Showing posts with label Humanistic Studies 1. Show all posts
Showing posts with label Humanistic Studies 1. Show all posts

Sunday, July 16, 2017

Partai Pembebasan Indonesia (Hizbut Tahrir Indonesia - HTI)

Beberapa waktu yang lalu, terdapat banyak sekali postingan di beranda Facebook tentang kabar (akan) dibubarkannya sebuah organisasi Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Bapak Wiranto selaku Menkopolhukam (Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan) yang kemudian memancing banyak sekali komentar dari masyarakat di Indonesia, khususnya para teman di Facebook. Komentar di Facebook datang dari para guru, dosen, mahasiswa, karyawan dan para aktifis di beberapa komunitas sosial. Beberapa diantaranya  mendukung pembubaran tersebut dan yang lainnya menolak.

Penolakan dibubarkannya Partai Pembebasan ini kebanyakan berasal dari teman-teman santri di salah satu pesantren kehidupan di Jakarta. Hashtag berupa #kamibersamaHTI pun digunakan di berbagai media sosial bagi mereka yang ingin menyerukan penolakan ini. Beberapa pernyataan yang membarengi hashtag tersebut adalah tentang kemuliaan berjihad menegakkan hukum yang disyari'atkan Allah dalam misis HTI. Teman-teman santri di pesantren ini aktif terlibat dalam beberapa kegiatan HTI. Di sisi lain, beberapa guru dan dosen yang berlatar belakang pendidikan pesantren dan kiprah mereka dalam dakwah, secara implisit menyatakan dukungan atas pembubaran partai politik ini.

Seperti halnya energi positif dan negatif, magnet U dan S, hal ini pun pasti tidak terlepas dari perbedaan pendapat. Tampaknya pun sekarang waktunya yang tepat untuk berbagai sedikit mengenai pengalaman pribadi saya karena pihak-pihak yang mungkin sempat emosional pasti sudah redam dan mulai sibuk dengan perkara lain. Meskipun tidak banyak yang saya ketahui tentang HTI, akan tetapi saya harap pengalaman pribadi yang sedikit ini dapat memberikan sedikit gambaran bagi siapapun yang belum pernah mengenal organisasi Islam ini.

Saya mendengar nama HTI sudah sejak lama. Sepertinya sejak ketika saya belajar di universitas beberapa tahun lalu. Atau mungkin malah lebih lama dari itu, ketika duduk di bangku Sekolah Menengan Atas (SMA).  Meski demikian, saya hanya mendengar nama saja, tidak lebih dari itu. Setelah saya menyelesaikan pendidikan S1, saya berkeinginan untuk mencicipi hidup di pesantren yang dulu sempat tertunda. Saya pun mencari informasi tentang pesantren di Jakarta yang terbuka untuk santri dewasa. Berbagai informasi saya dapatkan dari Google, beberapa teman di Jakarta, brosur, dan juga Alm. Bapak saya. Akhirnya, saya menemukan sebuah pesantren di daerah Jakarta barat. Informasi mengenai pesantren ini diawali ketika saya menghadiri sebuah kajian di masjid dekat Pasar Santa yang dibawakan oleh Pengasuh pesantren tersebut. Waktu itu beliau membawakan kajian Kitab Al-Hikam. Saya pun sempat mengajukan sebuah pertanyaan. Entah mengapa selama kajian berlangsung, saya merasa adanya kecocokan pikiran dan rasa. Saya tidak langsung menemui beliau, tapi saya Googling nama pada logo pesantren yang ada pada pojok kiri atas lembaran ringkasan materi yang dibagikan pada saat itu.

Saya pun akhirnya memutuskan untuk mulai menimba ilmu di pesantren ini. Seperti kata pepatah "Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijinjing", saya mulai beradaptasi dengan beberapa peraturan dan kebijakan yang berlaku di pesantren. Untuk mempersingkat, saya hanya akan membahas beberapa hal yang menurut saya mencirikan nilai-nilai yang diyakini teman-teman (terutama para santriwati) sebagai pejuang HTI.

