allah atas janji-Nya bahwa kesudahan atau akhir yang terpuji adalah untuk orang-orang yang bertaqwa. Terkait pujian, sesungguhnya pujian terbagi menjadi empat, yaitu: pujian Allah untuk Allah, pujian Allah untuk makhlu, pujian makhluk untuk Allah, dan pujian makhluk untuk makhluk. Meski demikian, inti dari beberapa pujian tersebut bermuara pada Allah swt.
Imam Al-Ghazali menyampaikan sekilas sejarah ditulisnya kitab ini. Pada dahulu kala terdapat seorang penuntut ilmu yang senantiasa melayani Syaikh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Ia selalu sibuk untuk membaca dan menghasilkan ilmu dari beliau sampai-sampai ia mengumpulkan ilmu-ilmu secara terperinci sehingga sempurnalah keutamaan-keutamaan yang ada pada dirinya. Suatu hari ia berpikir dan terlintas dalam benaknya bahwasanya ia telah membaca berbagai ilmu dan menghabiskan usianya untuk mempelajari dan mengumpulkannya dan ia pun berpikir bahwa sekarang adalah waktunya ia tahu apakah ilmu yang ia miliki bermanfaat untuk kehidupan dunia akhirat dan akan membuatnya bahagia di alam kubur kelak. Sebagaimana do'a dalam sabda Rasulullah saw. 'Ya Allah, aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Kemudian disampaikanlah perihal ini kepada Imam Al-Ghazali dengan meminta fatwa, bertanya mengenai masalah-masalah, serta meminta nasehat dan do'a. Seorang murid penuntut ilmu tersebut bermaksud supaya Imam Al-Ghazali menuliskan nasehat-nasehat yang dapat senantiasa dibawa sepanjang masa dan dapat diamalkan selama hidupnya. Maka Imam Al-hazali menuliskan jawaban-jawabannya dalam kitab ini. Allah lah Yang Maha Mengetahui.
Setelah latar belakang singkat penulisan kitab ini, Imam Al-Ghazali langsung memulai menyampaikan nasehat pada bagian selanjutnya.
Ketahuilah para putra putri dan pecinta Allah bahwa Allah memanjangkan usiamu dengan ketaatan kepada-Nya yang dengannya kamu sekalian berada di jalan para kekasih Allah. Dituliskannya kitab ini untuk tersiarnya nasehat. Jika nasehat tersebut sampai kepadamu maka apakah hal yang dapat kamu ambil dari nasehatku itu? Dan jika nasehat ini belum sampai kepadamu, maka apakah yang telah kamu hasilkan selama ini?
Wahai para putra putri, diantara nasehat Rasulullah saw. adalah:
Tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba yaitu sibuknya hamba daam hal yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya seseorang yang kelihangan satu jam dalam usianya bukan untuk ibadah, maka sungguh ia akan menyesal berkepanjangan. Dan barang siapa yang telah melampaui usia 40 tahun dan tidak dapat mengalahkan keburukan dari kebaikan maka hendaklah bersiap menuju neraka.
Ustadz Shoffar memberikan pemaparan lebih jelas bahwasanya ketika seseorang berpaling dan jauh dari Allah, bukanlah ia yang berpaling, tetapi Allah lah yang berpaling darinya. Seperti yang diceritakan bahwa ada seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di salah satu negara Timur Tengah (saya lupa namanya). Ia sama sekali belum pernah berziarah ke makam Rasulullah dan mengatakan bahwa tidak ada anjuran untuk mengunjungi makam Rasulullah. Maka Kyai Abdullah Syafei pun menyatakan bahwa bukanlah mahasiswa tersebut yang tidak mau mengunjungi, tetapi Rasulullah lah yang tidak mau dikunjungi oleh mahasiswa itu.
Selain itu, banyak orang yang diberikan hidayah untuk melakukan kebaikan dan ibadah, akan tetapi hanya sedikit yang mendapatkan taufik dari Allah sehingga dapat melaksanakannya, contohnya ketika rasa malas datang. Oleh sebab itu, hendaklah kita berusaha untuk menjemput taufik tersebut meskipun terasa berat. Marilah kita berdoa supaya kebaikan yang kita lakukan dapat mengalahkan keburukan, dan ketaatan kita dapat mengalahkan kemaksiatan yang kita perbuat. Al-fatihah.
Seperti biasa, Ma'had Daarul Muwahhid Jakarta Barat mengkaji kitab khusus selama bulan Ramadhan yang langsung disampaikan oleh Pengasuh Ma'had, yaitu Ustadz ShoffarMawardi. Kajian ini berlangsung setiap pagi setelah menunaikan sholat Shubuh berjamaah. Pada Ramadhan kali ini, kami mengkaji Kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali. Nah, sekarang kita masuk ke pelajaran yang telah dikaji pagi hari tadi. (*semoga Allah memberikan keistiqomahan untuk bisa menuliskan rangkuman kajian Kitab Ayyuhal Walad ini selama Ramadhan. Aammiin)
Judul kitab ini bermakna 'Wahai para putra-putri'. Akan tetapi sesungguhnya makna 'walad' yang tercantum didalamnya sangatlah luas meliputi para santri, murid bahkan mahasiswa. Kitab ini berisi tentang nasehat-nasehat bagi para penuntut atau pencari ilmu supaya mereka mengetahui, mengamalkan dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Pembahasan kitab ini diawali dengan basmalah, memberikan pujian kepada Allah dan menyanjungkan sholawat kepada Rasulullah saw. Imam Al-Ghazali memuji Allah atas janji-Nya bahwa kesudahan atau akhir yang terpuji adalah untuk orang-orang yang bertaqwa. Terkait pujian, sesungguhnya pujian terbagi menjadi empat, yaitu: pujian Allah untuk Allah, pujian Allah untuk makhlu, pujian makhluk untuk Allah, dan pujian makhluk untuk makhluk. Meski demikian, inti dari beberapa pujian tersebut bermuara pada Allah swt.