Jilbab dan kerudung
Seluruh santriwati dianjurkan (dengan kata lain diwajibkan) untuk mengenakan kerudung dan jilbab ketika berada di luar rumah atau gedung pondok santriwati. Kerudung disini bermakna kain untuk yang menutup kepala yang menjulur hingga menutup dada. Tapi, sebagian besar santriwati menggunakannya hingga meutup bagian pinggul atau bahkan sampai lutut. Sedangkan jilbab merupakan adalah pakaian yang menjulur menutup dada hingga kaki, atau pada umumnya dikenal dengan 'gamis'. Selain itu, ditambahkan kaos kaki untuk menutup kaki dan penutup pergelangan jika lengan baju longgar karena dikhawatirkan bisa tersingkap ketika beraktifitas. Santriwati tidak diperkenankan atau mendapat teguran jika mengenakan pakaian potongan (atasan dan bawahan). Berikut ini adalah beberapa dalil mengenai anjuran untuk mengenakan jilbab dan kerudung. Klik disini.

Kitab-kitab Hizbut Tahrir
Selain mempelajari beberapa kitab kuning dan juga tafsir, ada beberapa kitab yang memang diterbitkan oleh HTI karangan Taqiyyuddin An-abhani. Terdapat ciri khas pada kitab-kitab ini, yaitu bersampul warna putih dengan tulisan berwarna merah dan hitam. Terdapat dua versi kitab, yaitu dalam Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia. Di antara beberapa judul kitab yang dipelajari ialah Mafahim Hizbut Tahrir (Pemahaman Hizbut Tahrir), Min Muqowwimat An-Nafsiyah Al-Islamiyah (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah), An-Nidzom Al-Ijtima'i (Sistem Pergaulan dalam Islam). Sebagai rujukan, berikut ini adalah sebuah blog yang memaparkan review atau ulasan kitab-kitab HTI. Klik disini.

Halaqah
Sekali dalam seminggu para santri dijadwalkan untuk mengikuti Halaqah. Secara Bahasa, Halaqah bermakna lingkaran. Dalam hal ini, halaqah merupakan sebuah majelis yang terdiri dari beberapa orang dengan duduk melingkar atau dalam lingkaran guna membahas materi tertentu dari kitab atau buku. Terdapat seorang pemateri atau Murabbi pada masing-masing Halaqah. Buku yang biasanya dikaji bagi para pemula berjudul Materi Dasar Islam: Islam Mulai Akar Hingga Daunnya karangan
Arief B. Iskandar. Jika buku tersebut sudah selesai, maka dilanjutkan dengan mempelajari kitab berikutnya dengan Murabbi berbeda yang tingkat keilmuannya dan pemahamannya dianggap lebih dari Murabbi sebelumnya. Tidak hanya HTI yang mempunyai majelis seperti ini, sebuah ormas lainnya pun melaksanakannya dengan sebutan Liqo'. Halaqah inilah media dakwah HTI dalam merekrut para kadernya. Mengenai dakwah HTI, klik disini.

Aksi
Sebagai bagian dari pejuang HTI, teman-teman berpartisipasi aktif dalam berbagai aksi, terutama sederetan aksi bela islam pada tahun lalu. Bukan demonstrasi.Sebenarnya beberapa aksi tersebut bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh teman-teman HTI, jauh sebelumnya mereka beberapa kali turun ke jalan, sebagian besar di sekitaran Monas dan Bundaran HI. Dalam melaksanakan aksi, mereka biasanya membawa bendera Al-Liwa dan Ar-Royah bertuliskan "Laa ilaaha illallah muhammadar rasulullah". Para santriwati biasanya berseragam dengan memakai kerudung putih dan jilbab hitam.

Buletin Al-Islam
Setiap bulan, sebuah buletin bernama Al-Islam berupa satu lembar dengan empat halaman dibagikan bagi seluruh santri. Tidak jarang masing-masing santri diberikan lebih dari satu lembar supaya bisa disebarluaskan. Secara umum, buletin ini membahas beberapa isu yang sedang populer dan kemudian dikaitkan dengan apa yang tercantum dalam Al-Qur'an. Karena pencantuman tulisan ayat Al-Qur'an didalamnya, para santri dilarang untuk membuangnya sembarangan. Kumpulan Al-Wa'ie harus disimpan dengan baik. Buletin ini merupakan satu diantara berbagai media lainnya untuk meng-update informasi bagi para kader HTI.

Tentu masih ada banyak hal lagi yang belum diuraikan dalam tulisan diatas. Oleh sebab itu, marilah kita coba untuk saling mengenal satu dengan yang lain sehingga kita bisa saling memahami dan lebih mempererat kasih saying sebagai sesama Muslim dan juga sesama manusia.










Thursday, May 11, 2017

Catatan 10/05/2017 (Proyeksi Peristiwa Dipenjarakannya Pak Ahok dalam Kacamataku)

Kemarin, aku mendengar kabar bahwa Bapak Ahok telah divonis hukuman penjara selama dua taahun terkait penistaan agama yang telah dilakukannya di pidato beberapa waktu yang lalu di Kepulauan Seribu. Selama ini aku selalu mengamati pendapat teman-temanku dan juga beberapa guru-guruku di beranda facebook. Lagi-lagi, ada dua kelompok yang mengungkapkan pendapatnya yang berbeda. Entah mana yang bisa aku golongkan kanan ataupun kiri, mana yang hitam ataupun yang putih. Mungkin aku terlalu cemen untuk tidak meletakkan diriku di salah satu keduanya. Aku lebih memilih untuk membaca, mengamati dan mempelajari bagaimana keduanya merangkai kerangka pikiran masing-masing sehingga pada akhirnya muncullah kesimpulan yang diungkapkan setiap saat di Facebook.

Jujur, aku sedih ketika para umat muslim mengkoar-koarkan kasus penistaan yang telah dilakukan oleh Pak Ahok yang menurut pendapatku pribadi, apa yang dikatakan beliau saat itu belum tentu merupakan sebuah penistaan. Yang menariknya, malah ungkapkan Pak Ahok membuat para umat muslim untuk mempelajari lagi hal yang telah disampaikan. Ngomong-ngomong, aku jadi tergelitik untuk mencari tahu di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) apa sih itu 'menistakan'? Apa sih itu 'penistaan'? Dan apa sih yang dimaksud dengan 'penista'? (karena keterbatasan koneksi saat ini, jadi aku belum nemu juga).

Padahal nyatanya, di beberapa kesempatan majelis ta'lim ataupun tabligh akbar yang pernah aku hadiri, aku tidak jarang mendengar si Da'i atau penceramah mengungkapkan hal-hal yang bias dikategorikan 'menistakan' keyakinan agama lain ataupun isi dari kitab suci agama lain secara terang-terangan. Tidak ada yang menuntut. Masih saja, buatku pribadi memang sulit untuk mengambil kesimpulan apakah pernyataan beliau itu memang berniat 'menistakan'  atau tidak. Tapi yang jelas, beliau sudah meminta maaf. Selebihnya, bukankah Allah yang paling tahu?

Saat ini, aku heran dengan saudara-saudariku seiman, bagaimana bisa mereka secara 100%, atau bahkan 1000% menutup pandangannya untuk melihat dan mengkaji kembali apa yang tejadi dengan rasa kemanusiawian. Bukankah muslim pun perlu memanusiakan manusia? Sayangnya, sepertinya mereka sudah mentok pada apa yang dipercayainya  yang tertulis di Al-Quran dan ditambah kan lagi  apa yang digembor-gemborkan oleh masing-masing pemimpin pengajian mereka.