Imam Al-Ghazali menyampaikan sekilas sejarah ditulisnya kitab ini. Pada dahulu kala terdapat seorang penuntut ilmu yang senantiasa melayani Syaikh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Ia selalu sibuk untuk membaca dan menghasilkan ilmu dari beliau sampai-sampai ia mengumpulkan ilmu-ilmu secara terperinci sehingga sempurnalah keutamaan-keutamaan yang ada pada dirinya. Suatu hari ia berpikir dan terlintas dalam benaknya bahwasanya ia telah membaca berbagai ilmu dan menghabiskan usianya untuk mempelajari dan mengumpulkannya dan ia pun berpikir bahwa sekarang adalah waktunya ia tahu apakah ilmu yang ia miliki bermanfaat untuk kehidupan dunia akhirat dan akan membuatnya bahagia di alam kubur kelak. Sebagaimana do'a dalam sabda Rasulullah saw. 'Ya Allah, aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Kemudian disampaikanlah perihal ini kepada Imam Al-Ghazali dengan meminta fatwa, bertanya mengenai masalah-masalah, serta meminta nasehat dan do'a. Seorang murid penuntut ilmu tersebut bermaksud supaya Imam Al-Ghazali menuliskan nasehat-nasehat yang dapat senantiasa dibawa sepanjang masa dan dapat diamalkan selama hidupnya. Maka Imam Al-hazali menuliskan jawaban-jawabannya dalam kitab ini. Allah lah Yang Maha Mengetahui.
Setelah latar belakang singkat penulisan kitab ini, Imam Al-Ghazali langsung memulai menyampaikan nasehat pada bagian selanjutnya.
Ketahuilah para putra putri dan pecinta Allah bahwa Allah memanjangkan usiamu dengan ketaatan kepada-Nya yang dengannya kamu sekalian berada di jalan para kekasih Allah. Dituliskannya kitab ini untuk tersiarnya nasehat. Jika nasehat tersebut sampai kepadamu maka apakah hal yang dapat kamu ambil dari nasehatku itu? Dan jika nasehat ini belum sampai kepadamu, maka apakah yang telah kamu hasilkan selama ini?
Wahai para putra putri, diantara nasehat Rasulullah saw. adalah:
Tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba yaitu sibuknya hamba daam hal yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya seseorang yang kelihangan satu jam dalam usianya bukan untuk ibadah, maka sungguh ia akan menyesal berkepanjangan. Dan barang siapa yang telah melampaui usia 40 tahun dan tidak dapat mengalahkan keburukan dari kebaikan maka hendaklah bersiap menuju neraka.
Ustadz Shoffar memberikan pemaparan lebih jelas bahwasanya ketika seseorang berpaling dan jauh dari Allah, bukanlah ia yang berpaling, tetapi Allah lah yang berpaling darinya. Seperti yang diceritakan bahwa ada seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di salah satu negara Timur Tengah (saya lupa namanya). Ia sama sekali belum pernah berziarah ke makam Rasulullah dan mengatakan bahwa tidak ada anjuran untuk mengunjungi makam Rasulullah. Maka Kyai Abdullah Syafei pun menyatakan bahwa bukanlah mahasiswa tersebut yang tidak mau mengunjungi, tetapi Rasulullah lah yang tidak mau dikunjungi oleh mahasiswa itu.
Selain itu, banyak orang yang diberikan hidayah untuk melakukan kebaikan dan ibadah, akan tetapi hanya sedikit yang mendapatkan taufik dari Allah sehingga dapat melaksanakannya, contohnya ketika rasa malas datang. Oleh sebab itu, hendaklah kita berusaha untuk menjemput taufik tersebut meskipun terasa berat. Marilah kita berdoa supaya kebaikan yang kita lakukan dapat mengalahkan keburukan, dan ketaatan kita dapat mengalahkan kemaksiatan yang kita perbuat. Al-fatihah.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Low motivation tapi tetep jalan - Mon - Thu, 24-27 Aug 2026
Senin, 24/08 Hari ini aku awali dengan ngerjain beberapa kerjaan college buat bikin poster. Alhamdulillah kelar. Terus lanjut analisa dan nu...
-
Kajian Kitab Ayyuhal Walad karangan Imam Al-Ghazali oleh KH. Shoffar Mawardi (Pengasuh Ma'had Daarul Muwahhid) Sebelum melanjutkan ...
-
Lagi-lagi gak terlalu ingat ngapain aja, tapi intinya di rumah aja sih istirahat dan nonton Disney. Si Kieran masakin kari sayuran dan salmo...
-
Aku udah banyak lupa soal hari ini. Yang jelas, Kieran masih di sini dan kerja dari kamarku. Internetnya di rumah mati. Aku belajar di perpu...