Aku sedih, kenapa Islam yang aku pahami penuh dengan kasih sayang bisa sejahat ini kepada seseorang? Apalagi kepada seseorang yang kita semua bisa tahu telah melakukan banyak kontribusi terhadap negara. Karena beliau orang Cina? Karena beliau bukan muslim? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku akan mendapatkan perlakuan yang sama oleh golongan yang anti Islam (karena aku orang muslim) atau anti Jawa (karena aku keturunan jawa) atau anti - Indonesia (karena aku orang Indonesia). Sederhananya, jika aku berada di posisi beliau, mungkin aku sudah kehilangan banyak energy, harapan, semangat dan akhirnya menyerah.

Tapi apalah arti semua tulisanku diatas ini, masih ada banyak ilmu yang aku belum tahu. Tapi setidaknya, kata hatiku mengatakan seharusnya semua ini bisa lebih baik. Allahu a'lam bis showab.
___________

Anyway, di detik terakhir aku membuat catatan di atas, aku menemukan sebuah ungkapan salah satu dosenku dan aku pun setuju bahwa yang menyayangkan dan yang menyedihkan saat ini bukanlah agama yang mana, tetapi para pemeluk agama itu yang memilih untuk bersikap sedemikian rupa terhadap pemeluk agama lain.

Thursday, December 8, 2011

God


Yes, I do believe. Itulah jawaban yang akan saya lontarkan jika ada yang bertanya kepercayaan saya akan keberadaaan tuhan. Dia-lah Tuhan berkekuatan super dahsyat, Maha Pengatur segala di balik kompleksitas empiris dunia ini. Maha Pengatur rotasi dan revolusi bumi ini hingga anak semut yang kelaparan. Terdapat sebuah teori yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang berada di dunia ini bergerak, berjalan dan berkembang menurut kehendak dan kekuatannya sendiri, saya tidak percaya. Jika hal tersebut benar, mengapa hal-hal buruk di dunia ini terjadi. Bukankah segala sesuatu apapun itu menginginkan kebaikan, kedamaian dan ketentraman hidup. Hal tersebut juga masih menimbulkan pertanyaan mengapa harus ada keterkaitan antara suatu hal dengan yang lainnya seperti manusia membutuhkan air, tumbuhan maupun hewan untuk bertahan hidup. Padahal, bukankah segalanya akan berjalan dengan baik tanpa saling mengganggu satu sama lain. Itulah campur tangan dan kehendak Tuhan, Maha Penguasa.

Wednesday, December 7, 2011

Mereka (Agama dan Filsafat) Berbeda


Kata “agama” memiliki definisi yang sangat beragam. Kata agama yang disebut juga dengan “religion” berasal dari bahasa Latin yang berarti “keyakinan yang baik”, “ritual”. Manusia beragama untuk memiliki panduan nilai-nilai moral dalam menghadapi kehidupan dan kesengsaraan untuk mencapai kebebasan/surga. Nilai kebenaran dalam sebuah agama hanya terbatas pada teks yang menerangkan tentang sejarah dan nilai-nilai kebenaran akhir mengenai agama tersebut. Nilai kebenaran akhir itu juga didukung dengan adanya para nabi sebagai utusan Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat.

“Lari Dari Blora Film”: The New Samin in the New Era


Before watching the film “Lari dari Bora”, I thought that I would not change anything of Samin Community. I would let them live in their way, no education and no law. I could say that, because they are happy and fine in their live until now. “Harmony without the law” is in their life. Yes, there is no law, but still there are village and sub district managements of government which keep control them as a part f this country. I see that Samin is not a religion, ideology or faith. It tends to be a regeneration inheritance.

Thursday, November 3, 2011

SSE, My Friends and I


The word “others” can be defined in many ways. Here I define “others” as everyone around me who has different identity. I am going to share how I toward others (the diversity around me). I do not have to and should not be confused how toward others when I am in homogeny environment. I just could have a look into myself how toward well. It is different when I live in heterogenic environment (culture, ethics, religion). It is not enough to just have a look into my own. I have to overcome everything from some perspective. I have been living for 19 years. It means I have already found many characteristic of anyone around me.  It will be so wide and far if I tell generally, so I just want to focus on my attitude, interaction and communication during I am studying in my campus (Sampoerna School f Education).
Firstly I will tell my personal identity to show you my background and perception or way of thinking toward the diversity. I am a Muslimah. My family is religious family. I had been in Islamic school since I was in kindergarten (TK Islam) to senior high school (Madrasah Aliyah). I used to breathe the Islamic air. I already know how to behave when I am among Islamic environment, because I am accustomed to be there.
Secondly is the point of this writing. It is “How I toward others in diversity”. Diversity is not only in religion. Culture is one of diversity also. In SSE, I find many cultures which I never found before. There are some friends who come from Papua, Medan, Bali, Kalimantan and NTT (even Jakarta) and of course they come with their own culture.  I am already familiar with Sundanese and Javanese, but not for those all I mentioned. Before I come to Jakarta for studying here, I had some assumption about what I would meet and find in my new campus. I thought there would be many friends who are from overseas (out of Java). These were my thinking at that time:

Thursday, October 6, 2011

Humanistic Studies 1:These all are about My Name


My name is SITI FITRIAH. Those words are taken from Arabic which always indicates to Muslim. Siti is same as “syayidati”. Siti or syayidati means “princess”.  Syayidati is so complicated to be spoken by Javanese, so Javanese say “siti”. In Javanese, siti also has own meaning. It is “land”, because basically human is created from the land. Most of women who have “siti” as their name, they must be Muslim. Besides that, it also indicates someone as a Javanese. The word “fitriah” of my name means “pure or holy”. My parents give “fitriah” as my name because according to their story I was born in Idul Fitri air.

Thursday, September 29, 2011

Individual Essay 1: Humanistic Studies 1 "Yours will never be ours"

             Indonesia is unique country. One of the uniqueness is that there are some religions, at least 5 religions. Multiculturalism is a hot issue nowadays. Toleration and respect are very important. Without any toleration and respect, Indonesian society will be apart into each community. It will not be unity.  
“Talking about religion is a sensitive thing” said Mr. Hatim in last and first humanistic studies I class meeting. It is getting more sensitive when we talk about this in various religions around. As I ever read from a book that when someone tries coming into some religion in order to know how other religion’s mindset and understanding is, finally she or he will come to his or her original belief. As I know that the lecturer of this subject is Moslem, I am a bit afraid and worried that Islam will dominate this class.  Actually, the class consists of two and it seems uncomfortable to dominate something of one side. In sharing opinions, there will be most of Muslims who share because they feel having more freedom. In the other side, others will just be good listeners of this, they may feel being discriminated. I think the class is incomplete, because it just consists of two whereas at least there are five.  Finally, it will be Moslem class discussion forum. Based on that condition, I hope that this class will be okay over time.
In other universities especially for religious universities, they talk about religion in a good things for their selves and bad things for others. It causes religion disintegration. They will say that the community and they are the most correct. In Humanistic Study 1, we will not just talk about a religion and deny others, but here we will open our mind to have one way in diversity.
I said “yours will never be ours” as my reflection title. Why do I say that? Because unity life in diversity it does not mean that I will have no a guide or religion in my life and join in every single religion as a part of them. Everyone must have religion to be his or her guidance of life. After that, we keep our belief, tolerate and respect others. Are we still different? Yes, absolutely. Theirs will never be ours and ours forever will be ours.
How far my thinking is of this lesson! Hehehehe
Yes, those are my reflection of this lesson in the beginning. I think in those sentences I already forget that in this lesson will not just talk about religion but also others. I really pay attention to religion topic because I love talking about this. I hope there will be no internal attack next time in this lesson. The last is I hope I will capable to do every single assignment well. 

Kena muscle spasm - Tue - Sun, 28 Jul - 2 Aug 2026

Tulisannya langsung dirapel karena ketunda banyak banget. Hari Selasa seperti biasa garap tulisan dan analisa data. Oya, sorenya juga aku ke...